Memasuki tahun ajaran baru, tren twibbon Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) kembali memenuhi media sosial. Momen hari pertama sekolah kerap dirayakan orang tua dengan mengunggah foto anak yang dibingkai twibbon serta disertai ucapan penuh kebanggaan.
Namun, di balik kebanggaan tersebut, ada satu hal yang belakangan jadi sorotan. Banyak twibbon MPLS tidak hanya menampilkan wajah anak, tetapi juga nama lengkap, nama sekolah, hingga informasi lain yang berkaitan dengan identitas mereka.
Tanpa disadari, unggahan yang diniatkan sebagai bentuk kebahagiaan justru membuka data pribadi anak kepada publik. Lantas, haruskah rasa bangga orang tua dibayar dengan terbukanya privasi anak di ruang digital?
Budaya Oversharing yang Kian Lumrah
Saya paham betul antusiasme orang tua ketika anak memasuki jenjang pendidikan baru. Momen itu hanya datang sekali dalam setiap fase kehidupan. Tidak heran jika banyak yang ingin mengabadikannya di media sosial.
Sayangnya, banyak orang tidak menyadari bahwa sebuah twibbon sering kali memuat informasi yang sebenarnya cukup sensitif.
Nama lengkap, wajah anak, nama sekolah, hingga lokasi sekolah jika ditelusuri lebih lanjut, merupakan potongan informasi yang dapat disatukan menjadi profil identitas seorang anak. Normalisasi budaya oversharing ini membuat kita lupa bahwa internet adalah ruang publik yang bisa diakses oleh siapa saja, termasuk orang-orang yang memiliki niat buruk.
Menurut saya, menjaga privasi anak bukan berarti kita harus berhenti mengunggah momen bahagia. Yang perlu diubah adalah cara kita membagikannya.
Misalnya, tidak mencantumkan nama lengkap, tidak menampilkan informasi sekolah secara detail, atau membatasi siapa saja yang dapat melihat unggahan tersebut. Kebanggaan tetap bisa dirayakan tanpa harus mengorbankan keamanan.
Jejak Digital yang Dibuat Orang Tua Akan Diwarisi Anak
Satu hal yang sering terlupakan adalah bahwa anak belum memiliki kemampuan untuk menentukan jejak digitalnya sendiri. Saat belum cukup umur, identitas digital mereka justru dibentuk oleh orang tua melalui setiap foto, video, maupun informasi yang diunggah ke media sosial.
Padahal, internet memiliki ingatan yang jauh lebih panjang daripada yang kita bayangkan. Sekali sebuah foto atau informasi tersebar, kita tidak pernah benar-benar tahu siapa yang telah menyimpannya, membagikannya kembali, atau menggunakannya untuk kepentingan lain.
Risikonya pun tidak selalu berupa kasus ekstrem seperti penculikan yang sering dibicarakan di media sosial. Ada ancaman yang jauh lebih dekat, seperti penyalahgunaan identitas, penipuan dengan teknik social engineering, pemanfaatan foto oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, hingga terbentuknya jejak digital yang kelak mungkin tidak diinginkan oleh anak ketika mereka dewasa.
Oleh karena itu, saya merasa sudah waktunya kita memandang data pribadi anak sebagai sesuatu yang berharga. Sama seperti kita tidak sembarangan membagikan nomor rekening atau dokumen penting kepada orang lain, identitas anak juga seharusnya diperlakukan dengan kehati-hatian yang sama.
Literasi Digital Dimulai dari Orang Tua
Tren twibbon MPLS menurut saya juga menunjukkan bahwa literasi digital kita masih memiliki PR yang besar. Selama ini, pembahasan mengenai keamanan digital sering diarahkan kepada anak-anak.
Mereka diajarkan untuk tidak berbicara dengan orang asing di internet, tidak membagikan kata sandi, dan berhati-hati saat menggunakan media sosial. Namun, bagaimana jika justru orang dewasa yang tanpa sadar membuka informasi pribadi anak kepada publik?
Menurut saya, perlindungan anak di era digital tidak cukup hanya dengan memasang aplikasi kontrol orang tua atau membatasi waktu bermain gawai. Perlindungan juga dimulai dari kebiasaan sederhana, yaitu berpikir dua kali sebelum menekan tombol "unggah". Apakah informasi ini benar-benar perlu diketahui publik? Apakah identitas anak harus ditampilkan selengkap itu? Siapa saja yang bisa melihat unggahan tersebut?
Saya juga berharap sekolah mulai lebih peka terhadap persoalan ini. Jika ingin mengajak orang tua menggunakan twibbon sebagai bentuk partisipasi, mungkin sudah saatnya desainnya dibuat lebih ramah privasi. Tidak semua identitas anak harus dicantumkan.
Kita sering mengingatkan anak agar tidak mudah percaya kepada orang asing. Ironisnya, justru orang dewasa yang lebih dulu memperkenalkan anak kepada orang asing lewat media sosial.
Baca Juga
-
Instagram Exclusive Artis: Saat Parasocial Relationship Jadi Ladang Bisnis
-
Syarat Segunung, Nasib Menggantung: Wajah Birokratis Rekrutmen di Indonesia
-
Mengurai Weaponized Incompetence: Mengapa Peran Domestik Kerap Timpang?
-
Ulasan Reborn Rookie: Menggugat Makna Kepemimpinan Lewat Fantasi Body Swap
-
Generasi Tanpa Ruang Tumbuh: Tekanan Sistem yang Memaksa Anak Muda Berlari
Artikel Terkait
-
MPLS Sekolah Rakyat Digelar Bertahap Empat Gelombang
-
Teror Bom Saat MPLS, Gegana Sterilisasi SD di Jagakarsa
-
Krisis Murid Baru, SD di Boyolali Cuma Punya 1 Siswa Saat MPLS
-
MPLS Sekolah Rakyat Fokus Bangun Literasi Digital, Siswa Baru Dibekali Etika Pakai Medsos
-
Potret MPLS Para Siswa di Berbagai Daerah
Kolom
-
Digital Decluttering Era Modern: Timeline Bersih, Pikiran pun Lebih Ringan
-
RUU Perampasan Aset: Melindungi HAM atau Melindungi Koruptor?
-
Instagram Exclusive Artis: Saat Parasocial Relationship Jadi Ladang Bisnis
-
Kesejahteraan atau Integritas: Benarkah Gaji Tinggi Mengurangi Korupsi?
-
Sudah Saatnya Standar Pendidikan Kepala Daerah Dinaikkan
Terkini
-
Novel Safe Harbor: Perjuangan Imigran Muda dalam Balutan Puisi Indah
-
5 Buku Klasik dengan Plot Paling 'Sakit' yang Pernah Ditulis, Berani Baca?
-
Song Hye Kyo dalam Pembicaraan Gabung Agensi Baru Bentukan Rekan Lama
-
Bye Kulit Kering! 4 Micellar Water Trehalose Berikan Efek Hidrasi Optimal
-
Tegar atau Pengecut? Mengapa Pilihan Cinta Sunset Bersama Rosie Bikin Emosi