Ramainya antrean pembeli iPhone atau ludesnya tiket konser bernilai jutaan rupiah kerap dijadikan alasan untuk menyimpulkan bahwa kondisi ekonomi Indonesia sebenarnya baik-baik saja. Logika tersebut terdengar sederhana sekaligus meyakinkan di permukaan. Jika masyarakat masih mampu membeli barang premium dan menghabiskan uang untuk hiburan, berarti daya beli masih kuat dan berbagai keluhan tentang sulitnya ekonomi dianggap berlebihan.
Sayangnya, kesimpulan semacam itu terlalu dangkal untuk menggambarkan realitas sebuah negara dengan lebih dari 280 juta penduduk yang memiliki tingkat pendapatan sangat beragam. Fenomena konsumsi barang mewah memang nyata, tetapi ia hanya memperlihatkan sebagian kecil wajah Indonesia. Di balik antrean di pusat perbelanjaan, terdapat antrean lain yang jauh lebih panjang, lebih sunyi, dan lebih jarang dijadikan ukuran kesejahteraan.
Antrean pembagian sembako, bantuan langsung tunai, operasi pasar pangan, hingga pencari kerja sesungguhnya menggambarkan kenyataan yang sama-sama hidup di negeri ini. Bahkan, beberapa kali masyarakat menyaksikan peristiwa tragis ketika warga lanjut usia pingsan atau meninggal dunia akibat berdesakan demi memperoleh bantuan. Peristiwa semacam itu tidak muncul karena antusiasme terhadap gaya hidup, melainkan karena kebutuhan dasar yang harus dipenuhi.
Perbedaan mendasar inilah yang sering luput dari perhatian. Membeli telepon pintar premium merupakan pilihan konsumsi. Seseorang yang gagal mendapatkannya pada hari peluncuran masih dapat pulang tanpa kehilangan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Sebaliknya, bagi sebagian masyarakat, gagal memperoleh bantuan pangan atau bantuan tunai dapat berarti kesulitan menyediakan makanan bagi keluarga atau membayar kebutuhan yang paling mendasar. Kedua antrean tersebut lahir dari motivasi yang sama sekali berbeda sehingga tidak layak ditempatkan sebagai indikator yang setara.
Kesalahan berikutnya adalah kecenderungan melihat kondisi bangsa hanya dari lingkungan yang paling dekat dengan kehidupan kita. Mereka yang tinggal di kota besar akan lebih mudah melihat pusat perbelanjaan yang ramai, restoran yang penuh, dan konser yang selalu dipadati penonton. Namun Indonesia tidak berhenti di ruang-ruang itu. Di luar sorotan kamera, masih ada petani yang bergantung pada hasil panen yang tidak menentu, nelayan yang penghasilannya dipengaruhi cuaca, pekerja harian yang hidup dari upah hari itu juga, hingga keluarga yang harus menghitung setiap rupiah agar kebutuhan bulanannya tetap terpenuhi.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa konsumsi kelompok berpendapatan tinggi tidak dapat dijadikan cerminan kesejahteraan nasional. Dalam masyarakat yang tingkat ketimpangannya masih tinggi, kelompok ekonomi atas tetap mampu mempertahankan pola konsumsi mereka meskipun kelompok ekonomi bawah sedang menghadapi tekanan. Karena itu, penjualan barang premium yang tinggi tidak otomatis berarti daya beli seluruh masyarakat ikut meningkat.
Para ekonom pun tidak pernah menggunakan ramainya toko barang mewah sebagai tolok ukur utama kesehatan ekonomi. Gambaran ekonomi sebuah negara dibentuk oleh berbagai indikator, seperti tingkat kemiskinan, pengangguran, distribusi pendapatan, inflasi, akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, hingga kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan pokok. Seluruh indikator tersebut harus dibaca secara utuh agar menghasilkan kesimpulan yang adil.
Optimisme terhadap kondisi Indonesia tentu penting. Negeri ini memiliki banyak pencapaian yang layak diapresiasi, mulai dari pertumbuhan sektor ekonomi kreatif, pembangunan infrastruktur, hingga lahirnya berbagai peluang usaha baru. Namun optimisme akan kehilangan makna apabila dibangun di atas penyangkalan terhadap persoalan yang masih nyata di hadapan banyak orang.
Mengakui bahwa masih ada warga yang hidup dalam kesulitan bukan berarti meremehkan kemajuan bangsa. Sebaliknya, pengakuan tersebut merupakan syarat agar kebijakan publik benar-benar diarahkan untuk mempersempit kesenjangan dan memastikan manfaat pertumbuhan ekonomi dirasakan lebih merata.
Indonesia memang memiliki masyarakat yang mampu membeli gawai belasan juta rupiah pada hari pertama peluncurannya. Namun Indonesia juga memiliki jutaan warga yang rela mengantre sejak subuh demi memperoleh beras murah atau bantuan sosial. Kedua pemandangan itu sama-sama nyata dan sama-sama merupakan wajah Indonesia hari ini.
Karena itu, terlalu terburu-buru menyimpulkan bahwa Indonesia baik-baik saja hanya karena antrean iPhone masih panjang sama kelirunya dengan menyimpulkan bahwa seluruh Indonesia sedang terpuruk hanya karena masih banyak warga mengantre bantuan. Realitas bangsa selalu lebih kompleks daripada satu potret yang viral di media sosial.
Ukuran kesejahteraan sebuah negara tidak terletak pada seberapa cepat produk premium habis terjual, melainkan pada seberapa sedikit warganya yang harus bergantung pada bantuan untuk memenuhi kebutuhan hidup paling mendasar. Selama antrean demi bertahan hidup masih jauh lebih panjang daripada antrean demi memenuhi gaya hidup, masih ada pekerjaan besar yang harus diselesaikan bersama.
Baca Juga
-
Stop Normalisasi Rayap Besi: Saatnya Benahi Penegakan Hukumnya
-
Belajar dari Iblis dan Maling? Seni Menang di Buku Jadilah yang Terbalik!
-
Koperasi Desa hingga Pelosok, Mengapa Sekolah Rusak Justru Dibiarkan?
-
Membaca Ledakan EQ: Kiat Menuju Sukses Karir dengan Empati
-
The Broker: Ketika Pengampunan Presiden Jadi Hukuman yang Lebih Mematikan
Artikel Terkait
Kolom
-
Soft Life Makin Populer: Saat Gen Z Lebih Pilih Hidup Tenang dan Seimbang
-
Belanja Digital Gen Z: Saat Kebutuhan dan Keinginan Semakin Sulit Dibedakan
-
BGN Rilis Aplikasi Reviu MBG: Apakah Digitalisasi Menjawab Akar Masalah?
-
Prabowo Resmi Naikkan Tukin TNI dan Kemhan, Apa Kabar Perbaikan Nasib Guru?
-
Viral! Pendaki Rinjani Bawa Sapi Hidup untuk Logistik, Publik Sebut Tindakan Ini Sudah Keterlaluan
Terkini
-
Review Serial A Shop for Killers Season 2: Drama Pertarungan Paling Cadas!
-
Naoko Karya Keigo Higashino: Saat Jiwa Seorang Ibu Hidup dalam Tubuh Putrinya
-
WIND UP: The Movie Membuktikan Olahraga Bukan tentang Kemenangan Semata
-
Ulasan Novel Testimony of N: Ketika Kebohongan Menjadi Bentuk Perlindungan
-
Parole Examiner Lee: Membongkar Wajah Gelap Kekuasaan di Balik Sistem Hukum