Di era media sosial yang sangat mengagungkan aspek visual, cara kita berpakaian bukan lagi sekadar urusan melindungi tubuh dari cuaca atau memenuhi fungsi estetika pribadi. Baju telah bertransformasi menjadi bahasa identitas—bahkan alat utama untuk mendulang apresiasi publik melalui konten Outfit of the Day (OOTD). Kita tentu tidak asing dengan istilah-istilah populer seperti Cewek Bumi, Cewek Mamba, hingga gaya skater yang dirayakan sebagai bentuk kebebasan berekspresi.
Namun, di balik selebrasi gaya tersebut, ada fenomena sosial yang mengkhawatirkan dan kian sering kita jumpai, baik di linimasa maupun kehidupan nyata: memudarnya kepekaan situasi (situational awareness) dalam berbusana demi mengejar estetika foto semata.
Demi mendapatkan hasil foto yang mencolok atau tampilan feed Instagram yang serasi, tidak sedikit orang yang nekat mengenakan pakaian tanpa memedulikan tempatnya. Kita mungkin pernah melihat seseorang mengenakan pakaian yang terlalu terbuka saat menghadiri pemakaman, gaun pesta yang heboh di area tempat ibadah bersejarah, hingga busana yang kurang pantas saat mengurus administrasi di instansi publik.
Ketika ditegur atau dikritik, dalih yang paling sering dilontarkan adalah "kebebasan berekspresi" atau "tubuhku adalah otoritasku." Narasi ini sekilas terdengar keren dan modern, tetapi sering kali digunakan di tempat yang keliru. Ada garis tegas yang memisahkan antara kebebasan berekspresi secara personal dan pembangkangan terhadap etika sosial (social etiquette).
Sebagai makhluk sosial yang berbagi ruang publik, setiap tempat yang kita datangi membawa fungsi, sejarah, dan nilai normatifnya tersendiri. Ketika seseorang menghadiri acara duka dengan busana yang mencolok lalu sibuk berpose estetis, secara tidak sadar ia telah menggeser fokus utama—dari rasa empati kepada keluarga yang berduka, menjadi dahaga akan perhatian diri sendiri (self-absorption).
Ancaman Fashion Blindness di Ruang Publik
Hal serupa terjadi saat menyambangi tempat ibadah atau situs budaya yang disakralkan. Tempat-tempat tersebut memelihara kesucian dan norma yang dihormati oleh masyarakat setempat. Memaksa masuk dengan pakaian yang menabrak aturan—hanya demi stok foto OOTD—bukanlah bentuk keberanian berbusana, melainkan tindakan egois yang mengabaikan perasaan komunitas lokal. Obsesi pada kepuasan visual dituding telah melahirkan fashion blindness: kondisi di mana seseorang menjadi "buta" akan norma lingkungan sekitar demi mendapatkan sudut pengambilan gambar (angle) terbaik.
Banyak orang salah kaprah dan terburu-buru menganggap bahwa tuntutan berpakaian sesuai tempat adalah bentuk perilaku judging (menghakimi) atau upaya mengekang gaya pribadi. Padahal, pemahaman tentang context-based dressing—atau seni berpakaian berbasis konteks—adalah penanda paling dasar dari kedewasaan emosional dan tingkat kecerdasan sosial seseorang.
Berpakaian sesuai konteks sama sekali tidak bertujuan membunuh kreativitas kita dalam memadupadankan busana. Sebaliknya, hal ini justru menantang kita untuk berpikir lebih fleksibel dan cerdas. Seorang penikmat mode yang ulung tidak hanya mahir mencocokkan warna atasan dan bawahan, tetapi juga paham betul bagaimana menyesuaikan "nada" busananya dengan atmosfer ruangan yang ia masuki. Ada waktu untuk tampil menonjol (stand out), dan ada waktu di mana kita harus membiarkan suasana atau acara utama yang menjadi sorotan.
Menghormati tata krama berbusana di ruang publik bukan berarti kita tunduk pada pengekangan, melainkan bentuk apresiasi kita terhadap keberadaan orang lain. Saat kita mampu menahan diri untuk tidak menjadikan setiap jengkal ruang publik sebagai catwalk pribadi, di situlah kualitas empati kita diuji.
Pada akhirnya, tren mode akan terus berganti dan algoritma media sosial akan selalu menuntut konten yang lebih menyegarkan mata. Namun, rasa hormat dan empati tidak boleh ikut tergerus oleh naik-turunnya tren. Media sosial seharusnya menjadi wadah untuk membagikan keindahan dan inspirasi, bukan alasan untuk bersikap acuh tak acuh terhadap lingkungan sosial.
Menjadi modis dan menjadi manusia yang beretika bukanlah dua hal yang saling bertolak belakang. Kita tetap bisa tampil gaya, eksploratif, dan percaya diri tanpa harus menanggalkan rasa sensitivitas terhadap sekitar. Sebab pada akhirnya, tidak ada outfit yang terlihat benar-benar keren jika dikenakan di atas rasa ketidakpedulian terhadap etika dasar bermasyarakat.
Baca Juga
-
Terjebak Pregnancy Beauty Standard: Saat Tubuh Ibu Hamil Dijadikan Komoditas Estetika
-
Membaca Jadi Privilese Mewah: Mengapa Harga Buku Makin Tak Terjangkau?
-
Gelar Sarjana vs AI: Menagih Aksi Pemerintah Atasi Krisis Kerja Gen Z
-
Ngemis Online di TikTok: Eksploitasi Kemiskinan Gaya Baru
-
Ancaman 'Micro-Cheating': Saat Perselingkuhan Berlindung di Balik Fitur Privasi Digital
Artikel Terkait
-
Wujudkan Mimpi! Sisca Saras Siap Guncang JFC 2026 Bersama Bintang Jepang Ayaka Yasumoto
-
BRI Hadirkan Ekosistem Digital Berbasis ESG di Jember Fashion Carnaval 2026
-
JF3 Fashion Festival 2026 Resmi Dibuka, Hadirkan Lebih dari 50 Desainer Dunia
-
Jember Fashion Carnaval 2026: Jadwal, Inovasi Tema HEAL dan Aksi Teatrikal Dewi Bumi
-
4 Gaya OOTD High-Street Experimental ala Hongjoong ATEEZ, Biar Nyentrik!
Kolom
-
Perempuan dan Budaya Konsumtif: Belanja buat Healing atau Cuma Pelarian?
-
Ketika Pakan Satwa Dikorupsi: Ironi Ketidakadilan Mahluk yang Tak Bersuara
-
Niatnya Self-Love, Kok Malah Insecure? Ini Jebakan di Balik Main Character Energy
-
Krisis Kompetensi BGN: Pertaruhan Gizi Anak di Bawah Bayang-bayang Politik
-
#KaburAjaDulu Ramai Lagi: Pelarian atau Strategi Mencari Masa Depan Aman?
Terkini
-
Resmi Tinggalkan Dortmund, Karim Adeyemi Hijrah ke Barcelona: Awal Gemilang
-
Review A Little White Lie: Romansa Penuh Rahasia dengan Plot Twist Berlapis
-
Ulasan Emma: Ketika Mak Comblang Belajar Tentang Cinta Sejati
-
Dedemit Kepala Putus yang Menyamar Menjadi Penjual Bakso Keliling
-
Ulasan Film Sihir Tanah Kubur: Saat Dendam Gaib Memecah Belah Ikatan Darah!