Saat sedang berkendara, saya sering memperhatikan banner yang dipasang di depan warung atau tempat makan. Belakangan, saya mulai menemukan semakin banyak banner dengan desain yang terlihat terlalu ramai dan terasa mirip satu sama lain.
Ada foto makanan yang terlihat mengilap, warna yang terlalu mencolok, tulisan dengan font miring, hingga berbagai efek visual yang memenuhi hampir setiap sudut banner.
Awalnya, saya tidak terlalu memikirkan bagaimana desain tersebut dibuat. Namun, setelah melihat fenomena penggunaan Artificial Intelligence (AI) yang semakin masif, saya mulai menyadari bahwa beberapa banner memiliki ciri visual yang hampir sama.
Makanan yang ditampilkan bahkan terkadang terlihat tidak alami atau jauh dari produk yang sebenarnya dijual. Alih-alih membuat calon pembeli tertarik, desain semacam ini justru bisa membuat orang bingung atau kehilangan selera.
Lantas, apakah maraknya penggunaan AI pada desain banner UMKM merupakan solusi bagi keterbatasan anggaran atau awal dari matinya kreativitas?
AI Bukan Jalan Pintas Kreativitas
Saya bisa memahami mengapa banyak pelaku UMKM menggunakan AI untuk membuat banner. Tidak semua orang memiliki kemampuan desain, kamera yang bagus, komputer, atau anggaran untuk menyewa jasa desainer.
Dalam kondisi seperti itu, AI jelas bisa menjadi solusi yang sangat membantu. Apalagi, bagi usaha kecil, setiap pengeluaran harus dipikirkan dengan matang. Mengeluarkan uang untuk desain mungkin terasa tidak sepenting membeli bahan baku atau membayar kebutuhan operasional.
Menurut saya, tidak ada yang salah dengan memanfaatkan teknologi untuk menghemat biaya dan membantu proses kreatif.
Namun, masalahnya adalah ketika hasil yang diberikan AI langsung dianggap sebagai hasil akhir tanpa melalui proses berpikir dan penyuntingan.
AI memang bisa membantu membuat desain banner, tetapi bukan berarti kita harus menerima semua hasilnya begitu saja.
Jika gambar makanan terlihat aneh, komposisinya terlalu penuh, atau desainnya justru membuat produk tidak terlihat, tentu masih ada pilihan untuk memperbaikinya.
Kita bisa mengubah prompt, memberikan instruksi yang lebih spesifik, mencoba gaya visual yang berbeda, atau menggunakan AI hanya untuk bagian-bagian tertentu dari desain.
Produk Nyata Tidak Perlu Digantikan Imajinasi
Untuk banner makanan, saya merasa penggunaan gambar AI perlu lebih hati-hati. Sebab, makanan adalah produk yang sangat bergantung pada visual. Orang ingin tahu seperti apa makanan yang akan mereka beli.
Kadang-kadang, foto produk yang diambil dengan ponsel dan ditata dengan sederhana justru terasa lebih jujur dan menggugah selera.
Foto nasi goreng yang sedikit berantakan, ayam geprek yang tidak terlalu mengilap, atau semangkuk bakso yang tampil apa adanya masih terasa lebih meyakinkan daripada makanan hasil AI yang teksturnya malah aneh secara visual.
Foto asli tersebut kemudian bisa dipadukan dengan desain AI untuk membuat latar belakang, menyusun komposisi, atau membantu menciptakan elemen dekoratif.
Menurut saya, di situlah AI seharusnya digunakan, yaitu sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti otak manusia.
Jangan Sampai Banner Menipu Pembeli
Salah satu hal yang menurut saya perlu diperhatikan dari penggunaan AI untuk membuat banner adalah soal kesesuaian antara gambar dan produk yang sebenarnya.
Dalam promosi makanan, visual bukan hanya berfungsi untuk mempercantik tampilan. Gambar tersebut juga membentuk ekspektasi calon pembeli.
Kalau sebuah banner menampilkan ayam goreng yang sangat besar, renyah, dan mengilap, tetapi produk yang diterima pelanggan terlihat sangat berbeda, tentu akan muncul kekecewaan.
Masalahnya bukan semata-mata karena makanannya tidak enak, melainkan karena gambar yang digunakan sejak awal sudah membentuk harapan yang tidak realistis.
Oleh karena itu, AI sebaiknya digunakan untuk membantu mempercantik tampilan tanpa mengubah produk secara berlebihan.
Teknologi boleh semakin canggih, tetapi selera tetap tidak bisa di-generate. Sebab, tidak semua gambar yang terlihat mewah akan membuat orang ingin membeli.
Baca Juga
-
Kesenjangan Harga dan Gaji: Mengapa Makanan di Mal Makin Tak Terjangkau?
-
Ulasan Drama Korea Evilive: Menelusuri Sisi Gelap Seorang Pengacara
-
Escapism di Layar: Mengapa Konten Flexing Laku Keras di Media Sosial?
-
Ketimpangan Jejak Karbon: Emisi Orang Kaya di Balik Kampanye Go Green
-
The Killing Vote: Potret Kegagalan Hukum yang Melahirkan Vigilantisme
Artikel Terkait
Kolom
-
Pajak Buku dan Masa Depan Literasi: Sudah Waktunya Pembebasan PPN Diperluas?
-
Aksi Les Grow hingga Juara ADWI: Sinergi Warga Desa Les Rawat Bumi & Tradisi
-
Tolak Tekanan Sosial: Mengapa Perempuan Tak Perlu Malu Memakai Outfit yang Sama
-
Paradoks Belanja Iklan Rp60 Triliun: Pesta Pora Korporasi dan Senjakala Media Massa
-
Gaya Hidup DINK: Keputusan Egois atau Pilihan Paling Rasional di Era Modern?
Terkini
-
Piala Dunia 2026 Usai, Bagaimana Nasib Bola dan Jersey yang Sudah Dipakai?
-
Di Balik Siluk Sisik Emas: Kisah Johnny Chandra Merawat Arwana yang Kian Langka
-
Solidaritas di Balik Peron: Cerita Unik dan Sisi Humanis Menjadi Anak Kereta
-
Fenomena HopeTok di Era Digital: Kenapa Konten Positif Semakin Dicari GenZ?
-
Transportasi Darat Sumbang 87 Persen emisi, Bagaimana Kemenhub Percepat Dekarbonisasi?