M. Reza Sulaiman | Chairun Nisa
Kegiatan Read, Rest, Reset Volume 4 oleh Komunitas The Write and Wonder Club, di Sahasra Coffee, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (12/9). (dok.The Write & Wonder Club)
Chairun Nisa

Akhir pekan di sekitaran Menteng biasanya identik dengan kemacetan atau obrolan bising di kedai kopi. Namun, di salah satu sudut Sahasra Coffee, Cikini, suasananya justru terasa kontras. Tidak ada gawai yang terus menyala atau rentetan notifikasi yang saling bersahutan. Yang ada hanyalah tarikan napas teratur, coretan pena di secarik kertas, dan sekumpulan anak muda yang sengaja menepi untuk mengikuti Read, Rest, Reset Vol. 4 bersama The Write and Wonder Club.

Co-Founder The Write and Wonder Club, Almira, menyambut saya dengan hangat. Jejeran meja dan bangku telah disusun rapi seperti membentuk ruang kelas, lengkap dengan berbagai poster yang tertempel di dinding. Sudah dijumpai beberapa orang yang ikut kegiatan ini juga.

Almira mempersilakan saya duduk untuk bergabung dengan yang lain. Tidak lama, ia membuka acara tersebut dan meminta setiap partisipan yang hadir untuk memperkenalkan diri.

Ternyata pesertanya datang dari berbagai daerah, meliputi Jakarta Barat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Jakarta Utara, hingga Tangerang.

Yang menarik adalah saya menyadari bahwa tiap meja dilengkapi selembar kertas dan berbagai perlengkapan yang akan digunakan selama acara.

Kegiatan diawali dengan instruksi dari MC sekaligus Co-Founder The Write and Wonder Club, Almira. Alih-alih langsung mengajak peserta membaca buku, mereka lebih dulu diminta untuk melakukan emotional check-in.

Almira menginstruksi teknik pernapasan dengan mengarahkan para peserta untuk menaruh telunjuk di gambar bintang dan ikuti sesuai tulisan yang tercantum di sana, inhale dan exhale.

Setelah itu, peserta diminta menggambar bagaimana perasaan masing-masing pada hari tersebut.

Meskipun baru rangkaian awal, saya melihat bahwa mereka sebagai partisipan tidak langsung didesak untuk berbicara panjang lebar. Mereka justru diminta berhenti sejenak dan melihat diri sendiri.

Berikutnya, mereka menuliskan beberapa hal, seperti Check In Yourself. Ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab berdasarkan apa yang dialami oleh diri sendiri.

Misalnya, sebutkan lima hal yang dilihat; empat hal yang didengar; tiga hal dirasakan; dua hal yang dicium; dan satu hal yang disyukuri hari ini. Langkah ini dilakukan untuk lebih meningkatkan kepekaan terhadap lingkungan sekitar.

Dari Membaca hingga Berbagi Cerita

Sesi membaca buku oleh para peserta yang mengikuti kegiatan Read, Rest, Reset Volume. 4. (dok.Pribadi/Chairun Nisa)

Baru setelah itu, kegiatan dialihkan ke sesi membaca. Masing-masing dari peserta diminta untuk membaca buku yang telah dibawa.

Setelah selesai, mereka diminta untuk membuat ulasan singkat mengenai buku tersebut.

Tak berhenti di situ saja, hasil bacaan kemudian dibagikan kepada orang-orang yang berada di satu meja tersebut. Saya pun terkesan melihat interaksi yang dibangun sesama peserta. Sebab, mereka bisa mengeluarkan serpihan kehidupannya dengan orang lain.

Pengalaman tersebut juga dirasakan oleh salah satu peserta yang saya wawancarai setelah mengikuti acara.

Salah satu peserta bernama Jasmin dari Jakarta Timur mengatakan kegiatan tersebut merupakan community event pertama yang diikutinya. Ia mengaku sudah lama mencari kegiatan yang berpusat pada membaca. Lalu bertemulah dengan komunitas The Write and Wonder Club.

"Aku udah dari beberapa bulan mau nyari yang centered around reading. Jujur, ini menyenangkan banget, sih, buat aku, kayak memorable dan kegiatannya juga asyik-asyik," ujar Jasmin.

Jasmin menilai bahwa bukan hanya berkesan, tetapi juga suasana yang dibangun selama kegiatan berlangsung membuat dirinya tertarik mengikuti kegiatan sejenis pada kesempatan berikutnya.

"Aku lebih enjoying suasananya dan maybe aku sangat tertarik buat ngikutin kegiatan sejenis ini ke depannya," ungkapnya.

Kesan serupa pun datang dari Khadijah asal Jakarta juga. Baginya, salah satu hal menarik dari kegiatan tersebut adalah kesempatan untuk melakukan journaling sekaligus mengobrol dengan orang lain.

