Menurut saya, film The Odyssey membawakan sebuah kisah menarik dari sudut pandang politik. Di balik perjalanan panjang Odysseus, peperangan, tipu daya, dan perjalanan pulang ke Ithaca, terdapat sosok perempuan yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan kekuasaan. Bagi saya, Penelope menunjukkan bahwa kekuatan politik tidak selalu hadir melalui pedang atau medan perang. Sebaliknya, kekuatan justru bekerja lewat kata-kata, kesabaran, dan kemampuan membaca situasi.
Penelope adalah salah satu karakter yang membuat saya melihat kisah The Odyssey dengan cara berbeda. Ketika Odysseus pergi dalam waktu yang sangat lama, Penelope tidak hanya menunggu kepulangan suaminya. Ia juga harus menghadapi tekanan politik di istana. Para pelamar datang dan berusaha mendapatkan kedudukannya sekaligus kekuasaan atas Ithaca. Situasi tersebut menempatkan Penelope dalam posisi yang rumit.
Hal yang menarik bagi saya adalah bagaimana Penelope menggunakan retorika sebagai bentuk pertahanan. Penelope tidak menghadapi para pelamar dengan penolakan terbuka. Sebaliknya, ia menggunakan bahasa, alasan yang masuk akal, dan janji yang ditunda. Strategi tersebut tampak sederhana, tetapi membutuhkan kecerdasan. Penelope memahami bahwa mengatakan tidak secara langsung mungkin tidak cukup aman. Karena itu, ia memilih menggunakan kata-kata sebagai alat untuk mengendalikan keadaan.
Strategi yang Penelope lakukan adalah dengan menjanjikan akan memilih salah satu pelamar setelah menyelesaikan kain kafan untuk Laertes. Pada siang hari, ia menenun kain tersebut. Namun, pada malam hari, ia mengurainya kembali. Bagi saya, tindakan ini merupakan gambaran menarik mengenai diplomasi. Penelope tidak memenangkan pertarungan dengan mengalahkan lawannya secara langsung. Ia menciptakan waktu. Dengan memperpanjang proses, ia mempertahankan kendali atas keputusannya sendiri sekaligus menjaga harapan para pelamar agar mereka tidak mengambil tindakan yang lebih agresif.
Di sinilah saya melihat bahwa diplomasi tidak selalu berarti negosiasi formal antara dua negara atau pemimpin. Diplomasi juga dapat muncul dalam situasi ketika seseorang harus mempertahankan kepentingannya di tengah tekanan. Penelope menunjukkan bagaimana seseorang dapat menggunakan keterampilan komunikasi untuk menghadapi ketimpangan kekuasaan.
Selain Penelope, kehadiran Athena juga memperlihatkan bentuk kekuatan perempuan yang berbeda. Sebagai dewi kebijaksanaan dan strategi, Athena tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik. Ia membantu Odysseus melalui perencanaan, penyamaran, dan kecerdikan. Saya melihat karakter Athena sebagai representasi bahwa kemenangan dalam konflik tidak selalu ditentukan oleh siapa yang paling kuat, tetapi oleh siapa yang mampu memahami situasi dan memilih strategi yang tepat.
Menariknya, kemampuan berpolitik perempuan dalam The Odyssey bekerja dari ruang yang berbeda dengan laki-laki. Jika Odysseus bergerak melalui perjalanan, perang, dan konfrontasi, perempuan seperti Penelope lebih banyak bergerak melalui ruang domestik dan sosial. Namun, perbedaan ruang tersebut tidak berarti perempuan tidak memiliki pengaruh. Justru dari ruang yang terbatas itulah mereka menemukan cara untuk mempertahankan posisi dan kepentingannya.
The Odyssey bukan hanya cerita mengenai seorang laki-laki yang berusaha pulang setelah bertahun-tahun mengembara. Kisah ini juga memperlihatkan bagaimana kecerdasan, retorika, dan diplomasi dapat menjadi bentuk kekuasaan. Penelope mengajarkan bahwa bertahan bukan berarti pasif, sementara Athena menunjukkan bahwa kebijaksanaan dapat menjadi senjata yang sama pentingnya dengan kekuatan.
Setelah melihat sisi tersebut, saya merasa perjalanan pulang Odysseus tidak bisa dipisahkan dari perjuangan orang-orang yang mempertahankan Ithaca selama ia pergi. Di balik kisah kepahlawanan yang sering berpusat pada laki-laki, terdapat perempuan yang menggunakan cara mereka sendiri untuk bertahan, bernegosiasi, dan memengaruhi arah cerita.
Baca Juga
-
Membedah Teka-teki dan Teror Psikologis dalam Film The Whisper Man
-
Memahami Privilege Blindness di Tengah Krisis dan Berita Buruk
-
Kesegaran Komedi Pengusutan Misteri dalam Film 'The Sheep Detective'
-
Ujian Hubungan Jangka Panjang: Mengapa "Before Midnight" Adalah Film Paling Jujur Tentang Pernikahan
-
Bukan Hanya Romance: Bagaimana Trilogi 'Before' Memotret Realisme Hubungan
Artikel Terkait
-
Review Film Agensi Rumah Tangga: Saat Isu Kerasnya PHK Dibalut Komedi Segar
-
Pertama! Film Korea Possible Love Bawa Pulang Piala Silver Lion di Venice
-
Ulasan Toy Story 5: Ketika Gadget Perlahan Mengambil Alih Masa Kecil Anak
-
Kisah Juni Bangun Fun English for Ladies, Bukti Nyata Semangat Women Support Women
-
Review Dark Matter Season 1: Menjelajah Multiverse Demi Menyelamatkan Cinta Sejati
Ulasan
-
Menilik Sisi Rapuh Stray Kids Lewat Lagu Sorry, I Love You, Bikin Nyesek!
-
Review Practical Magic: The Book of Magic: Saat Perempuan Menulis Takdirnya
-
Review Serial The Gentlemen Season 2: Pengkhianatan Berdarah Keluarga Glass
-
UlasanA Bona Fide Killer: Ketika Ibu Rumah Tangga Menyimpan Identitas sebagai Pembunuh
-
Petualangan ke Dunia Tanpa Titik Akhir di Buku Princess, Bajak Laut & Alien
Terkini
-
Karier atau Kesehatan Mental, Haruskah Selalu MemilihThe more I see things like this, Salah Satunya?
-
SSS-Class Revival Hunter Dapat Adaptasi Anime, Tayang Januari 2027
-
Membongkar Rapuhnya Pendidikan Indonesia: Masihkah Kita Mau Menyangkal?
-
Kapan Nikah? Bukan Sekadar Basa-basi, Melainkan Beban Ekspektasi Tak Kasat Mata
-
Kulit Bebas Breakout! 5 Low pH Cleanser Tea Tree yang Ramah Skin Barrier