Kalau mengikuti berita tentang pemerintah belakangan ini, ada saja program baru yang muncul. Belum selesai publik membicarakan satu kebijakan, sudah ada agenda lain yang ikut diperkenalkan.
Sejak Presiden Prabowo Subianto resmi menjabat, berbagai agenda baru memang bermunculan. Makan Bergizi Gratis, Sekolah Rakyat, Koperasi Desa Merah Putih, program perumahan, swasembada pangan dan energi, serta hilirisasi menjadi bagian dari pekerjaan besar yang sedang dikejar.
Bahkan, baru-baru ini, pemerintah mengumumkan ingin membuka rekening secara massal untuk ratusan juta masyarakat. Rasanya hampir selalu ada program baru yang bisa dibicarakan.
Namun, sibuknya pemerintah belum tentu sama dengan membaiknya kehidupan rakyat. Pemerintah bisa punya banyak program, anggaran besar, dan target yang ambisius. Namun, apakah semua itu benar-benar membuat masyarakat mereka merasa lebih aman, lebih mudah memenuhi kebutuhan, dan punya kehidupan yang lebih layak?
Program Banyak, Masalah di Lapangan Ikut Bermunculan
Membuat program dalam skala besar harus melalui proses perencanaan yang matang, karena begitu masuk ke lapangan, ada hal-hal yang harus dipastikan berjalan dengan benar.
MBG misalnya. Belakangan program ini sering dibicarakan karena kasus keracunan. Puluhan ribu orang dilaporkan terdampak sepanjang pelaksanaan program, dan sejumlah dapur juga harus dihentikan karena masalah kebersihan dan kelayakan kualitas makanan.
Ini tentu membuat kita bertanya. Kalau makanan yang seharusnya membantu memenuhi kebutuhan gizi malah membuat anak-anak sakit, berarti ada bagian penting yang belum benar-benar siap. Niat baik saja tidak cukup kalau pelaksanaannya masih menyisakan masalah yang bisa membahayakan penerima.
Tidak Semua Masalah Butuh Program Baru
Kalau diamati, banyak masalah seperti dijawab pemerintah dalam bentuk program. Cara seperti ini memang terlihat meyakinkan. Namun, semakin banyak program yang dibuat, semakin penting pula melihat apakah pemerintah sedang menyelesaikan masalah atau justru cuma menambah proyek kebijakan baru.
Kalau dilihat akar masalahnya, ada hal-hal yang sebenarnya tidak selesai hanya dengan membuat program. Di luar berbagai program tersebut, kehidupan masyarakat sendiri masih berjalan dengan masalah yang itu-itu saja.
Banyak orang masih kesulitan mencari pekerjaan. Mereka yang sudah bekerja belum tentu merasa mendapatkan penghasilan yang layak. Istilah underpaid juga bukan lagi sesuatu yang asing karena ada banyak pekerja yang merasa gajinya tidak sebanding dengan pekerjaan dan kebutuhan hidupnya.
Belum lagi harga berbagai kebutuhan yang membuat uang terasa semakin cepat habis. Mau berhemat juga ada batasnya. Jadi, wajar kalau masyarakat akhirnya punya ukuran sendiri untuk menilai apakah kondisi ekonomi benar-benar membaik.
Jangan Semua Hal Dijadikan Proyek
Bagi pemerintah, setiap masalah seperti perlu punya program sendiri, lengkap dengan target, anggaran, dan agenda pelaksanaannya.
Begitu sebuah program sudah punya anggaran dan struktur pelaksanaan, ada kecenderungan untuk terus menjalankannya meski hasilnya belum tentu sebanding dengan sumber daya yang dikeluarkan.
Program yang baik seharusnya tidak perlu dipertahankan hanya karena sudah telanjur dibuat. Pemerintah juga perlu punya keberanian untuk mengatakan bahwa sebuah program tidak berhasil, daripada terus mempertahankannya hanya demi menjaga kesan bahwa semua agenda berjalan.
Pemerintah juga perlu melihat bahwa tidak semua hal harus dijawab dengan program baru. Ada kalanya yang dibutuhkan adalah memastikan program yang sudah berjalan tidak tumpang tindih.
Rasanya menyenangkan punya pemerintah yang tidak pernah kehabisan ide. Hanya saja, kalau rakyat masih sibuk menghitung uang untuk bertahan hidup di akhir bulan, lama-lama kita jadi bingung. Sebenarnya pemerintah sedang membuat program untuk rakyat atau untuk mereka yang kebagian proyeknya?
Baca Juga
-
Upah Tertinggal, Hidup Makin Mahal: Benarkah Masalahnya Kemalasan?
-
Ulasan 18 Again: Penyesalan yang Mengajarkan Arti Memahami Keluarga
-
Pemerintah Bakal Gelontorkan Rp11 T untuk Rekening Massal, Apa Urgensinya?
-
Ulasan Kkondae Intern: Melihat Sisi Lain Budaya Senioritas di Dunia Kerja
-
Ulasan Record of Youth: Memahami Kesuksesan Lewat Perjalanan Masa Muda
Artikel Terkait
-
KPAI Desak Audit Transparan Dapur Makan Bergizi Gratis Usai Rentetan Kasus Keracunan
-
Fakta Ironisnya: Ketika MBG Hanya Menanggung 1/9 Biaya Makan Keluarga
-
Taruh Nyawa di Selat Perbatasan, Wanita Ini Sukses Ubah Nasib Ratusan Ibu-Ibu di Sebatik
-
Mahfud MD Soroti Kasus MBG di Depan Mahasiswa: Bukti Hukum Tumpul ke Atas!
-
DPR Minta BGN Tanggung Biaya Pemulihan Korban MBG
Kolom
-
Upah Tertinggal, Hidup Makin Mahal: Benarkah Masalahnya Kemalasan?
-
Bukan Sekadar Buruh Murah: Standar Upskilling Jalur Magang
-
Gengsi di Atas Fungsi, Mengapa Kita Terobsesi dengan iPhone?
-
Fakta Ironisnya: Ketika MBG Hanya Menanggung 1/9 Biaya Makan Keluarga
-
Empati Tidak Harus Menunggu Korbannya Menjadi Keluarga Kita
Terkini
-
Cuma Rp30 Ribuan! 5 Cica Gel Moisturizer Lokal yang Ampuh Redakan Kemerahan
-
Review Why Did I Get Married Again?: Biasa dan Mudah Ditebak
-
Tayang 20 September, RuPaul Pimpin Komedi Drag Kacau di Stop! That! Train!
-
4 Sampo Amino Acid Terbaik untuk Rambut Sehat, Lembap, dan Kuat
-
Review Cold Storage: Ketika Ruang Penyimpanan Berubah Jadi Perangkap