Hayuning Ratri Hapsari | Dini Sukmaningtyas
Ilustrasi bayi (magnific)
Dini Sukmaningtyas

Nama adalah hadiah pertama yang diberikan orang tua kepada anak. Namun, di tengah tren nama anak yang semakin panjang, terdiri dari banyak suku kata, dan kadang sulit dieja, hadiah tersebut justru bisa berubah menjadi merepotkan di masa depan.

Nama yang terdengar unik memang menarik, tetapi anaklah yang kelak harus membawanya ke sekolah, dunia kerja, hingga berbagai urusan kependudukan.

Menariknya, kecenderungan memberikan nama unik kepada anak juga memperlihatkan perubahan cara orang Indonesia memandang nama. Nama dengan nuansa Jepang, Korea, Arab, Barat, atau Latin semakin mudah ditemukan.

Lantas, sudahkah orang tua memikirkan bagaimana nama yang mereka pilih akan digunakan anak dalam kehidupan sehari-hari hingga urusan administratif?

Nama Unik dan Keinginan untuk Terlihat Berbeda

Saya kira, salah satu alasan nama anak sekarang semakin beragam adalah karena orang tua punya jauh lebih banyak referensi dibanding generasi sebelumnya. Internet membuat kita bisa menemukan nama dari berbagai negara hanya dalam beberapa kali pencarian. Nama yang dulu terasa asing kini bisa muncul di media sosial, film, drama, sampai konten parenting dan akhirnya masuk ke daftar pilihan nama bayi.

Ada pula keinginan sederhana untuk membuat anak punya nama yang berbeda dari orang lain. Rasanya memang menyenangkan jika nama anak tidak pasaran, apalagi jika memiliki arti yang dianggap bagus. Orang tua bisa merasa sudah memberikan sesuatu yang spesial sejak anak belum lahir.

Nama Anak di Tengah Pergeseran Budaya

Selain itu, ada kecenderungan menganggap nama asing lebih keren, sementara nama yang "Indonesia banget" dianggap biasa saja.

Tidak bisa dimungkiri, internet membuat batas antarbudaya semakin tipis. Kita bisa mengenal bahasa, film, musik, sampai kehidupan orang dari berbagai negara hanya lewat layar, sampai-sampai.

Memilih nama dari bahasa atau budaya lain sebenarnya sah-sah saja. Namun, mengapa nama yang terdengar asing begitu mudah diasosiasikan dengan kesan modern dan berkelas, sedangkan nama dari budaya sendiri kadang justru dipandang sebelah mata?

Padahal, Indonesia sendiri punya banyak nama yang berasal dari bahasa dan budaya daerah dengan makna yang tidak kalah bagus. Hanya saja, nama-nama tersebut mungkin terasa kurang menarik karena sudah terlalu familiar.

Saya rasa, tidak masalah kalau orang tua ingin menggabungkan berbagai pengaruh budaya dalam nama anak. Dunia memang semakin terbuka dan pilihan nama pun ikut berkembang. Namun, jangan sampai nama dari luar selalu dianggap lebih keren, sementara nama yang dekat dengan keseharian sendiri justru buru-buru dicap kuno.

Nama Bukan Sekadar Hiasan di Akta Kelahiran

Nama anak bukan hanya akan digunakan di rumah. Nama tersebut akan muncul di daftar absensi sekolah, dokumen pekerjaan, hingga berbagai urusan profesional yang dijalaninya kelak.

Belum lagi urusan administratif yang mengharuskan nama ditulis dengan tepat dan konsisten. Salah satu huruf saja berbeda bisa membuat pemilik nama harus menjelaskan atau mengurus kembali dokumen yang tidak sesuai.

Tentu saja, nama panjang tidak otomatis berarti menyusahkan. Banyak orang baik-baik saja dengan nama yang terdiri dari beberapa kata. Namun, orang tua tetap perlu menyadari bahwa setiap kata tambahan dan ejaan yang dibuat unik punya konsekuensi tersendiri.

Saya rasa tidak ada salahnya menguji sebuah nama sebelum benar-benar memberikannya kepada anak. Bukan dengan tes yang rumit, cukup bayangkan nama itu digunakan di sekolah, tercetak di kartu identitas, disebut dalam wawancara kerja, atau dipakai dalam lingkungan profesional.

Dari sana, orang tua mungkin bisa melihat apakah nama tersebut memang unik dan indah, atau justru berpotensi merepotkan pemiliknya.