Saya pernah berada di fase di mana hampir semua yang saya lakukan terasa seperti “pertunjukan”. Bukan ingin melebih-lebihkan, tapi kondisi ini mengarah pada keinginan untuk terlihat cukup—cukup baik, cukup berhasil, cukup layak di mata orang lain.
Saya bekerja keras, menjaga penampilan, cukup aktif di media sosial, dan berusaha menjadi versi terbaik dari diri saya. Tapi anehnya, semakin saya berusaha, semakin saya merasa kosong seolah semua itu belum pernah benar-benar cukup.
Validasi yang Diam-diam Dicari
Awalnya saya tidak menyadari kalau saya sedang mencari validasi. Saya hanya merasa senang ketika mendapat pujian. Merasa puas ketika apa yang saya lakukan diapresiasi. Dan merasa lebih percaya diri ketika diakui.
Itu terasa normal, bahkan sangat lumrah karena semua orang juga terlihat seperti itu. Sampai saya sadar akan ketergantungan pada respons orang lain. Diapresiasi, saya merasa berharga. Tapi jika tidak, saya mulai meragukan diri sendiri. Dan kondisi ini sangat tidak sehat.
Terjebak Standar yang Tidak Pernah Selesai
Semakin saya mencari validasi, semakin tinggi standar yang saya tetapkan untuk diri sendiri. Harus lebih baik dari sebelumnya. Harus lebih terlihat. Harus lebih “layak” dibandingkan orang lain.
Masalahnya, standar itu tidak pernah selesai. Selalu ada yang lebih. Selalu saja ada yang terasa kurang. Dan tanpa sadar, saya terus berlari tanpa tahu kapan harus berhenti. Ternyata situasi ini membuat saya lelah.
Bukan lelah pada usahanya, tapi perasaan bahwa saya harus menjadi seseorang yang diinginkan. Saya mulai menyaring apa yang saya tampilkan. Memilih kata-kata dengan hati-hati. Bahkan kadang menahan diri untuk tidak menjadi terlalu “jujur”.
Semua demi satu hal: diterima orang lain. Tapi semakin saya lakukan itu, semakin saya merasa jauh dari diri sendiri. Dan celakanya, standar validasi sosial yang terus bertambah dan berubah membuat saya merasa tertinggal meski selalu mengikuti perkembangannya.
Titik Balik: Saat Saya Mulai Bertanya
Ada satu momen di mana saya berhenti sejenak. Saya bertanya pada diri sendiri: untuk siapa saya melakukan semua ini? Jawabannya tidak langsung muncul. Tapi perlahan, saya menyadari kalau banyak hal yang saya lakukan bukan benar-benar untuk saya.
Semua usaha ini hanya untuk memenuhi ekspektasi dan itu membuat saya lelah. Titik balik ini membuat saya memilih berhenti dan menata ulang mindset hidup. Saya mulai belajar mengenal arti “cukup” di tengah tuntutan yang tidak ada habisnya.
Belajar Mengenal Arti “Cukup”
Awalnya terdengar mudah, tapi ternyata sulit dijalani. Karena selama ini, saya terbiasa mengejar lebih—lebih baik, lebih tinggi, dan lebih terlihat. Sekarang, saya mencoba melihat dengan cara yang berbeda.
Cukup bukan berarti berhenti berkembang. Tapi tahu kapan harus berhenti membandingkan. Tahu kapan harus merasa puas. Dan yang paling penting, tahu bahwa nilai diri saya tidak ditentukan oleh orang lain.
Melepaskan Validasi: Bukan Berarti Tidak Peduli
Salah satu ketakutan saya adalah jika saya tidak lagi mencari validasi, apakah saya akan menjadi tidak peduli? Ternyata tidak. Saya tetap peduli. Tetap ingin berkembang. Tetap ingin melakukan yang terbaik. Tapi sekarang, alasannya berbeda.
Bukan lagi untuk diakui orang lain, tapi karena saya memang ingin. Dan itu terasa jauh lebih ringan. Saya tidak akan bilang jika prosesnya tidak akan sulit. Bahkan saya sendiri belum sepenuhnya lepas dari keinginan untuk divalidasi.
Masih ada momen di mana saya kembali membandingkan diri. Masih ada saat di mana saya merasa kurang. Tapi sekarang, saya sudah lebih sadar. Saya tahu kapan saya mulai kehilangan arah, dan saya bisa kembali. Sedikit demi sedikit.
Belajar Merasa “Cukup”: Prosesnya Panjang
Belajar merasa “cukup” adalah proses yang panjang. Tidak instan dan pastinya tidak selalu mudah. Tapi bagi saya, ini adalah langkah penting untuk kembali pada diri sendiri. Karena pada akhirnya, tidak semua orang harus mengerti dan menyetujui pilihan saya.
Sekarang semua respons minor orang tidak lagi menjadi masalah selama saya tahu bahwa saya sudah melakukan yang terbaik—untuk diri saya sendiri. Dan mungkin, di situlah arti “cukup” yang sebenarnya yang sedang saya coba definisikan kembali.
Baca Juga
-
Skincare Routine ke Beauty Consumerism: Self-Care Dijadikan Alasan Belanja?
-
Single Life Bukan Kegagalan: Saat Perempuan Tak Lagi Takut Hidup Melajang
-
Menjadi Dewasa Tidak Sesederhana Itu: Realita Adulting Gen Z di Era Mahal
-
Soft Life In This Economy: Bisakah Tenang di Tengah Biaya Hidup Meningkat?
-
Gen Z dan Fenomena Dating Fatigue: Saat Mencari Cinta Justru Bikin Lelah
Artikel Terkait
Kolom
-
Skincare Routine ke Beauty Consumerism: Self-Care Dijadikan Alasan Belanja?
-
Stop Sikap Overproud: Pejabat Bukan Raja, Kenapa Masih Disambut Berlebihan?
-
Tone Deaf Berkedok Self-Care: Tak Semua Orang Bisa Menjauh dari Bad News
-
Ironis! Guru Dipaksa Jadi "Pencicip Racun" Akibat Amputasi Logika Program MBG
-
Disebut "Jamet" hingga Difatwa Haram, Mengapa Sound Horeg Tetap Digemari?
Terkini
-
Bye-Bye Muka Tomat! Ini 4 Soothing Gel Mugwort Khusus Kulit Berminyak, Cuma 30 Ribuan
-
Gebrakan Baru! Sinema Desa Resmi Disulap Jadi Motor Ekonomi Baru di 2026
-
Bebas Kemerahan, 5 Sunscreen Korea Cica yang Bikin Kulit Calm dan Lembap
-
Manga You Are a Four Leaf Clover Diadaptasi ke Anime
-
Bertabur Bintang! Kim Yeon Koung, Lee Junho, dan Kazuha Resmi Jadi Staf Baru di Kian's Bizarre B&B 2