Lintang Siltya Utami | Fitri Rusandi
ilustrasi anak bermain gawai (Unsplash/warungkangabuy1970)
Fitri Rusandi

Belakangan ini, perdebatan hangat tengah melanda meja makan keluarga di Indonesia. Kebijakan pemerintah memperketat regulasi dengan melarang anak di bawah 16 tahun memiliki akun media sosial (medsos) mandiri, seketika memicu pro dan kontra. Alasan negara sebenarnya sangat berdasar: tameng hukum ini dibuat untuk melindungi generasi muda dari ancaman kecanduan digital, paparan konten tidak layak, hingga horor cyberbullying yang kian nyata.

Bagi sebagian orang tua, aturan ini disambut dengan helaan napas lega. Akhirnya, ada "tangan besi" negara yang membantu mereka berkata "tidak" saat anak-anak merengek meminta dibuatkan akun TikTok atau Instagram.

Namun, mari kita tengok sisi sebaliknya. Kebijakan ini sekaligus membuka kotak pandora dilema parenting modern: ketika gawai anak-anak harus "disita" oleh aturan, siapkah orang tua mengambil alih ruang kosong yang ditinggalkan algoritma?

Harus diakui jujur, selama ini media sosial sering kali bertransformasi menjadi "pengasuh elektronik" (e-nanny). Di tengah kepungan tuntutan kerja dan kelelahan setelah seharian beraktivitas, memberikan gawai agar anak duduk tenang adalah jalan pintas paling menggoda. Algoritma media sosial memang dirancang sedemikian rupa untuk menjaga perhatian anak tetap terpaku pada layar selama berjam-jam.

Ketika regulasi ini memadamkan layar tersebut, muncullah ruang hampa yang besar di dalam rumah. Anak-anak yang terbiasa mendapat stimulasi visual instan dosis tinggi dari video pendek, tiba-tiba harus berhadapan dengan realitas yang "membosankan".

Di sinilah tantangan sesungguhnya dimulai. Orang tua tidak bisa sekadar melarang atau bersembunyi di balik aturan hukum. Tantangan barunya adalah: bagaimana mengisi waktu luang anak dengan aktivitas yang bermakna?

Mengembalikan anak pada buku bacaan, permainan fisik, atau sekadar obrolan di ruang keluarga membutuhkan energi, kreativitas, dan kehadiran penuh—sesuatu yang justru makin mahal di era sekarang.

Hal paling krusial yang harus kita refleksikan dari isu ini adalah konsep keteladanan. Bagaimana mungkin kita memaksa anak di bawah 16 tahun menjauh dari media sosial, sementara di saat yang sama, ayah atau ibunya justru terjebak dalam scrolling tanpa akhir di depan meja makan?

Melarang anak bermain medsos sementara orang tua menunjukkan gejala kecanduan yang sama adalah sebuah kemunafikan digital. Anak-anak adalah peniru yang sangat ulung. Mereka tidak mendengarkan apa yang kita khotbahkan, melainkan melihat apa yang kita lakukan.

Sebelum menuntut efektivitas dari aturan negara, langkah yang lebih mendesak adalah "diet layar" (screen time) dari orang tua itu sendiri. Aturan batasan usia ini tidak akan pernah bekerja efektif jika di dalam rumah tidak ada contoh konkret tentang bagaimana menjalani hidup yang seimbang antara dunia digital dan dunia nyata.

Kita tidak bisa memenangi pertempuran melawan algoritma media sosial yang dirancang oleh ratusan insinyur terbaik di Silicon Valley hanya dengan selembar surat keputusan pemerintah. Algoritma tahu persis apa yang membuat anak kita penasaran, tertawa, dan kecanduan.

Satu-satunya hal yang bisa mengalahkan daya pikat algoritma itu adalah kehadiran emosional yang nyata dari orang tua. Anak-anak sering kali lari ke media sosial bukan hanya karena kontennya menarik, melainkan karena mereka mencari validasi, perhatian, dan ruang mengekspresikan diri yang tidak mereka dapatkan di rumah.

Regulasi negara hanyalah sebuah pembatas luar. Di dalam rumah, benteng pertahanan yang sesungguhnya tetaplah kelekatan (bonding) antara orang tua dan anak.

Kebijakan pembatasan usia media sosial ini seharusnya tidak dilihat sebagai akhir dari kebebasan anak, melainkan sebagai momentum emas bagi orang tua untuk merebut kembali peran mereka yang sempat terdistraksi oleh layar.

Ini adalah alarm bagi para ibu dan ayah modern untuk meletakkan sejenak gawai mereka, menatap mata anak-anak, dan kembali menemani mereka tumbuh.

Sebab pada akhirnya, aturan negara terbaik sekalipun tidak akan pernah bisa menggantikan pelukan hangat, dongeng sebelum tidur, dan kehadiran utuh seorang orang tua di dunia nyata.