M. Reza Sulaiman | Oktavia Ningrum
Ilustrasi Pekerja Pabrik (Unsplash/@gieling)
Oktavia Ningrum

Indonesia sering berbicara tentang industrialisasi seolah-olah jumlah pabrik otomatis menunjukkan kemajuan industri. Kawasan industri bertambah, investasi masuk, produksi meningkat, ekspor tumbuh. Namun ada pertanyaan yang lebih mendasar: seberapa banyak industri Indonesia benar-benar menciptakan pengetahuan, teknologi, dan produk sendiri? Sebab memiliki pabrik tidak selalu berarti memiliki kemampuan industri.

Manufaktur Indonesia memang bukan sektor kecil. Industri pengolahan nonmigas masih menyumbang sekitar 19 persen terhadap PDB dan menjadi bagian besar dari ekspor nasional. Pemerintah juga terus mendorong hilirisasi agar bahan mentah tidak sekadar diekspor dalam bentuk awal.  Tetapi persoalannya adalah kualitas transformasi tersebut. Sebagian kegiatan manufaktur Indonesia masih berada pada posisi sebagai bagian dari rantai produksi perusahaan atau merek global. Produk dirancang, teknologinya dikembangkan, bahkan komponen pentingnya dapat berasal dari pusat industri negara lain, sementara Indonesia menjalankan sebagian proses produksi, perakitan, atau pengolahan.

Model seperti ini bukan sesuatu yang otomatis buruk. Menjadi bagian dari rantai pasok global justru dapat membawa investasi, menciptakan pekerjaan, meningkatkan standar produksi, dan memperkenalkan pekerja Indonesia pada teknologi serta sistem manufaktur modern. Masalah muncul jika kita berhenti di sana. Sebab pengalaman menjadi operator atau pekerja produksi belum tentu otomatis menghasilkan kemampuan menciptakan industri sendiri. Seorang pekerja dapat bertahun-tahun bekerja di pabrik yang sangat efisien tanpa pernah mendapatkan kesempatan memahami keseluruhan proses: bagaimana produk dirancang, bagaimana teknologi dikembangkan, bagaimana mesin dibuat, bagaimana rantai pasok dibangun, dan bagaimana keputusan bisnis strategis diambil.

Padahal, kemampuan industrial tidak lahir hanya dari ruang kelas. Pendidikan penting, tetapi keterampilan industri membutuhkan pengalaman nyata. Orang belajar menghadapi kegagalan produksi, memperbaiki desain, menguji material, mengoperasikan mesin, membaca kebutuhan pasar, mengembangkan proses, dan memecahkan persoalan yang tidak selalu muncul dalam buku teks. Karena itu, Indonesia membutuhkan industri yang bukan hanya menggunakan tenaga kerja, tetapi juga menciptakan kemampuan.

Di sinilah hubungan antara pabrik, riset, pendidikan, dan inovasi menjadi penting. Jika perusahaan hanya membawa teknologi yang sudah matang dari luar dan Indonesia sekadar menjalankan proses produksi, transfer pengetahuan yang terjadi bisa terbatas. Sebaliknya, jika perusahaan memiliki pusat riset, pengembangan produk, rekayasa, dan pemasok domestik yang kuat, pengalaman pekerja dapat berkembang menjadi kapasitas industri nasional.

Dengan kata lain, tantangannya bukan sekadar membuat pekerja Indonesia mampu mengoperasikan teknologi. Mereka juga harus memiliki kesempatan untuk menciptakan teknologi. Indonesia tentu tidak harus langsung membuat semua produk berteknologi tinggi sendiri. Industrialisasi selalu membutuhkan proses bertahap. Negara dapat memulai dari kemampuan produksi, kemudian memperkuat komponen lokal, rekayasa, desain, penelitian, hingga pengembangan produk. Yang penting adalah adanya pergerakan naik dalam rantai nilai.

Jika tidak, Indonesia berisiko mengalami paradoks industrialisasi: memiliki banyak pabrik, tetapi sebagian kemampuan strategis industrinya tetap berada di luar negeri. Hilirisasi juga perlu dibaca dalam konteks tersebut. Mengolah bahan mentah di dalam negeri memang meningkatkan nilai tambah dibandingkan sekadar mengekspornya. Tetapi hilirisasi yang lebih dalam bukan hanya mengubah bijih menjadi produk setengah jadi. Ia seharusnya mendorong kemampuan Indonesia menguasai teknologi, membuat komponen, mengembangkan produk turunan, dan membangun perusahaan nasional yang mampu bersaing. Sebab tujuan akhir industrialisasi bukan sekadar barang dibuat di Indonesia.

Tujuannya adalah agar semakin banyak pengetahuan, teknologi, modal, dan kemampuan menciptakan produk yang tumbuh di Indonesia. Di sinilah pendidikan dan industri tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Kampus menghasilkan lulusan, tetapi industri menyediakan laboratorium kehidupan nyata. Perusahaan membutuhkan tenaga terampil, sementara pekerja membutuhkan tempat untuk mengembangkan kemampuan. Riset membutuhkan masalah nyata untuk diselesaikan, sedangkan industri membutuhkan inovasi untuk meningkatkan produktivitas.

Rantai itu harus tersambung. Indonesia tidak kekurangan orang yang mampu belajar. Yang perlu diperbanyak adalah kesempatan untuk belajar melalui industri yang benar-benar menciptakan sesuatu. Karena itu, ukuran keberhasilan industrialisasi tidak cukup dilihat dari berapa banyak pabrik berdiri atau berapa besar investasi masuk.

Ketika perusahaan global datang dan berproduksi di Indonesia, berapa banyak kemampuan baru yang tertinggal setelah mereka pergi? Jika jawabannya semakin besar dari pekerja terampil, pemasok lokal, teknologi, riset, desain, hingga perusahaan nasional, maka industrialisasi sedang membangun fondasi. Tetapi jika Indonesia hanya menjadi tempat produksi barang yang teknologinya sepenuhnya dikembangkan di tempat lain, kita mungkin sedang menjadi basis manufaktur. Belum tentu menjadi negara industri.