M. Reza Sulaiman | Sukatman Sukatman
ilustrasi motor listrik. (Freepik)
Sukatman Sukatman

Pemerintah baru saja melemparkan kabar yang membakar semangat nasionalisme. Lewat Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi dan Presiden Prabowo Subianto, pemerintah mengumumkan rencana peluncuran pabrik motor listrik nasional.

Narasi yang diusung sangat memikat: ini adalah bukti sahih bahwa bangsa Indonesia mampu, sekaligus jurus ampuh untuk memangkas ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Namun, di balik selebrasi tersebut, ada satu pertanyaan krusial yang perlu kita tanyakan secara jujur: apakah yang dimaksud "mampu" ini benar-benar wujud kemandirian teknologi, atau sekadar euforia merakit komponen asing di atas tanah sendiri?

Menguliti Kata 'Mampu': Riset Lokal atau Sekadar Assembly?

Sebagai masyarakat pengguna kendaraan roda dua terbesar di Asia Tenggara, kita tentu rindu melihat merek lokal bertengger manis di jalanan. Namun, kita juga tidak boleh naif.

Industri kendaraan listrik (electric vehicle) bukan sekadar urusan membalut rangka besi dengan bodi plastik berwarna-warni. Jantung utama dari sebuah motor listrik terletak pada teknologi baterai, inverter, dan electric motor (dinamo).

Jika komponen-komponen vital ini masih diimpor secara utuh—misalnya dari Tiongkok—lalu di Indonesia hanya dipasang baut dan ditempeli stiker "Buatan Indonesia", lantas di mana letak kebanggaannya?

Jangan sampai label "nasional" ini hanya menjadi komoditas retorika politik demi menyenangkan publik. Indonesia tidak boleh terjebak dalam ilusi kemandirian jika pada kenyataannya kita hanya berfungsi sebagai tukang rakit (assembler) pabrikan luar negeri.

Menagih Janji TKDN dan Rantai Pasok Lokal

Pemerintah memang mematok target Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) untuk kendaraan listrik. Namun, mengejar persentase TKDN jangan sampai sebatas di atas kertas atau formalitas administratif demi mencairkan insentif dan subsidi.

Tantangan terberat kita hari ini adalah membangun ekosistem rantai pasok lokal dari hulu ke hilir. Indonesia memang kaya akan nikel. Namun, apakah kita sudah memiliki kapasitas riset dan manufaktur untuk mengolah nikel tersebut menjadi sel baterai buatan anak bangsa secara mandiri?

Tanpa integrasi riset lokal dan industri pendukung di dalam negeri, klaim "motor listrik nasional" akan selalu goyah begitu rantai pasok global terganggu. Kita ingin melihat adanya transfer teknologi yang konkret.

Pabrik yang didirikan harus melibatkan para insinyur lokal, memperkuat laboratorium riset di universitas-universitas dalam negeri, dan membina UMKM komponen lokal agar bisa naik kelas menjadi pemasok industri EV.

Ujian Sesungguhnya Adalah Saat Mengaspal

Membangun industri kendaraan listrik nasional adalah langkah berani yang patut diapresiasi. Namun, pembuktian bahwa "Indonesia Mampu" tidak diukur dari seberapa megah seremoni peresmian pabrik atau seberapa riuh tepuk tangan saat pita digunting.

Ujian sesungguhnya adalah ketika motor tersebut mengaspal: apakah teknologi kuncinya benar-benar lahir dari buah pikir anak bangsa, dan apakah ekosistemnya mampu bertahan secara mandiri tanpa terus-menerus bergantung pada komponen impor?

Semoga proyek motor listrik nasional ini tidak berakhir menjadi proyek nostalgia atau sekadar rebranding produk luar. Sebab, rakyat tidak hanya butuh kebanggaan semu di atas brosur, melainkan kemandirian industri yang nyata di jalanan.