Ada satu pola yang belakangan ini sulit saya abaikan setiap kali mendengarkan pidato Presiden Prabowo Subianto.
Apa pun acaranya, mulai dari forum ekonomi, rapat dengan kepala daerah, sidang kenegaraan, hingga peringatan Hari Bhayangkara, selalu ada ruang yang disediakan untuk membahas Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pola itu kembali terlihat dalam pidato Prabowo pada peringatan HUT Bhayangkara ke-80 pada Rabu (1/7/2026). Di tengah pembahasan mengenai peran Polri dalam menjaga keamanan dan melayani masyarakat, Prabowo menyempatkan diri mengapresiasi keterlibatan kepolisian dalam mendukung program MBG melalui pembangunan lebih dari 1.000 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Momen ini membuat saya kembali menyadari bahwa narasi MBG seolah selalu mendapat panggung, bahkan dalam acara yang tema utamanya jauh dari urusan gizi atau pendidikan.
Semakin sering saya mengikuti pidato-pidato Prabowo, semakin jelas pula pola yang terbentuk. MBG tampaknya berperan lebih dari sekadar program unggulan pemerintah.
Saya jadi penasaran, apakah pengulangan ini sekadar kebiasaan berpidato, atau memang bagian dari strategi komunikasi politik yang sengaja dirancang agar satu program ini terus melekat dalam ingatan masyarakat?
Bagi Prabowo, MBG Lebih dari Sekadar Program Makan Gratis
Kalau diperhatikan, Prabowo sebenarnya jarang membahas MBG hanya sebatas soal makanan. Ia hampir tidak pernah berhenti pada penjelasan mengenai menu, distribusi, atau teknis pelaksanaan program.
Dalam berbagai pidatonya, MBG digambarkan sebagai investasi untuk menciptakan generasi yang sehat, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, menekan angka stunting, hingga menjadi fondasi menuju Indonesia sebagai negara maju.
Inilah yang membuat MBG memiliki posisi berbeda dibandingkan program pemerintah lainnya. Ketika pemerintah berbicara soal pertumbuhan ekonomi, MBG ikut disebut sebagai investasi SDM. Saat membahas ketahanan pangan, MBG kembali dikaitkan dengan masa depan anak-anak Indonesia.
Bahkan ketika berbicara di hadapan aparat kepolisian, program ini tetap mendapat ruang sebagai bagian dari pengabdian institusi Polri kepada masyarakat.
Menurut saya, cara seperti ini menunjukkan bahwa MBG sedang diposisikan bukan hanya sebagai kebijakan, tetapi sebagai simbol pemerintahan Prabowo.
Pengulangan yang Tampaknya Bukan Sebuah Kebetulan
Dalam dunia komunikasi politik, pengulangan bukanlah sesuatu yang baru. Sebuah pesan yang ingin melekat di benak publik biasanya tidak cukup disampaikan sekali atau dua kali.
Pesan itu akan terus diulang di berbagai kesempatan hingga akhirnya menjadi hal pertama yang diingat masyarakat ketika menyebut seorang pemimpin.
Saya melihat pola tersebut dalam pidato-pidato Prabowo. Apa pun panggungnya, selalu ada upaya untuk menghubungkan pembahasan dengan MBG.
Hal ini membuat saya berpikir bahwa pengulangan tersebut kemungkinan bukan sekadar spontanitas, melainkan bagian dari strategi komunikasi.
Di sisi lain, menariknya pola ini justru muncul ketika MBG masih menghadapi berbagai tantangan. Program tersebut masih menuai kritik, mulai dari persoalan anggaran yang besar, kesiapan infrastruktur, distribusi makanan, hingga beberapa kasus keracunan yang mencuat di lapangan.
Dalam kondisi seperti itu, banyak orang mungkin berharap pemerintah lebih sering membahas evaluasi dan penyempurnaan pelaksanaan program.
Makan Bergizi Gratis: Satu Program, Seribu Panggung
Menurut saya, MBG kini sudah berkembang menjadi lebih dari sekadar program makan bergizi. Dalam pidato Prabowo, program ini seakan menjadi benang merah yang bisa disambungkan ke berbagai topik.
Apa pun pembahasannya, mulai dari ekonomi, pertanian, hingga keamanan, selalu ada cara untuk mengaitkannya dengan MBG.
Di sisi lain, ada konsekuensi dari terus mengulang narasi yang sama. Semakin sering MBG dibahas, semakin besar pula harapan masyarakat terhadap hasil yang bisa dirasakan.
Pak Prabowo, Indonesia sedang menghadapi begitu banyak persoalan. Rasanya sayang jika hampir setiap pidato kembali membahas soal makan. Bagaimanapun juga, ini pidato kenegaraan, bukan festival kuliner.
Baca Juga
-
Ulasan Uncle Samsik: Potret Korea Selatan di Ambang Krisis Politik 1960
-
Paradoks Stockdale: Cara Jaga Kewarasan di Negara yang Penuh Kejutan
-
Prabowo Bangga Polri Kelola 1.000 SPPG: Ke Mana Arah Peran Kepolisian?
-
Ulasan CEO-dol Mart: Aksi Kocak Lima Mantan Idol Mengelola Supermarket
-
Segelas Es Kopi dan Stigma Boros yang Melekat pada Anak Muda
Artikel Terkait
-
Momen Hangat di Istana, Presiden Belarus Hadiahi Prabowo Pena Emas
-
Skandal Korupsi MBG: Kejagung Ungkap Keterlibatan Kolonel TNI Aktif dalam Proyek Motor BGN
-
Main Proyek Ompreng MBG, Brigjen Lalu Muhammad Iwan Mahardan Ditahan Kejagung Terkait Korupsi BGN!
-
Indonesia-Belarus Luncurkan Roadmap Kerja Sama Bilateral, Fokus Pangan dan Energi
-
Kader Gerindra Jadi Tersangka Suap Jabatan, Partai Serahkan Kasus ke KPK
Kolom
-
Media Sosial vs Real Life: Hidup Sempurna di Feed, Berantakan di Dunia Nyata
-
Taruna Akmil Latih Sekolah Rakyat: Haruskah Militer Masuk Ranah Pendidikan?
-
Paspor Lebanon Gianni Infantino: Saat Politik Dilarang di Lapangan, Tapi Dihalalkan di Kursi VVIP
-
Ketika Piala Dunia Bikin Patah Hati: Tips Bangkit Setelah Tim Favorit Gugur
-
Dikelilingi Banyak Orang, Tapi Tak Punya Tempat Bercerita? Kamu Tidak Sendirian
Terkini
-
Ada Jakarta! T.O.P Rilis Jadwal Tur Fan Meeting Asia, T.O.P PRE-STUDIO 2026
-
Lompatan Suporter Meksiko saat Lawan Ekuador Picu Getaran Mirip Gempa
-
Adu Domba Digital Borneo: Sisi Lain Hoaks Hubungan RI-Malaysia
-
4 Moisturizer Ampuh Atasi Kulit Kering Sekaligus Kusam tanpa Pori Tersumbat
-
Hilangnya Habitat, Kematian Indro, dan Masa Depan Gajah Sumatera yang Terancam