Lintang Siltya Utami | Oktavia Ningrum
Ilustrasi Demo (Unsplash/@fajargrinanda)
Oktavia Ningrum

Mengukur keberhasilan sebuah program pemerintah sesungguhnya tidak selalu membutuhkan survei yang rumit atau laporan statistik yang tebal. Ada ukuran yang jauh lebih sederhana, yaitu melihat bagaimana reaksi masyarakat ketika program tersebut terancam dihentikan.

Jika masyarakat yang selama ini merasakan manfaatnya berbondong-bondong menyuarakan penolakan, besar kemungkinan program tersebut memang telah menjadi bagian penting dari kehidupan mereka. Sebaliknya, jika yang paling keras memprotes justru pihak-pihak yang memperoleh keuntungan dari pelaksanaan program itu sendiri, maka pemerintah patut mengevaluasi apakah manfaat program benar-benar telah sampai kepada sasaran utamanya.

Belakangan, wacana penghentian program Makan Bergizi Gratis (MBG) memunculkan dinamika yang menarik. Di ruang publik, suara penolakan yang paling menonjol justru datang dari para pekerja dapur dan pihak-pihak yang terlibat dalam operasional program. Mereka tentu memiliki alasan yang dapat dipahami karena keberlangsungan pekerjaan dan pendapatan mereka bergantung pada program tersebut. Namun, fenomena ini juga memunculkan pertanyaan penting: di mana suara para penerima manfaat utama, yaitu para siswa dan keluarga yang menjadi sasaran program?

Pertanyaan tersebut bukan dimaksudkan untuk menyimpulkan bahwa MBG tidak bermanfaat. Program ini masih relatif baru sehingga dampak jangka panjangnya terhadap status gizi, kesehatan, maupun kualitas pendidikan belum dapat dinilai secara menyeluruh. Namun, reaksi publik terhadap wacana penghentiannya menunjukkan bahwa pemerintah perlu terus memastikan manfaat program benar-benar dirasakan oleh masyarakat luas, bukan hanya menciptakan efek ekonomi bagi pelaksana program.

Bandingkan dengan program seperti BPJS Kesehatan atau subsidi bahan bakar tertentu seperti Pertalite. Setiap kali muncul isu pembatasan manfaat, perubahan skema, atau kenaikan harga, respons masyarakat hampir selalu sangat besar. Alasannya sederhana. Kedua program tersebut telah menjadi bagian dari kebutuhan sehari-hari jutaan warga. BPJS membantu masyarakat memperoleh layanan kesehatan dengan biaya yang jauh lebih terjangkau. Pertalite, bagi sebagian besar masyarakat, terutama pekerja dan pelaku usaha kecil, menjadi penopang mobilitas dan aktivitas ekonomi sehari-hari. Ketika akses terhadap program-program tersebut terancam berubah, masyarakat langsung merasakan dampaknya sehingga reaksi publik pun muncul secara spontan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa keberhasilan suatu kebijakan tidak hanya diukur dari besarnya anggaran atau banyaknya publikasi pemerintah. Program yang benar-benar menyentuh kebutuhan rakyat akan memiliki legitimasi sosial yang kuat. Masyarakat akan menjadi pihak pertama yang mempertahankannya karena mereka merasakan manfaat secara langsung dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, pemerintah perlu membangun budaya evaluasi yang berorientasi pada dampak nyata. Sebuah program tidak cukup dinilai berhasil hanya karena anggaran terserap dengan baik atau jumlah penerima manfaat mencapai target administratif. Yang lebih penting adalah apakah program tersebut mampu mengurangi beban hidup masyarakat, meningkatkan kesejahteraan, dan menjawab persoalan yang memang dihadapi rakyat.

Di sisi lain, masyarakat juga perlu berhati-hati agar tidak menjadikan reaksi publik sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan. Ada program yang manfaatnya baru terasa dalam jangka panjang sehingga belum memunculkan respons yang besar ketika menghadapi perubahan. Oleh karena itu, evaluasi kebijakan tetap harus didasarkan pada data, efektivitas, ketepatan sasaran, serta dampaknya terhadap kualitas hidup masyarakat.

Namun demikian, suara masyarakat tetap merupakan indikator penting yang tidak boleh diabaikan. Program yang telah menjadi kebutuhan nyata biasanya akan memperoleh dukungan organik dari penerima manfaatnya. Dukungan tersebut lahir bukan karena kampanye atau mobilisasi, melainkan karena masyarakat merasa kehilangan sesuatu yang benar-benar membantu kehidupan mereka.

Pada akhirnya, tujuan setiap kebijakan publik bukan sekadar menciptakan proyek, melainkan menghadirkan manfaat yang nyata bagi rakyat. Ketika sebuah program benar-benar menyelesaikan persoalan masyarakat, rakyat tidak perlu diminta untuk membelanya. Mereka akan melakukannya dengan sendirinya karena program itu telah menjadi bagian dari kehidupan mereka.

Itulah ukuran paling sederhana sekaligus paling jujur tentang apakah sebuah kebijakan benar-benar berpihak kepada rakyat atau sekadar terlihat baik di atas kertas.