Hayuning Ratri Hapsari | Ukhro Wiyah
Ilustrasi menulis artikel (Pexels/Andrea Piacquadio)
Ukhro Wiyah

Tulisan yang jujur dan personal tidak sama dengan oversharing. Sebagai penulis yang cukup sering mengambil pengalaman dan keresahan pribadi, materi yang disampaikan Kak Ayu Rianna di Yoursay Class bertajuk "Find Your Story, Write Your Content" hari ini terasa relate dan ngena banget bagi saya. Seperti Kak Ayu yang sebelumnya memilih jalan aman dengan menuliskan sesuatu yang jauh dari kehidupan pribadinya karena takut terlalu banyak membuka diri, saya pun sempat merasakan hal yang sama.

Keresahan itu juga terasa di awal-awal saya aktif menulis di Yoursay. Baru ketika memasuki bulan kedua, saya mulai memberanikan diri mencoba menulis dari apa yang saya lihat di media sosial. Ada keresahan pribadi yang terpikirkan di sana hingga akhirnya lahir menjadi tulisan. Dari sana, pelan-pelan akhirnya saya memberanikan berbagi insight dari pengalaman sebagai mahasiswa jurusan pendidikan, tantangan saat skripsian, realita jadi freshgraduated, dan lain sebagainya.

Proses mengingat kembali hal-hal yang pernah terjadi dan perasaan saya saat itu, lalu merenung, merefleksikan, hingga menuangkannya ke dalam tulisan ternyata menjadi hal yang bisa saya nikmati. Bahkan dibandingkan dengan menulis cerpen yang sepenuhnya berasal dari imajinasi, pikiran terasa lebih mengalir ketika saya menuliskan sesuatu yang memang pernah saya alami dan rasakan sebelumnya.

Mungkin itulah kenapa materi di Yoursay Class kali ini seolah semakin meyakinkan diri saya bahwa tulisan yang jujur tidak bisa disamakan dengan oversharing. Dan tulisan personal mungkin memang terasa lebih dekat dengan pengalaman dan perasaan, tetapi tetap ada batasan yang perlu dijaga.

Kak Ayu Rianna di sini menjelaskan beberapa tips agar kita bisa membedakan antara menulis pengalaman dengan jujur dan membuka detail kehidupan pribadi. Seperti yang sempat saya sebutkan sebelumnya, yang pertama kita tentu perlu mengingat dulu apa yang terjadi, lalu memikirkan apa yang kita rasakan saat itu dan seberapa jauh perasaan itu bisa dibagikan, dan yang terakhir merefleksikan kira-kira insight apa yang kita dapatkan dari pengalaman itu. Tentunya, tidak semua detail kejadian dan perasaan bisa masuk ke dalam satu tulisan, penulis bisa memilih bagian yang dirasa paling mendukung cerita dan insight yang memang ingin dibagikan.

Selain berbagi tentang cara menghindari oversharing dalam menulis sebuah karya, ada lima cara menyaring cerita atau bisa juga bahan tulisan yang disampaikan oleh Kak Ayu. Lima cara tersebut adalah notice, question, feel, connect, dan write.

Pertama: notice atau memperhatikan hal-hal kecil yang terjadi di sekitar kita. Kemudian bertanya kenapa hal itu menarik perhatian dan apa yang kita rasakan tentangnya, lalu mencoba memikirkan hubungannya dengan pengalaman atau insight yang ingin kita bagi. Setelah itu, baru kita bisa tuangkan semuanya ke dalam sebuah tulisan. Dengan demikian, tulisan yang mulanya terasa personal dan bersumber dari pengalaman pribadi tidak lagi menjadi sekadar berbicara "ini pengalamanku", tetapi lebih pada "ini yang aku pelajari dari sesuatu yang terjadi padaku".

Sampai di sini, kita bisa mengambil kesimpulan seperti yang tertulis dalam judul, bahwa jujur bukan berarti tidak memiliki batasan. Batas yang ada justru membantu kita menentukan bagian mana yang memang perlu diceritakan dan mana yang cukup menjadi milik pribadi. Seseorang tetap bisa menuliskan sesuatu yang terasa personal tanpa harus membuka hal yang paling privat baginya. Dan terkadang, berangkat dari satu pengalaman sederhana, bisa saja melahirkan perasaan, pemikiran, dan pelajaran yang terasa dekat dengan kehidupan banyak orang. Tanpa harus terlalu banyak membuka diri, seorang penulis tetap bisa menemukan cerita yang layak dibagikan dari hidup yang ia jalani.