Hayuning Ratri Hapsari | Oktavia Ningrum
Ilustrasi Kriminal (Unsplash/@mengmengniu)
Oktavia Ningrum

Korupsi bukan sekadar tindak pidana. Ia adalah kejahatan yang menggerogoti fondasi negara, merampas hak masyarakat, dan melemahkan kepercayaan publik terhadap hukum. Karena itu, setiap putusan pengadilan dalam perkara korupsi selalu menjadi perhatian luas. Bukan hanya karena besarnya kerugian negara, tetapi juga karena putusan tersebut akan membentuk persepsi masyarakat tentang apakah hukum benar-benar ditegakkan secara adil.

Belakangan, publik kembali mempertanyakan rasa keadilan setelah muncul pemberitaan mengenai putusan terhadap terdakwa korupsi dengan nilai kerugian yang sangat besar, tetapi dijatuhi hukuman yang dinilai ringan. Sorotan masyarakat tidak hanya tertuju pada lamanya pidana penjara, tetapi juga pada pertimbangan hakim yang memasukkan keadaan pribadi terdakwa, seperti penyesalan atau tanggung jawab terhadap keluarga.

Secara hukum, pertimbangan yang meringankan memang dikenal dalam sistem peradilan pidana. Hakim dapat mempertimbangkan sikap sopan terdakwa di persidangan, pengakuan bersalah, penyesalan, usia, kondisi kesehatan, atau keadaan keluarga sebagai bagian dari proses individualisasi pemidanaan. Prinsip tersebut bertujuan agar hukuman tidak dijatuhkan secara mekanis, melainkan mempertimbangkan seluruh keadaan yang relevan.

Namun, persoalannya muncul ketika pertimbangan tersebut dinilai tidak sebanding dengan dampak kejahatan yang dilakukan.

Korupsi dalam jumlah besar bukanlah kejahatan tanpa korban. Uang negara yang diselewengkan bukan sekadar angka dalam laporan keuangan. Di balik setiap rupiah yang hilang terdapat sekolah yang tidak dibangun, fasilitas kesehatan yang tertunda, jalan yang rusak, bantuan sosial yang berkurang, atau pelayanan publik yang tidak optimal. Kerugian akibat korupsi pada akhirnya ditanggung oleh seluruh masyarakat.

Di sinilah letak persoalan moral yang dirasakan publik.

Banyak masyarakat bertanya, jika keadaan keluarga dapat menjadi alasan yang meringankan hukuman pelaku korupsi, bagaimana dengan jutaan keluarga yang setiap hari membayar pajak, bekerja keras, dan justru menjadi pihak yang dirugikan oleh praktik korupsi? Bukankah mereka juga memiliki anak yang harus disekolahkan, orang tua yang harus dirawat, dan kebutuhan hidup yang harus dipenuhi?

Pertanyaan tersebut mencerminkan keresahan yang lebih besar, yaitu tentang rasa keadilan.

Dalam teori pemidanaan modern, hukuman memiliki beberapa tujuan sekaligus: memberikan efek jera kepada pelaku, melindungi masyarakat, mencegah orang lain melakukan kejahatan serupa, serta memulihkan kepercayaan terhadap sistem hukum. Untuk kejahatan korupsi yang berdampak luas, tujuan pencegahan umum (general deterrence) menjadi sangat penting. Masyarakat perlu melihat bahwa risiko melakukan korupsi jauh lebih besar daripada keuntungan yang mungkin diperoleh.

Apabila hukuman dipersepsikan terlalu ringan dibandingkan dampak yang ditimbulkan, efek pencegahan tersebut dapat melemah. Yang muncul justru persepsi bahwa korupsi adalah kejahatan dengan risiko yang relatif kecil dibandingkan nilai keuntungan yang bisa diraih. Persepsi seperti inilah yang berbahaya karena dapat mengikis kepercayaan publik terhadap sistem peradilan.

Meski demikian, kritik terhadap putusan pengadilan tetap perlu disampaikan secara proporsional. Dalam negara hukum, setiap putusan memiliki dasar pertimbangan yuridis yang dapat diuji melalui mekanisme hukum, seperti banding atau kasasi apabila tersedia. Kritik publik seharusnya diarahkan pada argumentasi hukum, konsistensi pemidanaan, dan perlunya standar yang mencerminkan rasa keadilan masyarakat, bukan pada serangan personal terhadap aparat penegak hukum.

Yang tidak kalah penting adalah upaya memperkuat sistem pemberantasan korupsi secara menyeluruh. Hukuman berat saja tidak cukup apabila pengawasan lemah, transparansi rendah, dan peluang penyalahgunaan kekuasaan tetap terbuka. Pencegahan melalui tata kelola yang baik harus berjalan beriringan dengan penegakan hukum yang tegas dan konsisten.

Pada akhirnya, korupsi adalah pengkhianatan terhadap amanah publik. Setiap rupiah yang dicuri berasal dari sumber daya yang semestinya digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Oleh karena itu, masyarakat wajar menaruh harapan besar agar setiap putusan perkara korupsi tidak hanya memenuhi aspek legalitas, tetapi juga mencerminkan rasa keadilan.

Kepercayaan terhadap hukum tidak dibangun melalui pidato atau slogan antikorupsi. Ia dibangun ketika masyarakat melihat bahwa siapa pun yang menyalahgunakan uang negara akan dimintai pertanggungjawaban secara setimpal. Sebab dalam negara demokrasi, keadilan bukan hanya harus ditegakkan, tetapi juga harus tampak ditegakkan di mata publik.