Hayuning Ratri Hapsari | Harsa Permata
Para pemain Inggris dan Argentina berjabat tangan sebelum pertandingan Piala Dunia 2002, melanjutkan salah satu rivalitas paling bersejarah dalam sepak bola dunia. (guardian.co.uk)
Harsa Permata

Akhirnya Piala Dunia 2026 kembali mempertemukan dua tim yang memiliki sejarah perseteruan panjang, Inggris dan Argentina. Konflik politik kedua negara dalam memperebutkan Falkland Islands atau Kepulauan Malvinas pada awal 1980-an menjadi salah satu bumbu yang membuat laga semifinal kali ini terasa lebih panas daripada pertandingan biasa.

Walaupun demikian, bagi generasi pemain yang lahir setelah Perang Malvinas, hubungan Inggris dan Argentina sebenarnya tidak lagi menjadi persoalan utama. Bahkan, banyak pemain Argentina justru menjadi andalan klub-klub Liga Inggris. Enzo Fernández membela Chelsea, Alexis Mac Allister menjadi motor permainan Liverpool, Lisandro Martínez jadi salah satu tumpuan lini belakang Manchester United, Emiliano Martínez menjadi kiper utama Aston Villa, sementara Cristian Romero mengawal lini belakang Tottenham Hotspur.

Lionel Messi, legenda Argentina yang masih menjadi tumpuan negaranya di Piala Dunia 2026, juga bermain di Major League Soccer bersama Inter Miami, klub yang salah satu pemiliknya adalah legenda Inggris, David Beckham.

Karena itu, mengaitkan Perang Malvinas dengan pertandingan Inggris kontra Argentina saat ini sebenarnya sudah tidak terlalu relevan. Namun, jika melihat sejarah kedua tim di Piala Dunia, setiap pertemuan mereka hampir selalu menghadirkan tensi tinggi.

Kalau boleh memberi julukan, laga Inggris kontra Argentina adalah El Clasico Piala Dunia. Seperti Real Madrid melawan Barcelona di Liga Spanyol, duel kedua negara ini hampir selalu menghadirkan tensi tinggi, drama, kontroversi, dan cerita yang terus dikenang.

Pada Piala Dunia 1986, misalnya, Diego Maradona mencetak gol kontroversial ke gawang Inggris menggunakan tangannya. Maradona kemudian menyebut gol tersebut sebagai Hand of God atau "Gol Tangan Tuhan", salah satu momen paling terkenal sekaligus paling diperdebatkan dalam sejarah sepak bola.

Dua belas tahun kemudian, tepatnya pada babak 16 besar Piala Dunia 1998, kedua tim kembali bertemu. Laga itu diwarnai insiden antara Diego Simeone dan David Beckham. Simeone terjatuh setelah terjadi kontak dengan Beckham, yang kemudian diganjar kartu merah oleh wasit. Inggris akhirnya tersingkir melalui adu penalti.

Pada Piala Dunia 2002, Inggris kembali menghadapi Argentina di fase penyisihan grup. Kali ini Inggris menang 1-0 melalui gol penalti David Beckham.

Setelah 24 tahun berlalu, kedua negara akhirnya kembali bertemu di panggung Piala Dunia.

Jika melihat sejarah pertemuan tersebut, Argentina memang dua kali menyingkirkan Inggris di fase gugur. Namun, dua pertandingan itu juga selalu menyisakan kontroversi yang hingga kini masih diperdebatkan para pencinta sepak bola. Sebaliknya, kemenangan Inggris pada tahun 2002 berlangsung di fase grup tanpa kontroversi besar yang membekas.

Analisis saya, jika pertandingan berlangsung secara fair, Inggris memiliki peluang sedikit lebih besar untuk menang dalam waktu normal atau setidaknya memaksakan laga hingga adu penalti. Namun, jika pertandingan berlanjut ke babak tos-tosan, saya justru lebih mengunggulkan Argentina. Mereka memiliki Emiliano Martínez, salah satu kiper terbaik dunia dalam situasi adu penalti. Sementara itu, Jordan Pickford memang berpengalaman, tetapi belum memiliki reputasi sekuat Martínez dalam duel penalti.

Sebaliknya, apabila pertandingan kembali diwarnai kontroversi seperti beberapa pertemuan sebelumnya, peluang Argentina juga terbuka untuk kembali keluar sebagai pemenang.

Posisi saya sendiri dalam pertandingan ini sebenarnya cukup rumit. Di satu sisi, Argentina adalah salah satu tim Amerika Latin yang selalu saya dukung di setiap Piala Dunia. Bahkan, secara umum saya cenderung mendukung negara-negara Amerika Latin, Afrika, dan Asia. Di sisi lain, Inggris merupakan salah satu tim Eropa yang juga selalu saya harapkan mampu mengakhiri puasa gelar mereka.

Sayangnya, kedua tim justru bertemu di semifinal. Seandainya mereka bertemu di final, saya mungkin akan lebih santai menikmati pertandingan tanpa harus memikirkan siapa yang layak melangkah lebih jauh.

Untuk laga Inggris kontra Argentina kali ini, saya mendukung keduanya. Namun, jika harus memilih, saya berharap Inggris yang keluar sebagai pemenang dan menghadapi Prancis atau Spanyol di partai final.

Saat itulah Inggris harus membuktikan bahwa generasi Harry Kane, Jude Bellingham, dan rekan-rekannya tidak lagi sekadar dihuni pemain-pemain kelas dunia, melainkan juga memiliki mental juara sehingga tidak kembali berakhir sebagai runner-up seperti pada Piala Eropa 2024.