Pernahkah kamu membawa buku ke tempat umum? Entah di kereta, halte, ruang tunggu rumah sakit, atau kedai kopi, lalu merasa menjadi pusat perhatian? Bukan karena melakukan sesuatu yang aneh, melainkan karena sedang membaca.
Sesekali ada yang melirik penasaran, ada yang memandangi sampul buku lebih lama dari seharusnya. Bahkan tidak jarang muncul komentar seperti, "Rajin banget bacanya," atau "Lagi ujian ya?"
Ironisnya, di banyak negara, membaca di ruang publik adalah pemandangan biasa. Di Indonesia, aktivitas yang seharusnya tampak normal justru sering dianggap tidak lazim.
Mengapa budaya membaca masih terasa asing bagi sebagian besar masyarakat kita?
Jawabannya tentu tidak sesederhana mengatakan bahwa masyarakat Indonesia malas membaca. Tuduhan seperti itu terlalu dangkal dan mengabaikan berbagai faktor sosial, budaya, ekonomi, hingga kebijakan pendidikan yang membentuk kebiasaan membaca selama bertahun-tahun.
Pertama, budaya membaca tidak lahir secara otomatis. Ia dibangun sejak usia dini melalui keluarga. Anak yang tumbuh di rumah dengan rak buku, dibacakan cerita sebelum tidur, atau melihat orang tuanya membaca akan menganggap buku sebagai bagian normal dari kehidupan. Sebaliknya, jika satu-satunya bacaan yang dilihat anak hanyalah buku pelajaran menjelang ujian, maka membaca akan dipersepsikan sebagai kewajiban akademik, bukan kebutuhan pribadi.
Kedua, sistem pendidikan kita masih terlalu berorientasi pada hasil ujian. Membaca sering diposisikan sebagai cara memperoleh nilai, bukan sebagai sarana memperluas wawasan. Banyak siswa terbiasa membaca karena akan ada ulangan, bukan karena ingin memahami dunia. Akibatnya, setelah lulus sekolah, kebiasaan membaca ikut berhenti.
Ketiga, ruang publik kita belum sepenuhnya ramah terhadap budaya literasi. Memang mulai banyak perpustakaan modern dan taman baca, tetapi jumlahnya belum sebanding dengan pusat hiburan atau pusat perbelanjaan. Di transportasi umum, orang yang membaca buku sering kali menjadi pengecualian, sementara mayoritas penumpang lebih akrab dengan layar ponsel.
Padahal, penggunaan ponsel tidak selalu berarti rendahnya minat membaca. Banyak orang membaca berita, artikel, atau buku digital melalui gawai. Namun, algoritma media sosial lebih sering menyajikan konten pendek, cepat, dan terus berganti. Lama-kelamaan, kita terbiasa mengonsumsi informasi dalam hitungan detik, bukan mendalami gagasan dalam puluhan halaman.
Di sinilah muncul fenomena menarik. Ketika seseorang membuka novel atau buku nonfiksi di tempat umum, aktivitas tersebut menjadi cukup berbeda dari kebiasaan mayoritas sehingga menarik perhatian. Lirikan yang diterima belum tentu bermakna negatif. Bisa jadi murni rasa penasaran karena pemandangan itu tidak sering mereka lihat.
Namun, tetap ada persoalan budaya yang patut direnungkan. Dalam masyarakat yang belum menjadikan membaca sebagai kebiasaan umum, aktivitas tersebut kadang dipersepsikan sebagai sesuatu yang "terlalu serius", "terlalu akademis", atau bahkan dianggap sebagai upaya menunjukkan intelektualitas. Padahal, membaca sama sederhananya dengan mendengarkan musik atau menikmati secangkir kopi. Ia adalah aktivitas pribadi yang tidak membutuhkan pembenaran.
Lalu bagaimana sebaiknya kita menyikapi tatapan orang ketika sedang membaca di ruang publik?
