Hari itu, saat membersihkan dompet, jemari saya terhenti pada selembar kartu plastik yang sudutnya mulai memudar: Kartu Tanda Mahasiswa (KTM).
Dulu, benda kecil itu bukan sekadar kartu identitas, melainkan jaminan kepastian. Benda itu mendefinisikan siapa saya, apa tugas saya saban hari, ke mana saya harus melangkah jam delapan pagi, hingga diskon apa yang bisa saya klaim saat membeli buku.
Namun, begitu proses wisuda usai dan masa berlaku kartu itu habis, sebuah perasaan hampa yang teramat tiba-tiba menyeruak. Saya mendapati diri saya sendiri berdiri di depan cermin, menatap pantulan wajah yang kini tak lagi punya jadwal kuliah, tak punya batas tugas, dan tak punya almamater untuk dibanggakan.
Sebuah pertanyaan sederhana muncul dan tiba-tiba terasa begitu mendalam sekaligus menakutkan: sebenarnya, sekarang saya ini siapa? Keresahan ini membawa saya menelusuri literatur dalam Jurnal Riset Psikologi, yang menjelaskan bahwa fenomena krisis identitas pasca-kelulusan sangat rentan dialami oleh wisudawan baru akibat hilangnya peran sosial utama yang selama belasan tahun membentuk pola hidup mereka.
Pernahkah Anda terbangun di hari Senin pertama setelah resmi menjadi alumni, lalu menyadari bahwa tidak ada satu pun agenda yang menunggu Anda hari itu?
Jika rasa membayangkan itu pernah didekati, percayalah Anda tidak sedang berjalan sendirian. Transisi dari dunia akademis menuju fase pasca-kampus adalah salah satu momen perubahan paling drastis dalam kehidupan manusia.
Sejak usia lima atau enam tahun, hidup kita telah dirancang dalam struktur yang sangat teratur oleh sistem pendidikan: ada kurikulum, ada tingkatan kelas, ada petunjuk arah yang jelas, dan ada tolok ukur keberhasilan berupa angka di lembar hasil belajar.
Selama belasan tahun, identitas kita disuapi oleh sistem tersebut. Namun, begitu toga dilepas, tiba-tiba kita terlempar ke dalam ruang bebas yang sangat luas tanpa petunjuk buku. Dunia dewasa tidak lagi menyediakan kurikulum tahunan atau dosen pembimbing yang akan mengingatkan kemajuan kehidupan kita.
Secara sosial, masyarakat kita juga sering kali mendefinisikan seseorang hanya dari status formalnya: "Sekarang sibuk kuliah di mana?" atau "Kerja di perusahaan apa?" Ketika kedua jawaban itu belum bisa diisi dengan mantap, seseorang bisa mengalami kebingungan peran yang hebat.
Berdasarkan laporan penelitian mengenai kesehatan mental pemuda dari berbagai lembaga psikologi sosial, periode post-graduation blues atau kecemasan pasca-lulus menjadi pemicu utama menurunnya rasa percaya diri generasi muda. Ketiadaan struktur harian dan hilangnya ekosistem pendukung seperti teman sebaya di kampus membuat banyak wisudawan baru merasa terlindungi, tidak berguna, dan kehilangan kompas petunjuk arah hidup.
Secara pribadi, saya memandang kekecewaan ini bukan sebagai sebuah kegagalan, melainkan sebuah konsekuensi logistik dari perubahan fase hidup. Kita merasa asing dengan diri sendiri karena selama ini kita mengidentifikasikan diri hanya dari status akademis.
Kita lupa bahwa "mahasiswa" hanyalah sebuah peran sementara, bukan esensi dari siapa kita sebenarnya. Ketika peran itu dicabut, yang tersisa bukanlah kehampaan, melainkan kanvas putih yang siap diisi. Rasa bingung dan kehilangan arah di awal perjalanan bukanlah tanda bahwa kita tersesat selamanya, melainkan proses pengupasan identitas lama agar kita bisa membangun identitas baru yang lebih tangguh dan mandiri.
Masa-masa setelah melepas almamater adalah momen terbaik untuk belajar mengenal diri sendiri tanpa embel-embel status formal. Ini adalah kesempatan untuk bertanya pada diri sendiri: apa yang sebenarnya kita suka di luar tuntutan tugas kuliah? Nilai-nilai apa yang ingin kita pegang teguh sebagai seorang manusia? Membangun arah hidup baru memang membutuhkan waktu dan keberanian untuk menerimanya. Kita tidak harus langsung menemukan semua penjelasan hari ini.
Kehilangan status “mahasiswa” bukanlah akhir dari pencapaian diri, melainkan awal dari kebebasan yang sesungguhnya. Kita bukan lagi penumpang di dalam bus metrik orang lain, melainkan pengemudi atas kendaraan hidup kita sendiri. Jadi, saat Anda menatap KTM lama Anda yang tak lagi berlaku itu, alih-alih meratakan masa lalu yang nyaman, maukah Anda berasumsi sebagai tiket masuk menuju petualangan menemukan diri yang sebenarnya?
Baca Juga
-
Fresh Graduate vs AI: Kena Mental Sebelum Sempat Punya Pengalaman Kerja?
-
Terjebak FOMO Gaji Dua Digit di Usia 20-an, Apakah Realistis?
-
Mengaku Pencinta K-Pop, tapi Gagap saat Berhadapan dengan Kebudayaan Sendiri
-
Membongkar Borok Kerja Kelompok yang Cuma Bikin Jinak Si Pemalas
-
Gaya Bahasa Jakselan di Kampus yang Bikin Logika Bahasa Baku Jadi Korban
Artikel Terkait
-
Dalam Kondisi Mabuk, Mahasiswa di Yogya Rusak Bendera dan Palang Pintu KA
-
Jebakan Narsisme Kebudayaan: Mengapa Delegasi Mahasiswa Harus Berhenti Sekadar Jadi 'Performer'
-
Pantang Menyerah! Pedro Acosta Berusaha Raih Kemenangan Pertama Bersama KTM
-
Dan Bandung: Romansa Mahasiswa yang Hangat dengan Bumbu Persahabatan yang Kental
-
Ratusan Mahasiswa Adu Gagasan Hijau, Inovasi Baterai EV Keluar sebagai Juara
Kolom
-
Laki-Laki Tidak Boleh Nangis? Siapa Sih yang Buat Aturan Aneh Itu?
-
Membiayai Anak Bukan Lisensi untuk Menghapus Privasinya
-
GIIAS Ramai, Mobil Laris: Ekonomi Baik-baik Saja atau Kita Makin Timpang?
-
Pasar Modal Serok Rp125 Triliun: Pesta Raksasa yang Lupa Mengundang UMKM
-
Pemerintah Bakal Rombak Buku Pelajaran: Seberapa Mendesak bagi Pendidikan?
Terkini
-
Mengenang Keigo Higashino, 5 Film Adapatasi Ini Suguhkan Premis Unik
-
The Traveling Cat Chronicles: Kisah Persahabatan Manusia dan Kucing yang Mengharukan
-
Stuck: Ketika Masalah Kecil Berubah Menjadi Kekacauan Besar
-
Review 1984: Murni Novel Fiksi atau Prediksi?
-
Jurnal Jo: Sulitnya Jadi Remaja, Kebelet Dewasa tapi Daya Tak Mampu!