Berbicara tentang kesehatan mental kini bukan lagi sesuatu yang dianggap tabu. Semakin banyak figur publik membicarakan pentingnya mengenali emosi, mengelola stres, menjaga pikiran, hingga mempraktikkan mindfulness. Perubahan ini patut diapresiasi karena kesehatan mental memang merupakan bagian penting dari kehidupan manusia. Namun, ada satu hal yang sering terlupakan: nasihat kesehatan mental tidak pernah berdiri di ruang kosong.
Ketika seorang figur publik dengan pendidikan, popularitas, sumber daya, dan akses yang luas berbicara tentang cara menghadapi kabar buruk, pesannya akan diterima oleh orang-orang dengan kondisi kehidupan yang sangat beragam. Di sinilah persoalan muncul. Nasihat seperti "belajar mengelola diri ketika menghadapi bad news" pada dasarnya bukan sesuatu yang keliru. Kemampuan mengelola emosi memang penting. Kita tidak selalu dapat menentukan berita apa yang datang kepada kita, tetapi kita dapat belajar mengatur respons terhadapnya.
Masalahnya, kemampuan mengelola respons tidak selalu cukup untuk menyelesaikan persoalan yang menjadi sumber tekanan. Bayangkan seseorang yang menerima kabar bahwa kontraknya tidak diperpanjang. Ia mungkin dapat melakukan latihan pernapasan, bermeditasi, tidur lebih teratur, atau belajar menerima kenyataan. Semua itu bisa membantu. Tetapi setelah meditasi selesai, tagihan tetap harus dibayar.
Orang tua tetap membutuhkan biaya pengobatan. Uang sekolah anak tetap jatuh tempo. Harga kebutuhan pokok tetap harus dipenuhi. Cicilan tetap berjalan. Dalam kondisi seperti itu, persoalan mental bukan hanya tentang bagaimana seseorang mengatur pikirannya. Ada realitas material yang ikut membentuk kesehatan mental seseorang. Inilah mengapa pembicaraan tentang mindfulness perlu disampaikan dengan konteks.
Kita harus berhati-hati agar kesehatan mental tidak direduksi menjadi persoalan kemampuan individu mengelola diri. Seolah-olah seseorang akan baik-baik saja selama ia cukup tenang, cukup positif, cukup bersyukur, dan mampu mengendalikan pikirannya. Padahal tekanan psikologis sering kali memiliki akar sosial dan ekonomi.
Kemiskinan, ketidakpastian pekerjaan, kekerasan dalam rumah tangga, diskriminasi, beban pengasuhan, lingkungan kerja yang buruk, hingga akses terhadap layanan kesehatan yang terbatas dapat menjadi sumber tekanan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan perubahan pola pikir. Karena itu, ada perbedaan antara mengelola dampak sebuah masalah dan menghilangkan sumber masalah tersebut.
Mindfulness dapat membantu seseorang menghadapi tekanan. Tetapi mindfulness tidak dapat menggantikan pekerjaan yang layak. Ia tidak membayar biaya rumah sakit. Ia tidak menghapus utang. Ia tidak otomatis membuat lingkungan kerja menjadi sehat. Di sinilah privilege menjadi penting untuk dibicarakan.
Privilege bukan berarti seseorang tidak pernah mengalami kesulitan. Orang yang memiliki privilege tetap dapat mengalami kehilangan, kecemasan, kegagalan, dan masalah kesehatan mental. Namun, sumber daya yang tersedia untuk menghadapi masalah tersebut dapat berbeda secara signifikan.
Seseorang yang memiliki akses terhadap pendidikan berkualitas, pekerjaan dengan penghasilan memadai, lingkungan sosial yang mendukung, layanan kesehatan, dan kesempatan untuk mengambil jeda dari pekerjaan tentu memiliki pilihan yang berbeda dibandingkan seseorang yang hidup dari pendapatan harian.
Maka, ketika figur publik berbicara mengenai kesehatan mental, persoalannya bukan apakah mereka boleh memberikan nasihat. Tentu boleh. Justru karena memiliki jangkauan yang besar, mereka memiliki kesempatan untuk memperluas percakapan menjadi lebih inklusif: bukan hanya mengajarkan bagaimana seseorang mengelola dirinya ketika menerima bad news, tetapi juga mengakui bahwa tidak semua orang memiliki kondisi yang sama ketika menghadapi kabar tersebut.
Ada orang yang menerima berita buruk lalu bisa mengambil waktu untuk memprosesnya. Ada pula orang yang menerima berita buruk sambil tetap harus bekerja beberapa jam kemudian karena jika tidak bekerja, ia tidak mendapatkan penghasilan. Keduanya sama-sama manusia. Tetapi kebutuhan mereka tidak selalu sama. Karena itu, pembicaraan tentang kesehatan mental seharusnya tidak berhenti pada kalimat "ubah cara kita merespons keadaan". Kita juga perlu bertanya mengapa keadaan itu begitu berat bagi sebagian orang?
Mindfulness dapat menjadi salah satu alat untuk merawat diri. Tetapi ia tidak boleh berubah menjadi alasan untuk mengabaikan struktur sosial yang membuat sebagian orang terus-menerus berada dalam tekanan. Kesehatan mental membutuhkan individu yang mampu merawat dirinya.
Tetapi ia juga membutuhkan masyarakat dan negara yang menciptakan kondisi kehidupan yang memungkinkan orang memiliki kesempatan untuk hidup dengan lebih aman, layak, dan manusiawi. Sebab tidak semua masalah dapat diselesaikan dengan menenangkan pikiran. Sebagian masalah memang harus diubah keadaannya.
Baca Juga
-
Masih Dianggap Tabu, Padahal Marital Rape Diatur dalam Hukum Indonesia
-
Keracunan MBG: Antara Kelalaian, Pengawasan, dan Tanggung Jawab Pidana
-
Semangat Muda: Ketika Tan Malaka Membaca Indonesia dari Pertarungan Kelas
-
Dari Halal ke Sehat: Standar Pangan Indonesia Sudah Sampai Mana?
-
Kurir-Kurir Kemerdekaan: Pertaruhan Nyawa Membawa Berita Proklamasi 1945
Artikel Terkait
Kolom
-
Di Balik Emas Leo/Daniel: Sampai Kapan Bulu Tangkis Menggendong Klasemen?
-
Menolak Tudingan HAM di PBB Saja Tidak Cukup: Butuh 'Diplomasi Terbuka'
-
Sering Sayang Hapus Screenshot dan Chat Lama? Kenali Bahaya Digital Hoarding bagi Mentalmu
-
Pentingnya Jaga Mental Krisis Iklim Anak Muda dari Sustainability Burnout
-
Masih Dianggap Tabu, Padahal Marital Rape Diatur dalam Hukum Indonesia
Terkini
-
Kisah Pilu Tragedi KMP Virgo: Saat Firasat Saudara Kembar Terjawab di Balik Kantong Jenazah
-
A Love Other Than Yours: Takdir Cinta Penuh Rahasia di Antara Dua Pilihan
-
Dahyun TWICE dan Cha Woo Min Bintangi Film Romansa Clouds Roll Like Gureumi
-
5 Parfum Fresh Pria dengan Aroma Maskulin dan Menyegarkan
-
Review The Weight: Saat Misi Membawa Emas Jadi Taruhan Nyawa