M. Reza Sulaiman | Harsa Permata
Harry Kane dan Erling Haaland diprediksi menjadi dua sosok paling menentukan dalam laga perempat final Piala Dunia 2026 antara Inggris dan Norwegia. (Sumber Foto: worldsoccertalk.com)
Harsa Permata

Piala Dunia 2026 kembali menampilkan diri sebagai panggung penuh drama dan kuburan bagi tim-tim raksasa. Brasil, sang juara dunia lima kali, harus angkat koper lebih awal di babak 16 besar setelah dihajar oleh Erling Haaland dan tim Norwegia. Bagi yang paham sejarah pertemuan kedua tim, hasil tersebut sesungguhnya tidak terlalu mengejutkan. Norwegia memang telah lama menjadi kryptonite bagi Tim Samba; kutukan sejarah yang kembali terbukti di lapangan hijau.

Menariknya, dalam seluruh pertemuan resmi maupun laga uji coba, Brasil memang belum pernah berhasil mengalahkan Norwegia.

Di sisi lain, tim Inggris berhasil melangkah ke perempat final setelah melewati laga dramatis melawan Meksiko dengan skor 3-2. Sempat unggul 2-0, lalu dikejar menjadi 2-1, kemudian 3-1, Tiga Singa sempat dibuat senam jantung setelah Meksiko memperkecil kedudukan lewat titik putih pada menit ke-56. Beruntung, Inggris berhasil menjaga skor kemenangan 3-2 hingga peluit panjang ditiup.

Kini, takdir mempertemukan Inggris dengan sang "Viking modern", Norwegia, di babak perempat final. Sebuah laga yang tidak hanya seru, tetapi juga sarat narasi sejarah: Perang Anglo-Saxon melawan Viking.

Dilema Erling Haaland dan Pisau Bermata Dua

Fokus utama dalam laga ini tentu saja tertuju pada sosok Erling Haaland. Striker ganas milik Manchester City ini akan menjadi ujian terberat bagi lini belakang Inggris. Menariknya, keberadaan Haaland di Premier League ibarat pisau bermata dua bagi kedua belah pihak.

Di satu sisi, ini menguntungkan Inggris. Bek-bek Tiga Singa, terutama John Stones yang merupakan rekan setimnya di City, tentu sudah paham betul bagaimana cara Haaland bergerak, mencari ruang, hingga titik frustrasinya. Pemahaman mengenai kebiasaan bermain Haaland bisa menjadi kunci untuk mematikan suplai bola kepada sang striker.

Namun, di sisi lain, ini adalah kerugian besar. Haaland adalah predator kotak penalti dengan kecerdasan posisi yang luar biasa. Ia sudah sangat memahami kelemahan individual dan kebiasaan para bek Inggris karena menghadapi mereka hampir setiap pekan. Pemahaman itu membuatnya tahu kapan harus mengeksploitasi ruang kosong saat transisi Inggris terlambat.

Menghapus Trauma Sejarah, Merenungkan Mental Juara

Inggris memiliki catatan historis yang kuat dan dominan jika berhadapan dengan sesama tim Eropa. Masalah terbesar mereka di Piala Dunia biasanya bukan soal bakat pemainnya—karena rata-rata cukup berbakat dan terlatih—melainkan beban psikologis yang terus mereka bawa di turnamen besar.

Publik Inggris tentu belum lupa bagaimana mereka dicurangi oleh gol Tangan Tuhan Maradona pada 1986, atau bagaimana gol silang Frank Lampard yang sudah melewati garis gawang dianulir secara gaib pada 2010. Di era modern dengan adanya Goal-Line Technology dan VAR, drama-drama nonteknis seperti itu mungkin bisa diminimalisasi. Namun, musuh terbesar Inggris sesungguhnya ada di dalam kepala mereka sendiri.

Seperti yang pernah saya ulas sebelumnya, Inggris harus merenungkan kembali mental juara mereka jika memang serius ingin membawa trofi Piala Dunia kembali ke tanah Inggris, atau football coming home—meminjam istilah masyarakat Inggris di pertengahan 90-an saat perhelatan Piala Eropa di sana. Akan tetapi, tim Inggris juga punya penyakit kambuhan, yaitu mendadak panik dan bermain defensif saat berada di bawah tekanan berat.

Tangan Dingin Thomas Tuchel

Untungnya, Inggris hari ini tidak lagi dipimpin oleh pendekatan konservatif era sebelumnya. Di bawah kendali Thomas Tuchel, ada secercah harapan baru. Sebagai pelatih asal Jerman yang terkenal pragmatis dan memiliki jiwa kompetitif yang kuat di berbagai turnamen, Tuchel membawa objektivitas yang dingin ke dalam skuad. Ia tidak mewarisi trauma masa lalu publik Britania.

Suntikan mentalitas Turniermannschaft (tim turnamen) ala Jerman milik Tuchel mulai terlihat saat Inggris mampu keluar dari tekanan spartan Meksiko di babak kedua. Melawan Norwegia yang memiliki disiplin sekeras batu karang dan fisik yang kokoh, ketenangan dan kecermatan taktis Tuchel akan diuji habis-habisan.

Jika poros Jude Bellingham dan Harry Kane mampu tampil efektif dan efisien membongkar pertahanan rapat Norwegia, serta lini belakang sukses mematikan pergerakan Haaland dan membuatnya mati kutu, skor realistis 2-0 atau 2-1 untuk kemenangan Inggris bukanlah hal yang mustahil.

Jika Inggris berhasil melewati ujian fisik dan mental dari bangsa Viking ini, jalan menuju semifinal impian melawan Argentina akan terbuka lebar. Karena itulah, pertandingan perempat final nanti bukan sekadar perebutan tiket semifinal, melainkan pembuktian apakah Inggris era Tuchel sudah benar-benar memiliki mentalitas seorang juara sejati.