Siaran pers Kementerian Pariwisata mengenai kinerja Semester I 2026 membawa angin segar. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, pariwisata Indonesia mencatatkan pertumbuhan positif.
Kunjungan wisatawan mancanegara menembus 7,45 juta, pergerakan wisatawan nusantara mencapai 630,41 juta, dan yang paling mentereng: realisasi investasi meroket hingga Rp39,68 triliun—naik 16,64 persen secara tahunan.
Penanaman Modal Asing (PMA) bahkan melonjak drastis hingga 37 persen. Angka-angka ini tentu menggiurkan untuk dirayakan.
Namun, sebelum larut dalam euforia statistik, mari mengajukan pertanyaan reflektif: Apakah triliunan rupiah yang masuk itu benar-benar menetes ke kantong warga lokal, atau sekadar tertanam menjadi tumpukan beton megah?
Megah di Atas, Bocor di Bawah
Membangun hotel berbintang, resort eksklusif, hingga infrastruktur modern memang penting untuk mendongkrak daya saing. Namun, bahaya laten yang sering luput dari perayaan statistik adalah risiko economic leakage atau kebocoran ekonomi pariwisata.
Ketika investor asing atau konsorsium besar membangun resort mewah di suatu destinasi, berapa banyak bahan baku, pangan, hingga manajemen yang diambil dari ekosistem lokal?
Sering kali, bahan makanan diimpor demi memenuhi standar internasional. Arsitek dan manajemen puncak didatangkan dari luar, sementara warga lokal hanya kebagian porsi pekerjaan tingkat bawah.
Investor mungkin menginvestasikan triliunan rupiah. Namun, jika rantai pasoknya tertutup, uang wisatawan akan mengalir kembali ke negara asal investor atau tertahan di ibu kota. Beton-beton berdiri megah, tetapi ekonomi warga di sekitarnya tetap berjarak.
Menagih "TKDN Pariwisata"
Kita tentu tidak boleh alergi terhadap modal asing. Pertumbuhan PMA sebesar 37 persen adalah bukti nyata atas kepercayaan dunia pada Indonesia. Namun, kepercayaan itu harus ditukar dengan komitmen pembangunan yang inklusif.
Sudah saatnya pemerintah melangkah lebih jauh dari sekadar mengejar angka realisasi. Solusi konkret yang bisa diterapkan adalah penerapan indikator Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) Pariwisata.
Sama seperti industri manufaktur yang diwajibkan menggunakan komponen dalam negeri, investor pariwisata—terutama PMA—seharusnya diwajibkan memenuhi persentase tertentu penyerapan produk lokal.
Aturan ini mencakup pasokan bahan pangan harian, ornamen interior berbasis kriya daerah, hingga kuota posisi strategis bagi tenaga kerja terampil lokal.
Kemitraan Investor dan Koperasi Desa
Selain regulasi TKDN, pemerintah perlu mendorong skema konsorsium antara investor besar dan UMKM atau Koperasi Desa Wisata. Jangan biarkan resort megah berdiri terisolasi seperti pulau privat di tengah pemukiman warga.
Investor wajib menggandeng koperasi lokal sebagai pemasok resmi rantai pasok akomodasi, baik untuk kebutuhan kuliner, hiburan seni budaya, maupun tur edukasi.
Dengan begitu, multiplier effect yang sering digaungkan pemerintah benar-benar wujud dalam bentuk pendapatan riil masyarakat, bukan sekadar teori di atas kertas.
Pariwisata yang tangguh tidak diukur dari seberapa banyak gedung tinggi yang berhasil dibangun. Pariwisata yang resilient adalah pariwisata yang mengakar kuat pada kesejahteraan masyarakatnya.
Saat investasi pariwisata kita terus menembus rekor baru, apakah masyarakat lokal ikut berdiri tegak, atau sekadar menjadi penonton dari balik pagar resort mewah?
Baca Juga
-
Di Balik Emas Asian Games: Alarm Regenerasi Bulu Tangkis Kita
-
Walk Out di PBB: Protes Moral Perkasa, tapi Apakah Taktis?
-
Bukan Buat Perang, Ini Alasan RI Butuh Kapal Induk
-
Di Balik Kemewahan AI Indonesia: Ada Bumi yang Kian Gerah
-
Ketika Skuad Rp400 Miliar Jadi Beban: Menatap Efek Etalase Timnas Indonesia
Artikel Terkait
-
Ternyata, 64 Persen Pelaku UMKM Indonesia adalah Perempuan
-
Bolosego dan Kusutnya Alkid Yogyakarta: Ketika Izin Berjualan Tak Menjamin Bebas Pungutan Liar
-
UMKM Perempuan Mulai Berbenah, Buka Toko Online hingga Siapkan Strategi Pemasaran Digital
-
BSI Dorong Produk Halal Lokal Naik Kelas hingga Pasar Global lewat International Expo 2026
-
Bikin Produk UMKM Makin 'Naik Kelas', Percetakan Digital Kini Makin Fleksibel
Kolom
-
Korea Selatan Libatkan Warga Lawan Deepfake, Indonesia Bisa Belajar Apa?
-
Korps Kadet RI di Sekolah: Perlukah Bela Negara Jadi Ekstrakurikuler?
-
Katanya Lowongan Kerja Banyak, Kenapa Cari Kerja Tetap Susah?
-
Di Balik Emas Asian Games: Alarm Regenerasi Bulu Tangkis Kita
-
Walk Out di PBB: Protes Moral Perkasa, tapi Apakah Taktis?
Terkini
-
Sinopsis Irreplaceable, Dracin Terbaru Zhao Jin Mai dan Wei Da Xun di Youku
-
Good Talk GNFI di UAD: Pendidikan RI Dianggap Hanya Cetak Tenaga Kerja
-
Salma Rilis Lagu 'maha benar', Sindiran Keras Buat Netizen Julid dan Si Paling Paham Hidup Orang!
-
4 Masker Rambut Berbahan Mint yang Ampuh Usir Rambut Lepek dan Ketombe
-
The Storm Tayang 15 Oktober di Netflix, Komedi Gelap Josephine Bornebusch