Hayuning Ratri Hapsari | Dini Sukmaningtyas
Ilustrasi wawancara kerja (magnific)
Dini Sukmaningtyas

Dalam proses mencari kerja, ada berbagai metode rekrutmen yang digunakan perusahaan untuk menemukan kandidat.

Salah satunya adalah walk-in interview, yakni proses wawancara kerja yang memungkinkan pelamar datang langsung ke lokasi yang telah ditentukan tanpa harus menunggu panggilan wawancara secara personal.

Biasanya, perusahaan akan membuka kesempatan bagi siapa saja yang memenuhi kualifikasi untuk datang membawa CV dan mengikuti proses seleksi pada waktu yang telah ditentukan.

Sekilas, metode ini terdengar praktis. Perusahaan dapat bertemu langsung dengan banyak kandidat dalam satu waktu, sementara pelamar bisa segera mendapatkan kesempatan untuk mengikuti interview tanpa harus menunggu proses seleksi administrasi yang panjang.

Namun, bagaimana jika jumlah pelamar yang datang ternyata jauh lebih banyak dibandingkan posisi yang tersedia?

Dalam situasi seperti ini, sistem walk-in interview sebenarnya memudahkan rekrutmen atau justru membebani pelamar?

Ketika Efisiensi Perusahaan Dibayar Pelamar

Salah satu hal yang sering luput dibicarakan dalam proses rekrutmen adalah biaya yang harus dikeluarkan pelamar. Bagi perusahaan, membuka walk-in interview mungkin terlihat sederhana. Mereka hanya perlu menyediakan tempat, menyiapkan tim rekrutmen, lalu menunggu kandidat datang.

Namun, bagi pelamar, proses tersebut tidak sesederhana itu. Ada ongkos transportasi, biaya makan, waktu yang terbuang, bahkan kemungkinan harus mengambil cuti atau meninggalkan pekerjaan sementara.

Apalagi jika hasilnya adalah antre berjam-jam dan kemudian tidak lolos pada tahap awal. Tentu saja, tidak ada yang menjamin seseorang akan diterima setelah mengikuti interview. Itu adalah bagian dari proses mencari kerja.

Namun, perusahaan juga seharusnya menyadari bahwa proses rekrutmen bukan hanya menghabiskan waktu mereka, melainkan juga waktu dan sumber daya pelamar.

Rekrutmen Konvensional di Tengah Kemajuan Teknologi

Saya memahami bahwa interview secara langsung memiliki kelebihan. Ada hal-hal yang mungkin lebih mudah dinilai ketika kandidat bertemu langsung dengan HRD atau user.

Bahasa tubuh, cara berkomunikasi, dan respons spontan memang bisa memberikan gambaran yang berbeda dibandingkan interview melalui video call.

Namun, bukan berarti semua tahap rekrutmen harus dilakukan secara langsung. Perusahaan bisa melakukan penyaringan awal melalui email, formulir online, atau sistem rekrutmen digital.

Dari ratusan CV yang masuk, perusahaan dapat memilih kandidat yang paling sesuai dengan kualifikasi. Setelah itu, barulah kandidat terpilih dipanggil untuk mengikuti interview secara langsung.

Dengan sistem seperti ini, perusahaan tetap bisa mendapatkan kandidat terbaik tanpa harus membuat semua pelamar datang.

Pelamar pun tidak perlu mengeluarkan biaya dan waktu hanya untuk mengikuti proses seleksi awal yang sebenarnya bisa dilakukan secara online.

Tidak Semua Kesulitan dalam Mencari Kerja Harus Dianggap Wajar

Dalam diskusi tentang walk-in interview, kritik terhadap proses rekrutmen kerap dianggap sebagai tanda bahwa pelamar tidak mau berusaha.

Ketika seseorang mengeluhkan ongkos transportasi, waktu yang terbuang, atau antrean yang terlalu panjang, keluhan tersebut sering dianggap sebagai tanda bahwa ia manja dan malas.

Pelamar justru didorong untuk lebih banyak berikhtiar dan menerima berbagai ketidaknyamanan dalam proses rekrutmen tanpa terlalu banyak mengeluh.

Saya tidak sepakat dengan cara berpikir seperti itu. Mencari kerja memang membutuhkan usaha. Namun, bukan berarti setiap proses yang melelahkan otomatis menjadi bukti perjuangan. Kadang-kadang, kesulitan itu memang muncul karena sistem yang tidak efisien.

Kalau sebuah perusahaan hanya membutuhkan dua orang, tetapi membiarkan ratusan pelamar datang tanpa penyaringan awal, lalu menganggap waktu dan biaya mereka sebagai sesuatu yang tidak penting, menurut saya hal itu patut dikritik.

Pelamar memang membutuhkan pekerjaan. Tetapi kebutuhan tersebut tidak seharusnya membuat mereka kehilangan hak untuk mempertanyakan proses rekrutmen yang tidak masuk akal. Apalagi, orang yang sedang mencari kerja biasanya justru sedang berada dalam kondisi finansial yang terbatas.

Saya rasa, sudah waktunya kita berhenti menganggap proses mencari kerja sebagai semacam ujian ketahanan. Sistem walk-in interview tentu masih bisa digunakan. Namun, perusahaan perlu menggunakannya secara lebih bijak.

Jangan sampai karena lapangan kerja sedang sulit didapatkan, pelamar dianggap harus menerima semua prosedur tanpa boleh mengkritik.