Hayuning Ratri Hapsari | Rana Fayola R.
Ilustrasi AI jajan, coping mechanism sebagian Gen Z saat sedang merasa stress atau tertekan dengan berbagai tuntutan kehidupan. (Gemini AI)
Rana Fayola R.

Di tengah hiruk-pikuk tuntutan kehidupan modern, tidak sedikit Gen Z yang menjadikan aktivitas jajan sebagai pelarian utama saat merasa stres, bosan, atau tertekan. Fenomena ini pun sering menjadi perbincangan hangat, apakah perilaku jajan sebagai coping mechanism bagi Gen Z ini sebenarnya aman diteruskan atau justru menyimpan risiko jangka panjang yang perlu diwaspadai?

Bagi banyak orang, camilan bukan sekadar pemuas lapar, melainkan 'hadiah kecil' yang mampu memberikan kenyamanan instan di tengah padatnya aktivitas.

Sebenarnya, wajar jika otak kita mendambakan sesuatu yang memberikan rasa lega secara cepat ketika sedang berada di bawah tekanan. Saat kita merasa lelah secara mental, makanan enak—terutama yang manis atau gurih—sering kali dianggap sebagai mood booster yang manjur.

Efek emosional dari makanan ini terasa hampir seketika, sehingga jajan sering kali menjadi jalan pintas untuk mendapatkan ketenangan, meskipun perut sebenarnya tidak dalam keadaan lapar.

Bagi generasi yang hidup berdampingan dengan ekspektasi produktivitas tinggi, beban akademik, hingga tekanan di media sosial, camilan sering kali berfungsi sebagai pendamping setia saat jeda beraktivitas.

Mengonsumsi makanan favorit sering dipandang sebagai bentuk self-reward sederhana setelah melewati hari yang melelahkan. Hal inilah yang membuat kebiasaan jajan terasa begitu efektif bagi banyak kalangan Gen Z saat ini.

Efektivitas dari metode tersebut memang tidak bisa dipungkiri. Selain karena aksesnya yang sangat mudah melalui layanan pesan-antar, camilan menawarkan distraksi singkat yang mengalihkan fokus dari masalah utama ke sensasi rasa, aroma, dan tekstur makanan.

Ada pergeseran fokus yang membuat pikiran merasa lebih ringan, meski hanya untuk beberapa saat.
Namun, di balik kenyamanan instan tersebut, tentu saja terdapat risiko yang mengintai. Jika pola ini dilakukan secara terus-menerus tanpa kontrol, jajan bisa berubah menjadi kebiasaan pelarian yang kurang sehat.

Menggunakan makanan untuk menutupi beban stres secara kronis dikhawatirkan akan berdampak buruk pada pola makan, kesehatan fisik, hingga stabilitas emosional seseorang.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menyadari bahwa jajan saat stres sebenarnya diperbolehkan, asalkan kita tetap memiliki batasan yang jelas. Inti dari permasalahan bukan terletak pada makanannya, melainkan pada bagaimana kita memosisikan kebiasaan tersebut agar tidak menjadi mekanisme utama dalam menghadapi masalah kehidupan.

Menakar Batas: Kapan Harus Lanjut dan Kapan Harus Berhenti?

Sebuah kebiasaan akan menjadi worth it jika digunakan sebagai penolong sementara, bukan sebagai fondasi utama dalam memecahkan masalah. Sesekali membeli makanan enak sebagai reward setelah hari yang berat adalah hal yang sangat manusiawi.

Namun, saat jajan mulai menjadi satu-satunya pelarian setiap kali kamu merasa sedih atau bosan, di situlah sinyal bahaya mulai muncul.

Tanda-tanda kebiasaan ini sudah mulai tidak sehat bisa dikenali dengan mudah. Apakah jajan telah berubah menjadi reaksi otomatis setiap kali emosi negatif datang? Atau, apakah kamu justru merasa bersalah, menyesal, dan semakin stres setelah memakannya? Jika jawabannya iya, ini adalah saat yang tepat untuk mengevaluasi kembali perilaku tersebut.

Dampak nyata dari kebiasaan yang tidak terkontrol juga bisa dirasakan secara langsung, mulai dari kondisi keuangan yang boros, berat badan yang tidak stabil, hingga pola makan yang berantakan. Jika kamu merasa bahwa yang kamu cari sebenarnya bukanlah makanan, melainkan upaya melarikan diri dari emosi yang belum tuntas, maka kamu perlu waspada.

Cara paling sederhana untuk mengetahuinya adalah dengan bertanya pada diri sendiri sebelum memesan makanan: "Apakah aku benar-benar lapar, atau aku hanya sedang lelah dan butuh pelarian?". Jika kamu menyadari bahwa dorongan tersebut lebih didasari oleh faktor emosional, cobalah untuk mengganti kebiasaan tersebut dengan alternatif yang lebih konstruktif.

Alih-alih langsung beralih ke aplikasi pesan-antar, cobalah untuk memberi jeda selama lima hingga sepuluh menit. Kamu bisa mencoba minum segelas air atau teh hangat, melakukan peregangan ringan, atau sekadar beristirahat sejenak untuk menenangkan saraf yang tegang.

Kadang kala, tubuh hanya butuh rehat sejenak, bukan asupan kalori berlebih. Strategi lain yang bisa dicoba adalah mengalihkan perhatian ke hobi yang menenangkan, seperti mendengarkan musik, membaca, atau melakukan journaling.

Berbagi cerita dengan teman atau orang yang dipercaya juga sering kali jauh lebih efektif dalam memberikan rasa nyaman daripada sekadar camilan.
Selain itu, bijak dalam mengelola lingkungan rumah bisa sangat membantu.

Jangan menyimpan terlalu banyak stok camilan di tempat yang mudah dijangkau jika kamu sadar sedang berada dalam fase rentan emotional eating. Kamu juga bisa menyiapkan camilan yang lebih sehat dalam porsi kecil sebagai cadangan jika rasa lapar benar-benar muncul.

Pada akhirnya, jajan saat stres bukanlah sebuah dosa, namun harus tetap ditempatkan sebagai pendukung, bukan pegangan utama. Dengan menerapkan rumus jeda dan aktivitas pengganti, kamu tidak harus berhenti secara total, melainkan secara bertahap belajar untuk merespons emosi dengan cara yang lebih positif bagi kesehatan fisik dan mental.