Di Desa Les, Kabupaten Buleleng, Bali, perubahan tidak selalu dimulai dari proyek besar. Di sini, perubahan justru tumbuh dari kebiasaan sederhana yang dilakukan bersama. Ada warga yang mulai memilah sampah dari rumah, pemuda yang belajar menjadi pemandu wisata, petani garam yang tetap mempertahankan cara produksi tradisional, hingga masyarakat pesisir yang merawat terumbu karang. Langkah-langkah kecil itu kini menjelma menjadi gerakan kolektif yang membawa Desa Les dikenal sebagai salah satu desa wisata berkelanjutan di Indonesia.
Keberhasilan tersebut tentu tidak hadir dalam semalam. Pendampingan melalui program Desa Sejahtera Astra dilakukan dengan pendekatan yang menyentuh empat aspek penting kehidupan masyarakat, Mulai dari kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan. Pemberdayaan ini menempatkan warga sebagai pelaku utama perubahan, bukan sekadar penerima manfaat.
Salah satu gerakan yang paling menarik perhatian adalah Les Grow, sebuah program pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Melalui program ini, warga diajak membiasakan pemilahan sampah sejak dari rumah. Sampah organik, khususnya daun-daun kering, kemudian diolah menjadi pupuk kompos yang kembali dimanfaatkan untuk lingkungan sekitar. Di saat yang sama, masyarakat juga aktif melakukan konservasi dan transplantasi terumbu karang sebagai upaya menjaga ekosistem pesisir yang menjadi bagian penting kehidupan Desa Les.
Semangat menjaga lingkungan tersebut berjalan beriringan dengan upaya melestarikan tradisi. Di tengah pesatnya perkembangan sektor pariwisata, masyarakat Desa Les tetap mempertahankan produksi garam palungan tradisional yang telah diwariskan lintas generasi. Garam diproses secara alami dengan memanfaatkan panas matahari, menghasilkan sekitar dua hingga tiga ton setiap panen pada musim kemarau. Berkat kolaborasi dengan BUMDes dan Pemerintah Provinsi Bali, produk garam tersebut kini memiliki akses pasar yang lebih luas dengan permintaan sekitar satu ton setiap bulan.
Keberhasilan menjaga tradisi sekaligus mengembangkan ekonomi lokal inilah yang menjadikan Desa Les memiliki daya tarik berbeda. Wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati panorama pantai, air terjun, atau suasana desa yang tenang, tetapi juga memperoleh pengalaman melihat langsung proses pembuatan garam tradisional, mengenal kehidupan masyarakat pesisir, hingga memahami pentingnya konservasi laut. Desa Les menunjukkan bahwa kemajuan ekonomi tidak harus mengorbankan identitas lokal.
Peran generasi muda juga menjadi bagian penting dari transformasi tersebut. Melalui kelas bahasa Inggris dan pelatihan pariwisata, pemuda desa dipersiapkan menjadi pemandu wisata yang mampu memperkenalkan kekayaan alam dan budaya Desa Les kepada wisatawan. Tidak hanya itu, mereka juga didorong terlibat dalam promosi digital, pengembangan usaha lokal, hingga berbagai inisiatif kreatif berbasis komunitas. Dengan demikian, pembangunan desa tidak hanya berfokus pada hari ini, tetapi juga mempersiapkan generasi penerus yang mampu menjaga keberlanjutannya.
Pendampingan tersebut turut menghadirkan dampak yang terukur. Program Desa Sejahtera Astra di Desa Les telah menjangkau lebih dari 800 masyarakat. Pendapatan masyarakat meningkat sekitar 25 persen, peluang kerja baru terbuka, dan pemasaran produk lokal semakin kuat. Pada saat yang sama, masyarakat semakin aktif mendukung kesehatan ibu dan anak melalui Posyandu, edukasi kehamilan, serta pemberian makanan tambahan bagi anak yang mengalami stunting maupun gizi buruk.
Kerja bersama yang konsisten akhirnya mendapat pengakuan di tingkat nasional. Desa Les berhasil meraih Juara Umum Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024, sebuah pencapaian yang menjadi simbol keberhasilan masyarakat dalam mengelola potensi desa secara berkelanjutan. Namun, penghargaan itu sejatinya bukanlah garis akhir. Bagi masyarakat Desa Les, keberhasilan sesungguhnya adalah ketika alam tetap lestari, tradisi tetap hidup, dan kesejahteraan dapat dirasakan bersama oleh seluruh warga.
Di tengah berbagai tantangan pembangunan desa, kisah Desa Les membawakan kisah penuh makna. Perubahan besar tidak selalu dimulai dari investasi miliaran rupiah, melainkan dari kesediaan masyarakat untuk bergotong royong menjaga lingkungan, merawat warisan budaya, dan terus belajar mengembangkan potensi lokal. Dari aksi kecil Les Grow hingga pengakuan sebagai Juara ADWI, Desa Les membuktikan bahwa ketika warga, komunitas, dan mitra pembangunan berjalan dalam satu irama, desa bukan hanya menjadi tempat tinggal, melainkan ruang tumbuh bagi masa depan yang lebih lestari dan sejahtera.
Baca Juga
-
Menguak Trauma dan Keberanian Grace dalam Novel Project Hail Mary
-
Menelisik Sisi Gelap Kejiwaan Manusia dalam Film Obsession
-
Membongkar Mitos Kecantikan dan Tragedi Perempuan dalam Cantik itu Luka
-
Eksplorasi Batas Sains dan Kedalaman Empati dalam Film Project Hail Mary
-
Berlari Bersama Forrest Gump: Mengapa Ketulusan Adalah Senjata Terkuat Menghadapi Dunia yang Kejam
Artikel Terkait
Kolom
-
Tolak Tekanan Sosial: Mengapa Perempuan Tak Perlu Malu Memakai Outfit yang Sama
-
Paradoks Belanja Iklan Rp60 Triliun: Pesta Pora Korporasi dan Senjakala Media Massa
-
Gaya Hidup DINK: Keputusan Egois atau Pilihan Paling Rasional di Era Modern?
-
Mengapa Saya Tetap Mendukung Argentina dari Era Maradona hingga Messi
-
Buku Bajakan: Kejahatan yang Terlalu Lama Dianggap Biasa
Terkini
-
Solidaritas di Balik Peron: Cerita Unik dan Sisi Humanis Menjadi Anak Kereta
-
Fenomena HopeTok di Era Digital: Kenapa Konten Positif Semakin Dicari GenZ?
-
Transportasi Darat Sumbang 87 Persen emisi, Bagaimana Kemenhub Percepat Dekarbonisasi?
-
Reborn Rookie: Kisah Konglomerat yang Terlahir Kembali sebagai Karyawan Baru
-
Kopi Kiwa: Menyesap Sensasi Kopi Premium di Pinggir Jalan GOR Kota Jambi