Bayangin kalau itu adik perempuanmu. Kalimat semacam ini sering digunakan ketika seseorang ingin membuat orang lain lebih peduli terhadap korban kekerasan, pelecehan, perang, atau ketidakadilan. Maksudnya mungkin baik: mengajak orang membayangkan bagaimana rasanya jika peristiwa tersebut menimpa orang terdekat. Tetapi ada sesuatu yang bermasalah dari cara berpikir itu. Kenapa kita harus membayangkan korban sebagai anggota keluarga sendiri dulu agar bisa merasa iba?
Kalau seorang perempuan menjadi korban kekerasan, bukankah ia tetap manusia meskipun bukan adik kita? Kalau seorang anak mengalami kekerasan, bukankah haknya untuk aman tetap berlaku meskipun bukan anak kita? Kalau seseorang kehilangan rumah karena bencana atau menjadi korban perang, bukankah penderitaannya tetap layak diperhatikan meskipun kita tidak memiliki hubungan darah dengannya?
Empati seharusnya tidak bekerja sesempit itu. Kita tidak membutuhkan hubungan keluarga untuk mengakui bahwa manusia memiliki martabat dan hak yang harus dihormati.
Di sinilah prinsip hak asasi manusia menjadi penting. HAM pada dasarnya berangkat dari gagasan bahwa setiap manusia memiliki hak yang melekat pada dirinya. Hak tersebut tidak muncul karena seseorang adalah anak kita, saudara kita, teman kita, atau orang yang kita sukai.
Justru karena korban adalah manusia, ia memiliki hak. Maka, ketika kita mengatakan bahwa kekerasan terhadap perempuan adalah masalah serius, alasan utamanya bukan karena “bagaimana kalau korban itu adikmu?”. Alasan utamanya jauh lebih sederhana: kekerasan adalah pelanggaran terhadap martabat dan hak manusia.
Begitu pula ketika membicarakan anak-anak yang menjadi korban kekerasan. Kita tidak perlu membayangkan wajah anak kita sendiri untuk memahami bahwa seorang anak berhak tumbuh dalam lingkungan yang aman. Cara berpikir “bayangkan kalau itu keluargamu” sebenarnya menunjukkan masalah yang lebih dalam. Kita cenderung lebih mudah bersimpati kepada penderitaan yang terasa dekat dengan kehidupan kita.
Korban yang memiliki wajah, usia, agama, pekerjaan, atau latar belakang yang terasa familiar mungkin lebih mudah mendapatkan perhatian. Sementara korban yang dianggap “orang lain” lebih mudah diabaikan. Padahal, prinsip keadilan justru diuji ketika korban bukan siapa-siapa bagi kita. Kita mungkin tidak mengenal korban. Kita mungkin tidak menyukai pilihan hidupnya. Kita mungkin berbeda latar belakang, pandangan, atau lingkungan sosial dengannya. Namun, semua itu tidak menghapus hak dasarnya untuk diperlakukan secara manusiawi.
Empati yang matang berarti mampu mengatakan: “Saya tidak mengenal orang ini, tetapi saya tahu bahwa apa yang terjadi kepadanya tidak benar". Itulah bentuk empati yang tidak bergantung pada hubungan personal. Tentu, membayangkan orang terdekat sebagai korban bukan sesuatu yang selalu salah. Dalam komunikasi, analogi tersebut kadang memang membantu seseorang memahami penderitaan yang sebelumnya terasa jauh. Masalah muncul ketika analogi itu menjadi satu-satunya cara untuk membangkitkan kepedulian.
Sebab jika kita hanya peduli ketika korban terasa seperti keluarga sendiri, berarti standar moral kita sangat bergantung pada kedekatan. Hari ini kita mungkin berkata, “Bayangkan kalau itu adikmu". Tetapi besok, bagaimana dengan perempuan yang tidak memiliki keluarga yang membelanya? Bagaimana dengan anak yang tidak memiliki orang tua? Bagaimana dengan korban yang hidup jauh dari kita dan bahkan tidak pernah kita kenal?
Apakah mereka harus terlebih dahulu menjadi keluarga kita agar layak dibela? Tentu tidak. Masyarakat yang beradab seharusnya mampu melampaui batas keluarga, kelompok, dan identitas pribadi. Kita seharusnya bisa membela seseorang bukan karena ia mirip dengan kita, tetapi karena ketidakadilan tetap salah meskipun korbannya adalah orang asing. Karena itu, mungkin sudah waktunya kita berhenti menggunakan kalimat “bayangkan kalau itu adikmu” sebagai syarat untuk mengajarkan empati.
Tidak perlu membayangkan korban sebagai saudara sendiri. Lihat saja dia sebagai manusia. Dia punya martabat. Dia punya hak. Dia punya kehidupan. Dan penderitaannya tidak menjadi lebih penting hanya karena kebetulan kita bisa menemukan hubungan personal dengannya.
Empati yang sebenarnya bukan kemampuan membayangkan korban sebagai keluarga kita. Empati adalah kemampuan mengakui kemanusiaan orang lain bahkan ketika kita sama sekali tidak mengenalnya. Kalau untuk memahami bahwa kekerasan itu salah kita masih harus membayangkan korban sebagai adik sendiri, mungkin bukan korban yang perlu dibuat terasa lebih dekat. Cara pandang kitalah yang perlu diperluas.
Baca Juga
-
Meneladani Spirit Pemimpi di Negeri Orang dalam Buku Lost in the USA
-
Indonesia Tak Cukup Mencetak Insinyur, Kita Harus Membangun Industrinya
-
Ancaman Krisis Pangan 2027, tapi MBG Berisiko Membuang Jutaan Ton Makanan?
-
PPN Pembalut Bukan Aturan Baru, Lantas Mengapa Baru Ramai Dipersoalkan?
-
Tanpa Upah, Haruskah Kita Biarkan Relawan Berjuang dengan Uang Sendiri?
Artikel Terkait
Kolom
-
Anak SD Tewas Dibully Kakak Kelas: Guru, Sekolah, atau Orang Tua yang Harus Bertanggung Jawab?
-
Sisi Gelap Solo Traveling yang Gak Ada di Algoritma Instagram, Perempuan Wajib Tahu!
-
Viral Guru AI IELTS Mengamuk, Benarkah Kecerdasan Buatan Mulai Punya Perasaan?
-
Laut Bercerita dan Ingatan yang Belum Selesai
-
Bias Dunia Kerja Modern: Menyoroti Gengsi CV Bahasa Inggris di Mata Gen Z
Terkini
-
5 Cara Elegan Menghadapi Anggota Kelompok yang Pasif, Bebas Drama dan Nggak Bikin Baper!
-
5 Sampo Kelapa Kaya Nutrisi untuk Rawat Keindahan Rambutmu
-
Menguak Andil Manusia, Benarkah Kepunahan Keenam akan Segera Tiba?
-
Baekhyun EXO Dirikan Agensi Baru, CBX Dikabarkan Siap Bernaung Bersama
-
Terjebak Lingkaran Setan di I Saw the Devil, Siapa yang Sebenarnya Jahat?