Algoritma media sosial zaman sekarang punya kesaktian super sakti yang bisa bikin kita gampang amnesia sebelum sempat mengingat sesuatu. Hari ini kita dibuat sibuk gontok-gontokan politik, besok digiring ghibah drama artis, lusa ribut soal harga kopi yang makin mencekik. Padahal, begitu bulan September datang, ada hal penting untuk merawat ingatan tentang mereka yang pernah jadi korban kebrutalan moncong senjata negara.
Masyarakat sipil akrab menyebut bulan ini sebagai "September Hitam". Bukan tanpa alasan, Komnas HAM saja sampai mencatat ada 17 rapor merah pelanggaran HAM berat yang tak kunjung kelar diurus negara. Daftarnya panjang dan bikin merinding, mulai dari Tragedi 1965–1966, Tanjung Priok, sampai penembakan mahasiswa di Trisakti dan peristiwa Semanggi.
Mulanya, rentetan kabar duka itu dibuka pada akhir September 1965, bermula dari pembantaian massal yang meluas dan terstruktur. Komnas HAM sudah ketok palu bilang kalau peristiwa itu sah sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan. Isinya lengkap dari urusan nyawa melayang, disiksa, diperkosa, sampai orang-orang yang mendadak hilang bak ditelan bumi tanpa pernah pulang.
Belum juga negara kelar tobat dari dosa masa lalu, September 1984 giliran darah rakyat tumpah di Tanjung Priok. Tragisnya, panggung pengadilan kasus itu cuma jadi tontonan formalitas belaka, bubar jalan tanpa pernah memberi keadilan yang sesungguhnya bagi para korban.
Maju ke September 1999, ada Tragedi Semanggi II. Waktu itu mahasiswa turun ke jalan menolak RUU Penanggulangan Keadaan Bahaya, tapi malah dihadiahi kekerasan sampai nyawa melayang. Oleh Komnas HAM, drama berdarah Trisakti dan Semanggi ini resmi dimasukkan ke dalam kotak tebal berjudul "Dugaan Pelanggaran HAM Berat".
Belum kering air mata, tanggal 7 September 2004, cakrawala kita mendadak gelap gulita karena Cak Munir diracun di udara dalam penerbangan ke Belanda. Sampai hari ini, misteri siapa dalang pembunuhnya masih jadi hantu sejarah. Komnas HAM pun baru sibuk bikin tim khusus tahun 2022 buat menyelidiki ulang, sebuah keterlambatan luar biasa yang membuat mereka terkesan baru bangkit dari hibernasi sejarah yang panjang.
Makanya, di titik ini, September Hitam adalah arsip luka massal yang sialnya, hampir tidak pernah menemukan kabar baik di meja hijau. Bayangkan, dari belasan kasus pelanggaran HAM berat, Komnas HAM mencatat baru empat yang sempat dicicipkan ke pengadilan. Tragisnya, dari empat kasus itu, tidak ada satu pun terdakwa yang divonis bersalah! Semuanya bebas melenggang kangkung sambil tersenyum lebar.
Penyakit hobi menindas rakyat ini ternyata tidak berhenti di buku sejarah masa lalu. Kita kilas balik saja tanggal 7 September 2023 kemarin di Pulau Rempang. Demi proyek mentereng Rempang Eco-City, seribuan aparat gabungan dikerahkan bak mau perang dunia. Hasil temuan YLBHI sungguh bikin miris: warga ditangkap dan gas air mata ditembakkan sampai nyasar ke sekolah-sekolah dasar.
Anehnya, aparat berkilah kalau urusan gas air mata masuk kelas itu sudah "sesuai prosedur" dan gara-gara tiupan angin. Ya ampun, angin lagi yang disalahkan! Dagelan model begini justru mempertegas kalau kita beneran butuh tim pemeriksa independen yang jujur, bukan sekadar rilis pembelaan yang bikin publik menepuk jidat terus.
Jadi, urusan "menolak lupa" ini sebenarnya sederhana. Kita ini bukan sedang memelihara dendam kesumat kayak di sinetron, tapi cuma mau memastikan para penguasa itu belajar dari borok kesalahannya sendiri. Lagi pula, para korban sejarah itu bukan sekadar nama mistis yang dipajang di halaman belakang buku pelajaran SD. Mereka itu manusia biasa yang dulunya hobi bangun pagi, punya keluarga, dan suka ngopi kayak kita, yang nasibnya mendadak ambyar gara-gara kebrutalan yang tak pernah mereka duga.
Anak muda zaman sekarang mungkin merasa cerita "September Hitam" ini sudah kadaluarsa dan bau tanah. Kasus Cak Munir sudah lewat dua dekade, Tragedi 1965 sudah enam dekade, dan Tanjung Priok sudah injak kepala empat puluh tahun. Tapi ingat, Kawan, hak buat hidup aman, bebas bicara, berkumpul, dan beda isi kepala itu bukan urusan masa lalu. Itu urusan perut dan hak kita hari ini!
Makanya, merawat ingatan itu bukan kerjaan romantis mendayu-dayu. Ini semacam alarm kebakaran di rumah. Bunyi alarmnya memang berisik dan bikin kuping gatal, tapi ya jauh lebih mending ketimbang rumah kita hangus terbakar diam-diam saat kita lagi asyik tidur pulas. Biarlah bulan September tetap hitam di dalam lembaran kalender sejarah. Yang penting, jangan sampai warna kelamnya itu menjalar dan jadi menodai warna kehidupan kita sehari-hari!
Baca Juga
-
Ulasan Novel Dompet Ayah, Sepatu Ibu: Catatan Perjuangan Karya J.S. Khairen
-
Kontroversi Uan Juicy Luicy: Mengapa Humor Misoginis Tak Boleh Dimaklumi
-
Paranoia Kolonial di Tanah Suci: Membedah Politik Haji Pada Masa Penjajahan
-
Menangkis Label Generasi Sial, Gen Z Impact Fest Bedah Ketahanan Finansial
-
Menjaga Daya Kritis Gen Z, Suara.com dan Bulaksumur UGM Gelar Gen Z Impact
Artikel Terkait
Kolom
-
Minyak Sawit Lebih Efisien, Tapi Hutan Bukan Harga yang Boleh Dikorbankan
-
Modernisasi Keselamatan Kelautan: Dari Analisis Pascatragedi Menuju Pencegahan Dini Berbasis AI
-
Konten Mindfulness Maudy Ayunda Dikritik Tone Deaf, di Mana Letak Masalahnya?
-
Kalau Namanya Makan Bergizi Gratis, Mana Jaminan Gizinya?
-
Saat Program Andalan Memakan Korban, Bukankah Presiden Seharusnya Geram?
Terkini
-
Pertama! Film Korea Possible Love Bawa Pulang Piala Silver Lion di Venice
-
Bukan Sekadar Belajar Bahasa Inggris, Ini Cerita Dua Ibu Merawat Kewarasan di Tengah Kesibukan
-
Indonesias Horse Racing: 45 Kuda Raih Posisi Podium di IHR Merdeka Cup 2026
-
Review Film Agensi Rumah Tangga: Saat Isu Kerasnya PHK Dibalut Komedi Segar
-
Ultimatum Keras Erick Thohir! Timnas Indonesia Harga Mati Juara FIFA ASEAN Cup 2026