Lintang Siltya Utami | Nayla Za
Stasiun MRT. (Suara.com)
Nayla Za

Sebagai seorang mahasiswi berusia dua puluh tahun yang setiap hari harus bergelut dengan jadwal kuliah yang padat, mobilitas adalah segalanya. Dulu, membayangkan perjalanan melintasi ibu kota selalu membuat saya lelah duluan. Kemacetan jalanan Jakarta rasanya sudah menjadi rahasia umum yang membuat siapa saja bisa kehabisan energi sebelum hari benar-benar dimulai. Namun, pandangan saya tentang perjalanan di ibu kota berubah total sejak saya mengenal dan rutin menggunakan MRT Jakarta. Transportasi yang satu ini tidak hanya sekadar alat untuk berpindah tempat, tetapi sudah menjadi bagian dari gaya hidup saya sehari-hari.

MRT atau Mass Rapid Transit ini memang sangat istimewa karena saat ini baru satu-satunya yang beroperasi di Indonesia, tepatnya di Jakarta. Menginjakkan kaki pertama kali di stasiun MRT bawah tanah memberikan sensasi yang luar biasa. Rasanya seperti sedang tidak berada di Jakarta, melainkan di kota-kota besar negara maju yang sering saya tonton di layar kaca. Semuanya tertata dengan sangat rapi, bersih, dan terang. Udara sejuk dari pendingin ruangan langsung menyambut, mengusir gerah dan peluh setelah berjalan kaki dari area kampus.

Keistimewaan MRT bukan hanya pada fasilitas stasiunnya yang modern. Ketepatan waktunya adalah juara sejati. Sebagai mahasiswi yang sering dikejar tenggat waktu tugas dan jadwal kelas yang ketat, mengetahui bahwa kereta akan datang tepat pada menit yang sudah dijadwalkan memberikan ketenangan batin tersendiri. Tidak ada lagi cerita cemas menunggu angkutan yang tak kunjung tiba atau terjebak berjam-jam di lampu merah. Duduk di dalam gerbong yang melaju mulus, bebas hambatan, sambil mendengarkan musik favorit melalui penyuara telinga adalah kemewahan kecil yang sangat saya syukuri setiap hari.

Rasa cinta dan antusiasme saya terhadap transportasi umum ini ternyata semakin berkobar setelah saya mengikuti sebuah acara yang luar biasa menginspirasi. Beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan hadir di acara bertajuk "Lintas". Acara yang sangat edukatif dan seru ini diselenggarakan oleh Kementerian Perhubungan atau Kemenhub bekerja sama dengan platform Yoursay. Awalnya, saya ikut hanya karena penasaran dan kebetulan diajak oleh teman komunitas. Namun, siapa sangka, sesi diskusi dan pemaparan di acara Lintas tersebut benar-benar membuka mata saya lebih lebar mengenai betapa pentingnya peran anak muda dalam mendukung ekosistem transportasi publik.

Di acara Lintas, kami diajak untuk melihat gambaran besar tentang masa depan transportasi di Indonesia. Kampanye dari Kemenhub dan Yoursay itu dikemas dengan sangat menarik, interaktif, dan tentunya relevan dengan gaya bahasa anak muda. Mendengarkan berbagai inovasi yang sedang dan akan dilakukan oleh pemerintah membuat saya merasa bangga sekaligus memiliki tanggung jawab baru. Saya sadar bahwa dengan memilih naik transportasi massal seperti MRT, saya bukan sekadar menghemat waktu pribadi, tetapi juga ikut berkontribusi nyata dalam mengurangi emisi karbon dan kemacetan kota. Sepulang dari acara tersebut, semangat saya untuk terus memanfaatkan transportasi umum menjadi berlipat ganda. Saya bahkan mulai aktif mengajak teman-teman sekelas untuk beralih meninggalkan kendaraan pribadi mereka.

Kini, setelah menjadikan MRT sebagai sahabat setia di perjalanan, ada satu hal lagi yang sangat mengusik rasa penasaran saya. Sejak jalur LRT atau Light Rail Transit yang membentang melintasi wilayah Jakarta dan sekitarnya diresmikan, saya belum berkesempatan untuk mencobanya. Melihat tiang-tiang pancang tinggi dan kereta LRT yang melintas gagah membelah kota membuat saya tidak sabar untuk segera menjajal rute baru tersebut.

Banyak teman yang bercerita bahwa pengalaman naik LRT juga tidak kalah seru dan memberikan nuansa yang sama sekali berbeda. Jika MRT banyak berada di bawah tanah, LRT menawarkan pemandangan kota dari ketinggian yang pastinya sangat memanjakan mata. Saya sudah merencanakan akhir pekan nanti untuk sengaja meluangkan waktu mencoba LRT bersama teman-teman. Saya ingin merasakan sendiri sensasi melayang di atas jalanan yang padat, membandingkan kenyamanannya dengan MRT yang biasa saya naiki, dan tentunya menambah daftar pengalaman bertransportasi umum saya.

Bagi saya, menjadi mahasiswi di era di mana fasilitas publik berkembang dengan pesat adalah sebuah privilese yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin. MRT telah membuktikan bahwa Jakarta mampu memiliki sistem transportasi kelas dunia yang memanusiakan setiap penggunanya. Ditambah dengan dorongan semangat dari acara kolaborasi Kemenhub dan Yoursay yang membuka wawasan tempo hari, saya semakin yakin bahwa masa depan mobilitas kita ada pada transportasi publik. Saya tidak sabar untuk terus menjelajahi sudut-sudut kota ini, beralih dari satu peron ke peron lainnya, dan menantikan inovasi-inovasi transportasi berikutnya yang akan mengubah wajah transportasi Indonesia menjadi lebih baik lagi.

Baca Juga