Euforia diskon tanggal kembar bulan ini belum lama berlalu. Adakah Sobat Yoursay di sini yang suka menantikan momen live tengah malam di tanggal kembar demi memperoleh harga ambyar?
Kalau berbicara tentang belanja online, saya pribadi bukan orang yang selalu melakukan pembelian tiap diskon tanggal kembar ataupun setiap ada live diskon. Saya lebih sering membeli sesuatu saat merasa benar-benar membutuhkannya, bukan semata karena diskon. Namun, saat masih tinggal di asrama dulu, saya beberapa kali menyaksikan teman-teman melihat live shopping tengah malam untuk berburu diskon. Terkadang, saya pun ikut iseng membuka aplikasi online shop dan menonton beberapa live, tetapi kemudian saya tutup lagi karena belum ada barang yang menarik perhatian ataupun saya butuhkan ketika itu.
Tentu, tidak semua orang punya pengalaman yang sama. Tidak jarang, ada yang niatnya hanya melihat-lihat saja atau menjadikan live shopping sebagai “teman” menunggu kantuk datang, tapi tiba-tiba malah checkout barang yang sebenarnya tidak direncanakan. Meskipun tidak terlalu membutuhkan barang yang dibeli, keputusan belanja tengah malam dengan harga diskon rasanya seolah lebih mudah. Mengapa bisa demikian?
Fenomena ini tentu bukan terjadi begitu saja. Ada strategi pemasaran yang membuat live shopping terasa jauh lebih menggoda. Live shopping sengaja dilakukan di malam hari ketika otak kita sudah kelelahan setelah beraktivitas sehari penuh. Dalam kondisi seperti itu, kemampuan kita untuk mempertimbangkan keputusan juga cenderung menurun. Pada saat yang sama, host live terus mengulang kalimat serupa: “Stok terbatas, tiga menit lagi harga ambyar akan berakhir, sisa dua lagi, ayo segera checkout dan payment sekarang juga!”
Kalimat-kalimat itu terus diulang, diperkuat dengan tampilan harga coret, voucher khusus live, gratis ongkir, hingga komentar pembeli lain yang sudah lebih dulu checkout. Semua itu perlahan memunculkan rasa takut kehabisan stok atau melewatkan kesempatan mendapatkan harga terbaik.
Sekali terjadi, mungkin nominalnya belum terasa besar. Namun, jika setiap menggulir layar dan menemukan live dari toko lainnya kita juga tergoda untuk membeli, totalnya bisa besar. Padahal jika dipertimbangkan dengan lebih matang, sebenarnya banyak pembelian yang kurang mendesak dan tidak harus dibeli saat itu juga.
Yang membuat persoalan ini semakin unik adalah keputusan membeli yang terasa sangat logis tengah malam sering kali berubah menjadi penyesalan saat matahari terbit. Ketika bangun tidur, kita baru sepenuhnya tersadar telah melakukan checkout. Notifikasi pembayaran pun baru benar-benar kita lihat dan hitung ulang. Di titik itulah baru terpikirkan, “apa aku benar-benar membutuhkannya?” Namun, semua sudah terlambat. Pembayaran sudah telanjur diselesaikan semalam. Penjual sudah menyiapkan pengiriman dan pembelian tak lagi bisa dibatalkan. Jika yang dibeli tidak sesuai dengan kebutuhan, yang akhirnya tersisa hanyalah penyesalan.
Meskipun demikian, bukan berarti live shopping selalu buruk. Meskipun bukan termasuk tipe orang yang selalu berbelanja di tanggal kembar, saya pun beberapa kali memanfaatkan momen live untuk mendapatkan harga lebih murah dari produk yang saya butuhkan. Dan itu memang bisa menjadi momen yang sangat menguntungkan jika kita memang sudah berniat membeli barang tertentu sebelumnya.
Di titik ini, bukan live shopping-nya yang menjadi persoalan, melainkan godaan impulsif pada diri kita sendirilah yang mungkin perlu untuk dikendalikan. Selain itu, yang tak kalah penting adalah menghindari membuat keputusan finansial ketika kondisi tubuh yang sudah lelah. Jika pun benar-benar membutuhkannya, masih ada esok pagi untuk membeli—tidak harus malam itu juga. Lagipula yang sebenarnya kita cari itu barangnya atau sekadar ingin sensasi sesaat karena berhasil mendapatkan 'harga murah'?
Baca Juga
-
Teman Datang saat Butuh, Salah Mereka atau Ekspektasi Kita?
-
Punya Kebiasaan Begadang, Sebenarnya Apa yang sedang Dikejar Gen Z?
-
Traveling atau Menambah Tabungan? Dilema Gen Z saat Punya Uang Lebih
-
Hidup Hemat di Era Serba Mahal: Pilihan Bijak atau Pelit pada Diri Sendiri?
-
Hustle Culture vs Slow Living: In This Economy, Mana yang Lebih Realistis?
Artikel Terkait
-
4 Pilihan Sepatu Running Nike yang Diskon di Sports Station, Potongan sampai 50 Persen
-
Overconsumption Core: Ketika Gen Z Mulai Kritik Budaya Belanja Berlebihan
-
BRI Kartu Kredit Tawarkan Promo Spesial MyBluebird, Mobilitas Jadi Lebih Hemat
-
4 Sepatu Sekolah Hitam yang Lagi Diskon di Matahari, Hemat hingga Rp260 Ribu
-
10 Sepatu Lari Diadora Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
Kolom
-
Ketika Rakyat Patungan Membangun Jembatan, Apa Prioritas Negara?
-
Seni Menghadapi Tetangga Cerewet dan Julid: Manfaatkan Situasi dengan Baik!
-
Lebih dari Sekadar Nasi Sisa, Sego Karak Adalah Simbol Kehangatan Masa Lalu
-
Demokrasi Butuh Batas, Bukan Tumpang Tindih Kekuasaan
-
Kisah Andres Escobar dan Dosa Fanatisme yang Masih Menghantui Sepak Bola
Terkini
-
Kylian Mbappe Antar Prancis ke Semifinal, Samai Messi di Daftar Top Skor
-
Ella Rubin Main Serial Baru Bertajuk Sterling Point, Tayang Agustus 2026
-
Perpisahan Tak Menunggu Kita Siap: Pelajaran dari Novel You've Reached Sam
-
Ulasan Foufo: Kisah Persahabatan Alien Luar Angkasa dan Pengepul Rongsok
-
Gagal Pecahkan Rekor, Enola Holmes 3 Debut Angka 20,7 Juta Views di Netflix