"Kalau menurut aku, acaranya ini menarik, sih. Journaling sambil ngobrol-ngobrol terus kayak menurut aku bisa jadi alat buat refleksi jugalah," kata Khadijah.

Di sisi lain, Tiara asal BSD itu menilai pengalamannya mengikuti kegiatan ini terasa mindful sekaligus menyenangkan. Ia juga membeberkan bahwa ini pertama kalinya mengikuti kegiatan tersebut.

"Sangat mindful, seru, experience-nya menarik. First time juga ikut yang kayak gini, jadi it's been fun!" ucap Tiara.

Baginya, kegiatan tersebut tidak sekadar memberikan pengalaman baru, melainkan juga memberi kesempatan untuk bertemu orang-orang baru dan mendapatkan perspektif yang berbeda.

"Seru juga kenalan sama teman-teman baru, ngobrol dan dapetin beberapa perspektif baru juga," imbuhnya.

Mengetahui pengalaman mereka, saya jadi sadar bahwa kebutuhan dari masing-masing berbeda. Ada yang datang karena ingin menemukan kegiatan membaca, ada juga yang ingin menikmati journaling sebagai ruang refleksi, dan ada yang membawa pengalaman baru sekaligus perspektif dari orang lain.

Bukan Sekadar Komunitas Baca

Co-Founder Komunitas The Write and Wonder Club, Almira. (dok.Pribadi/Chairun Nisa)

Terlarut mengikuti kegiatan Read, Rest, Reset-nya The Write and Wonder Club ini, saya jadi tahu bahwa komunitas ini tidak ingin hanya menjadi komunitas membaca atau sebagainya.

Padahal, awalnya saya berpikir komunitas ini sama seperti komunitas pada umumnya. Ternyata, oh, ternyata, ada yang lebih dalam dari kesan pertama.

Almira menyebutkan bahwa komunitas yang dibangunnya ini masih terbilang baru, sekitar lima bulan. Ia bersama rekannya, Tiara, sengaja menargetkan orang-orang berusia 20 hingga 30 tahun terutama bagi mereka yang sedang mencari arah hidup.

Adapun konsep yang diusungnya itu meliputi kegiatan journaling, book club, sesi kartu, storytelling, hingga kegiatan di luar ruangan seperti book picnic.

Itulah yang menjadi keunggulan komunitas tersebut dibandingkan komunitas serupa lainnya. Mereka memposisikan membaca bukan sebagai kegiatan sentral, melainkan dipadukan dengan proses refleksi dan interaksi antarpeserta.

"Kalau kita kan kayak mau combine itu semua, ya. Kita mau journaling ada, baca buku ada, ngobrol pakai kartu gitu ada," jelasnya.

Lebih lanjut, Almira menjelaskan bahwa mereka sebenarnya ingin mengutamakan pengalaman manusia dalam setiap kegiatan.

"Menurut aku, yang membedakan tuh mungkin lebih ke kita mengutamakan banget human experience,"bebernya.

Konsep yang diangkat berhubungan erat dengan istilah 'wonder' yang menjadi bagian dari nama komunitas ini.

Nantinya, setelah menerima berbagai informasi dari internet maupun lingkungan sekitar, seseorang tidak hanya diharapkan menyerapnya begitu saja, tetapi juga mengolah dan merefleksikannya. Dengan journaling atau mengobrol satu sama lain misalnya.

Memberi Ruang untuk Berhenti Sejenak

Para peserta sedang mengobrol dan memperlihatkan interaksi satu sama lain selama kegiatan Read, Rest, Reset Volume. 4 berlangsung. (dok.The Write and Wonder Club)

Adanya kegiatan semacam ini terasa seperti memberikan jeda di tengah derasnya arus informasi yang serba cepat.

Untuk itu, kegiatan Read, Rest, Reset tidak hanya difokuskan untuk membuat peserta membaca buku. Ada harapan yang terselip agar peserta bisa pulang dengan perasaan yang lebih ringan, lega, sekaligus mendapatkan pengalaman baru.

Bagi saya, diberi kesempatan untuk menyaksikan kegiatan ini terasa lebih bermakna dari sekadar menghabiskan waktu terpaku pada layar ponsel.

Berawal dari selembar kertas, gambar tentang perasaan hari itu, daftar keinginan di masa depan, hingga buku yang dibaca, semuanya perlahan membawa mereka untuk melihat kembali dirinya sendiri.

Mungkin itulah inti dari kegiatan ini bahwa tidak melulu kita harus menemukan jawaban dalam waktu singkat.

Dengan memberikan kelonggaran pada diri sendiri untuk berhenti sejenak, membaca, berbagi, dan bertanya kembali tentang apa yang sebenarnya sedang dibutuhkan, terasa jauh lebih penting.