Hayuning Ratri Hapsari | Oktavia Ningrum
Ilustrasi Sepak Bola (Unsplash/@emmmmaaaa)
Oktavia Ningrum

Piala AFF yang kini bernama ASEAN Championship, pertama kali digelar pada 1996. Hampir tiga dekade berlalu, Indonesia masih belum pernah mengangkat trofi juara. Enam kali mencapai final, enam kali pula gagal menjadi kampiun. Rekor itu bukan lagi sekadar nasib buruk. Ia sudah menjadi pola.

Pada era Shin Tae-yong, Indonesia kembali memiliki alasan untuk optimistis. Tim berkembang, pemain-pemain muda mendapatkan panggung, dan kualitas skuad meningkat. Namun tiga keikutsertaan di bawah STY juga tidak menghasilkan gelar AFF.

Pada edisi 2024, alasan yang dikemukakan memang masuk akal: Indonesia membawa banyak pemain muda karena agenda tim nasional lebih diarahkan pada kompetisi dan kualifikasi yang dianggap lebih penting. Artinya, kegagalan di AFF ketika itu masih dapat ditempatkan dalam kerangka pembangunan jangka panjang.

Tetapi pada 2026, pertanyaannya mulai berubah.

Jika proyek peningkatan kualitas tim nasional sudah berjalan selama bertahun-tahun, jika investasi terhadap pemain keturunan dan naturalisasi terus dilakukan, jika kualitas individu skuad dianggap semakin tinggi, standar ekspektasinya juga seharusnya ikut naik.

Naturalisasi bukan masalah pada dirinya sendiri. Pemain naturalisasi dapat mempercepat peningkatan kualitas tim apabila proses rekrutmen dilakukan secara strategis dan mereka benar-benar terintegrasi ke dalam sistem permainan.

Namun ada satu prinsip sederhana dalam olahraga:

Semakin besar investasi dan semakin tinggi kualitas sumber daya, semakin sulit pula alasan untuk terus menjelaskan kegagalan sebagai sekadar “proses”.

Kata proses memang penting. Tetapi proses harus memiliki indikator kemajuan.

Kalau setelah bertahun-tahun kita masih menggunakan kata “proses” untuk menjelaskan kegagalan yang sama, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya. Apakah prosesnya memang berjalan, atau kita hanya terus mengulang proses yang keliru?

Kekalahan 0–3 dari Vietnam di fase grup ASEAN Championship 2026 menjadi alarm keras. Indonesia memang masih memiliki peluang ketika pertandingan tersebut berlangsung. Tetapi hasil akhirnya jauh lebih buruk: Indonesia kemudian tersingkir di fase grup setelah hanya bermain imbang 1–1 melawan Singapura.

Yang perlu dipersoalkan bukan semata-mata skor 0–3.

Dalam sepak bola, kalah adalah hal biasa.

Yang tidak biasa adalah ketika sebuah tim dengan ambisi besar, sumber daya yang semakin besar, dan skuad yang semakin mahal terus menghasilkan pertanyaan yang sama: sebenarnya kita sedang membangun apa?

Naturalisasi tidak otomatis menghasilkan organisasi permainan.

Pemain berkualitas tidak otomatis menghasilkan tim berkualitas.

Dan kumpulan pemain bagus tidak otomatis menjadi kesebelasan yang bagus.

Di situlah peran pelatih, federasi, dan sistem pembinaan menjadi sangat penting. Sepak bola bukan permainan sebelas individu terbaik. Ia adalah permainan sebelas pemain yang paling mampu bekerja dalam satu sistem.

Karena itu, evaluasi tidak boleh berhenti pada siapa yang bermain dan siapa yang tidak dipanggil. Kita perlu mengevaluasi kualitas permainan: bagaimana tim membangun serangan, bagaimana transisi dilakukan, bagaimana lini tengah mengontrol pertandingan, bagaimana pertahanan menghadapi tekanan, dan apakah pemain memiliki pola yang jelas ketika rencana A gagal.

Sebab kalau strategi hanya bergantung pada kualitas individu, kita akan selalu kesulitan ketika berhadapan dengan lawan yang memiliki organisasi permainan lebih matang.

Dan Vietnam adalah contoh yang tepat.

Ironisnya, Indonesia pernah mengalahkan Vietnam dua kali dalam Kualifikasi Piala Dunia 2026 pada Maret 2024, masing-masing 1–0 dan 3–0. Dua tahun kemudian, situasinya berbalik: Indonesia dihantam 0–3.

Itu menunjukkan satu hal penting: sepak bola tidak mengenal status permanen.

Hari ini kita bisa unggul. Besok lawan bisa berkembang dan meninggalkan kita.

Karena itu, target tidak boleh hanya lolos Piala Dunia, naik ranking, atau membangun generasi. Semua itu penting. Tetapi tim nasional juga membutuhkan kemenangan konkret untuk menguji apakah pembangunan tersebut benar-benar menghasilkan.

AFF memang bukan Piala Dunia.

Bukan pula Piala Asia.

Tetapi justru karena level kompetisinya masih Asia Tenggara, kegagalan berulang harus menjadi bahan evaluasi serius jika Indonesia ingin berbicara lebih jauh di Asia.

Kita tidak bisa terus mengatakan ingin bersaing dengan Jepang, Korea Selatan, Iran, atau Australia, sementara untuk menjadi juara Asia Tenggara saja kita belum mampu.

Kalau bukan sekarang, kapan?

Kalau setelah investasi besar, naturalisasi, pergantian pemain, pergantian pelatih, pembangunan sistem, dan bertahun-tahun proses kita masih belum mampu menjadi juara ASEAN, publik berhak meminta penjelasan yang lebih substantif daripada sekadar “sabar, ini proses”.

Proses harus menghasilkan kemajuan. Strategi harus menghasilkan perubahan. Dan investasi pada akhirnya harus menghasilkan prestasi.

Sebab sepak bola profesional pada titik tertentu tidak lagi dinilai dari seberapa indah rencana yang dibuat. Ia dinilai dari apa yang tertulis di papan skor dan apa yang tersimpan di lemari trofi.