Sekar Anindyah Lamase | Fairus Farizki
(Dari kiri ke kanan) Moderator Gadis Anggita Maharani memandu diskusi finansial bersama mahasiswa UGM Aditya Pratama, Managing Partner Inventure Yuswo Hadi, dan perencana keuangan Bank Jago Andina Ratri dalam sesi bertajuk "In This Economy: Cerdas Mengelola Uang dan Memulai Investasi Sejak Muda" pada acara Gen Z Impact Fest di UC Hotel UGM, Yogyakarta, Sabtu (12/9/2026). (Foto: Tim Suara.com)
Fairus Farizki

YOGYAKARTA - Julukan “Generasi Sial” atau The Unfortunate Generation kerap dilekatkan kepada Gen Z yang memasuki usia produktif di tengah tekanan ekonomi pasca pandemi dan ancaman disrupsi kecerdasan buatan atau AI. Namun, label tersebut tidak lantas menggambarkan Gen Z sebagai generasi tanpa daya.

Persoalan tersebut dibedah dalam sesi finansial bertajuk “In This Economy: Cerdas Mengelola Uang dan Memulai Investasi Sejak Muda” pada acara Gen Z Impact Fest di UC Hotel UGM, Yogyakarta, Sabtu (12/9/2026). Sesi yang dimoderatori Gadis Anggita Maharani dari SKM Bulaksumur UGM itu menghadirkan Managing Partner Inventure Yuswo Hadi, perencana keuangan Andina Ratri, CFP dari Bank Jago, serta mahasiswa UGM sekaligus content creator Aditya Pratama.

Yuswo memulai diskusi dengan menggambarkan tekanan struktural yang dihadapi generasi kelahiran 1997–2012. Menurutnya, Gen Z memasuki usia produktif ketika pandemi Covid-19 menghantam, sementara setelah pandemi mereka kembali berhadapan dengan perubahan dunia kerja akibat perkembangan AI.

“Ekonomi sulit, rumah tak terbeli, cari kerja susah,” ujar Yuswo Hadi dalam pemaparan materi di Gen Z Impact Fest, Sabtu (12/9/2026). Ia menyebut fase emas Gen Z turut terdampak pandemi, sementara pekerjaan entry-level kini menghadapi ancaman otomatisasi.

Tekanan ekonomi tersebut berjalan beriringan dengan persoalan kesehatan mental. Mengacu pada buku “The Anxious Generation” karya Jonathan Haidt, Yuswo menyebut empat persoalan yang banyak dihadapi Gen Z, yakni loneliness, depresi, kecemasan, hingga resiko bunuh diri. Menurut dia, tingginya interaksi media sosial tidak selalu menghasilkan hubungan sosial yang mendalam.

Meski begitu, Yuswo melihat Gen Z memiliki sejumlah kemampuan adaptif. Keterbatasan sumber daya mendorong kesadaran terhadap frugal living dan intentional spending. Praktik ekonomi sirkular seperti thrifting serta jual-beli barang bekas juga menjadi pilihan konsumsi yang lebih rasional.

Gen Z juga dinilai lebih terbuka terhadap diversifikasi pendapatan melalui pekerjaan lepas atau freelance, content creation, hingga pekerjaan fleksibel. Yuswo mengingatkan kecenderungan tersebut tetap perlu diimbangi pemahaman risiko. “Jangan terjebak investasi ikut-ikutan saham atau kripto tanpa riset rasional,” katanya.

Kerangka tersebut kemudian diterjemahkan secara teknis oleh Andina Ratri, CFP. Ia membagi kesehatan finansial ke dalam lima tingkat, yakni survival, paycheck to paycheck, financial resilience, financial control, dan financial freedom. Setiap tingkat menggambarkan kemampuan seseorang dalam memenuhi kebutuhan hingga membangun kebebasan finansial.

“Untuk mencapai finansial yang sehat, ada empat kebiasaan utama yang harus dikuasai,” ujar Andina dalam sesi diskusi tersebut. Keempatnya mencakup planning, spending, saving dan dana darurat, serta borrowing atau pengelolaan utang.

Andina menyarankan dana darurat minimal tiga kali pengeluaran bulanan bagi individu lajang. Bagi mereka yang menjadi sandwich generation, kebutuhan tersebut dapat mencapai enam hingga 12 kali pengeluaran bulanan. Ia juga mengingatkan anak muda menjaga rekam jejak kredit melalui SLIK OJK karena tunggakan kecil yang terlupakan dapat berdampak pada akses pembiayaan di masa mendatang.

Saat modal finansial belum besar, Andina menyarankan Gen Z mengembangkan social capital melalui keterampilan dan jejaring. “Bergabunglah dengan komunitas positif, bangun integritas, dan perluas jejaring tanpa harus tradisi jilat-menjilat,” ujarnya.

Pengalaman Aditya Pratama kemudian memperlihatkan bagaimana prinsip tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Mahasiswa Jurusan Matematika UGM angkatan 2023 itu bercerita pernah menghadapi kebutuhan laptop untuk praktikum tanpa ingin membebani orang tuanya.

Aditya membuat tantangan bertajuk "Challenge 50 Hari Beli Laptop Rp3 Juta". Video perjuangan pemuda yang bekerja sebagai pelayan restoran ini kemudian viral di media sosial, sehingga mendatangkan banyak tawaran bantuan uang maupun laptop dari warganet. Namun, ia menolak semua tawaran tersebut. Sikapnya berbeda saat ditawari oleh Dewi Persik untuk bekerja membersihkan kaca rumahnya ketika hadir di sebuah acara televisi.

“Saya ingin diajari cara memancing, bukan diberi ikan secara gratis,” ujar Aditya dalam sesi finansial Gen Z Impact Fest. Ia memilih menolak bantuan tersebut karena ingin memenuhi target melalui hasil kerja sendiri.

Aditya menerapkan prinsip pay yourself first dengan menyisihkan sebagian upah harian Rp60.000 ke tabungan tertutup. Ia juga menekan pengeluaran sehari-hari dan membeli buku finansial sebagai bentuk “investasi leher ke atas”. Target yang semula dirancang selama 50 hari akhirnya tercapai dalam 28 hari.

Tiga perspektif yang dijelaskan oleh pembicara tersebut memperlihatkan bahwa persoalan finansial Gen Z berada di antara struktur ekonomi dan kemampuan individu meresponsnya. Tekanan makro memang nyata, tetapi strategi konsumsi berkesadaran, pengelolaan uang, diversifikasi pendapatan, pengembangan jejaring, serta ketekunan dapat menjadi modal untuk membangun ketahanan finansial anak muda.