Jawabannya bergantung pada kenyamanan masing-masing. Ada yang benar-benar tidak peduli. Ada pula yang merasa canggung, terutama jika belum terbiasa menjadi satu-satunya orang yang memegang buku di tengah keramaian. Perasaan itu wajar. Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial yang peka terhadap penilaian lingkungan.
Namun, jika kita ingin budaya membaca tumbuh, seseorang harus memulai. Setiap orang yang membaca di ruang publik sebenarnya sedang melakukan sesuatu yang sederhana tetapi bermakna: menunjukkan bahwa membaca adalah aktivitas normal. Semakin sering pemandangan itu terlihat, semakin kecil pula rasa asing yang muncul.
Budaya tidak berubah dalam semalam. Dulu, membawa tumbler, memakai sepeda ke kantor, atau bekerja dari kafe juga dianggap tidak lazim. Kini semuanya menjadi bagian dari keseharian. Budaya membaca pun dapat berkembang dengan cara yang sama, melalui kebiasaan kecil yang dilakukan berulang-ulang hingga akhirnya diterima sebagai sesuatu yang biasa.
Pada akhirnya, pertanyaan yang lebih penting bukanlah mengapa orang lain menatap kita saat membaca, melainkan apakah kita akan berhenti membaca hanya karena tatapan itu. Sebab kemajuan suatu masyarakat tidak hanya diukur dari banyaknya gedung yang dibangun atau teknologi yang digunakan, tetapi juga dari seberapa akrab warganya dengan pengetahuan.
Dan setiap halaman yang dibaca, di mana pun tempatnya, adalah langkah kecil menuju masyarakat yang lebih kritis, lebih terbuka, dan lebih siap menghadapi masa depan.
Baca Juga
-
Kesadaran Jaminan Hari Tua: Jangan Jadikan Anak sebagai Dana Pensiun
-
Kidung Para Pencari: Menemukan Makna di Tengah Riuh Kehidupan
-
Apa Arti Kemajuan Jika Alam Tak Lagi Bisa Bertahan?
-
Kita Bertengkar dengan Sesama, Padahal yang Harus Ditagih adalah Negara
-
Warung Bu Sastro: Ketika Bisnis Tidak Cuma Soal Menghitung Untung
Artikel Terkait
-
Pramuka Masa Kini, Masih Relevankah Morse ketika Semua Ada di Google?
-
wondr by BNI Permudah Nasabah Kelola Keuangan Keluarga dengan Perencanaan yang Lebih Terarah
-
Akses Keuangan Melesat, Literasi Tertinggal: Trader Muda Diminta Waspadai Risiko
-
Wirausaha Perempuan Didorong Tak Cuma Kejar Penjualan, Tapi Juga Profit
-
Bahaya Scroll Society: Saat Anak Muda Mahir Scrolling, Lupa Berpikir
Kolom
-
Merawat Budaya, Menggerakkan Ekonomi: Perjalanan Kemiren Bersama Astra
-
POV Mahasiswa: Menjadi Agent of Change dari Bli Nyoman Desa Sejahtera Astra
-
Kesadaran Jaminan Hari Tua: Jangan Jadikan Anak sebagai Dana Pensiun
-
Ambulans Udara hingga Dokter Terbang: Salah Kaprah Pemerintah Sikapi Masalah
-
Kuliner Wisata Kemiren Meluapkan Limbah Sapi Biogas Desa
Terkini
-
Persebaya vs Penang FC Jadi Ajang Rotasi Pemain, Apa Target Bernardo Tavares?
-
Novel Celebrity Wedding, Pernikahan Kontrak Antara Akuntan Publik dan Musisi
-
1000x Ghea Indrawari, Lagu yang Bikin Saya Berhenti Membandingkan Cinta
-
Tecno Pova 8 5G Resmi di Indonesia, Bawa Baterai 8.000 mAh dan Kamera Sony
-
Flirty dan Sensual! Katseye Jadi Pusat Perhatian di Lagu Hootie Frutti