Gara-gara pandemi kemarin, banyak orang dari kita mendadak kenal dengan jenis ketenangan baru bernama Stoikisme. Di Indonesia, mazhab filsafat kuno ini jadi populer berkat buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring. Buku yang rilis tahun 2019 itu sukses berat jadi mega best seller dan menyabet gelar Book of the Year di IIBF. Anak-anak muda pun mendadak merasa punya pedoman hidup baru yang keren.
Masalahnya, ajaran yang usianya sudah lebih dari dua ribu tahun ini seringkali direduksi habis-habisan menjadi jurus dikotomi kendali saja, alias ajaran yang hanya fokus pada hal yang bisa dikendalikan. Nasihat ini memang manjur. Hidup rasanya jadi jauh lebih enteng kalau kita berhenti pusing memikirkan hal-hal yang ada di luar kendali kita.
Namun, dari sinilah lahir salah kaprah yang agak keblinger. Prinsip dikotomi kendali ini pelan-pelan malah dijadikan alasan basi menuju ketidakpedulian sosial. Begitu melihat ada berita korupsi, krisis iklim, atau ketidakadilan di depan mata, dengan entengnya kita berbisik, "Ah, itu kan di luar kendali saya." Urusan beres, pikiran kembali tenang, padahal persoalan masyarakat sedang berantakan.
Kalau kita mau mengulik agak dalam, mazhab Stoikisme klasik itu sebenarnya tidak mengajari kita jadi manusia egois yang hidup nyaman saja. Kitab Stanford Encyclopedia of Philosophy mencatat bahwa etika Stoa itu bersandar pada konsep “Oikeiosis”, yakni sebuah proses di mana manusia sadar kalau dirinya itu saling terhubung dengan orang lain.
Jadi, radar kepedulian kita itu mestinya meluas, mulai dari diri sendiri, keluarga, tetangga sebelah rumah, sampai ke seluruh umat manusia.
Filsuf Hierocles bahkan menggambarkan tanggung jawab ini lewat analogi lingkaran konsentris. Riset terbaru Ralph Wedgwood di jurnal Oxford Studies in Ancient Philosophy (2023) menjelaskan bahwa lingkaran-lingkaran ini adalah peta kewajiban kita untuk saling bantu. Mentang-mentang ada orang yang posisinya jauh dari lingkaran terdekat kita, bukan berarti kewajiban kemanusiaan kita otomatis hangus.
Bahkan, Seneca punya rumusan hidup bahwa manusia itu dituntut untuk berguna bagi orang lain sebanyak yang dia mampu. Dalam esainya yang berjudul On the Private Life, Seneca menegaskan bahwa memberi manfaat kepada sesama itu adalah kewajiban mutlak.
Jadi, seorang pengikut Stoa yang jempolan itu sah-sah saja menjaga ketenangan batinnya tanpa perlu ikutan naik pitam setiap kali melihat unggahan politik di media sosial. Namun ingat, ketenangan batin itu mestinya dijadikan modal utama untuk bertindak secara rasional demi kebaikan bersama, bukan malah dipakai sebagai alasan untuk cuci tangan dari carut-marut keadaan sosial.
Debat seru soal mindfulness yang sempat ramai gara-gara konten Maudy Ayunda pada kemarin memberi kita sebuah pelajaran. Maudy sendiri akhirnya dengan berjiwa besar mengakui ada konteks yang terlewat bahwa kemampuan untuk "tutup kuping dan mata" dari berita buruk di negeri ini ternyata adalah sebuah privilese yang tidak dimiliki semua orang.
Di sinilah kita harus jeli membedakan antara latihan menenangkan diri, prinsip Stoikisme, dan jualan budaya self-help. Menenangkan pikiran itu keterampilan yang bagus. Namun, menganggap karut-marut dunia tidak perlu dipedulikan, itu sudah masuk wilayah pilihan etis yang keliru.
Ajaran Stoa aslinya punya tradisi kosmopolitan. Menurut Stanford Encyclopedia of Philosophy, para Stoic memandang seluruh manusia adalah warga dari satu kota semesta yang sama (cosmopolis).
Jadi, ikut bersuara di ruang publik atau membantu korban ketidakadilan itu sama sekali tidak bertentangan dengan Stoikisme. Benar bahwa hasil akhirnya di luar kendali kita, tapi urusan berikhtiar memperbaiki keadaan adalah tanggung jawab moral kita sebagai manusia yang punya akal sehat.
Sudah saatnya kita merebut kembali Stoikisme dari rak buku self-help yang sempit itu. Ajaran ini bukan obat bius biar kita kebal dan abai terhadap lingkungan yang rusak. Stoikisme adalah latihan membentuk mental yang tenang dan rasional, justru agar kita punya energi yang cukup untuk peduli dan berbuat sesuatu demi kebaikan bersama.
Baca Juga
-
Fenomena Sunday Scaries: Membedah Horor Hari Senin Bagi Para Pekerja
-
Evaluasi Problem Ekonomi: AEI Soroti Risiko Fiskal hingga Deforestasi
-
Make Munir Live Again: Merawat Ingatan Kasus HAM di Aksi Kamisan Jogja
-
Good Talk GNFI di UAD: Pendidikan RI Dianggap Hanya Cetak Tenaga Kerja
-
Kultus Mi Instan: Mengurai Sejarah Politik Pangan Indonesia
Artikel Terkait
Kolom
-
Kritik Keras Paradoks Industrialisasi: Bangun Pabrik Bertebaran, tapi Teknologinya Tetap Milik Asing
-
Gonta-Ganti Aplikasi Birokrasi: Gen Z Butuh Efisiensi, Bukan Viral
-
Navigasi Quarter-Life Crisis: Menemukan Ketenangan di Tengah Ketidakpastian
-
Hari Kesetaraan Upah: Sudahkah Kerja Perempuan Dihargai Setara?
-
Bahaya Terselubung Investasi Rp30,4 Triliun Microsoft: Jangan Sampai Bumi Kita yang Haus!
Terkini
-
Fenomena Sunday Scaries: Membedah Horor Hari Senin Bagi Para Pekerja
-
Di Tanah Lada: Apakah Mati Jadi Jalan Keluar Terbaik untuk Ava?
-
Profesi Unik 'Ghostwriter' Aplikasi Kencan: Dibayar Mahal Cuma Buat Balas Chat Cari Jodoh!
-
Sinopsis MR: Iyaku Joho Tantosha, Drama Jepang Dibintangi Mukai Osamu
-
Review 'Lucky Strike': Saat Taktik Pura-Pura Mati Jadi Satu-Satunya Jalan Selamat dari Pasukan SS