Ada satu hal sederhana yang sering terjadi di dalam rumah: seseorang ingin membantu, tetapi justru dimarahi karena caranya dianggap salah. Suami mencuci piring, tetapi masih ada yang berminyak. Anak membantu menyapu, tetapi sudut ruangan masih kotor. Anak mencoba merapikan kamar, tetapi barang-barangnya malah terlihat berantakan. Niat awalnya adalah membantu, namun yang keluar justru teguran.
"Begitu saja kok nggak bisa? Bukan begitu caranya. Sudah, sini biar Ibu saja. Kamu bukannya membantu, malah makin merusak."
Kalimat-kalimat semacam itu mungkin terdengar sepele. Tetapi jika terus berulang, ada kemungkinan orang di rumah mulai menarik kesimpulan: lebih baik tidak membantu daripada salah dan dimarahi.
Beri Ruang untuk Proses Belajar
Di sinilah kesabaran menjadi penting. Bukan berarti seorang ibu harus membiarkan semua pekerjaan dilakukan dengan asal-asalan. Rumah tetap membutuhkan standar kebersihan dan pekerjaan tetap harus diselesaikan dengan benar. Namun, ada perbedaan besar antara mengoreksi kesalahan dan membuat seseorang merasa tidak mampu.
Tidak semua orang langsung mahir melakukan pekerjaan rumah. Ada proses belajar. Seseorang yang tidak terbiasa mencuci piring mungkin memang membutuhkan waktu untuk mengetahui cara membersihkan minyak. Anak yang baru belajar menyapu tentu belum memiliki keterampilan orang dewasa. Anak yang belajar merapikan rumah mungkin belum memahami bahwa benda tertentu memiliki tempat penyimpanan yang berbeda.
Jika setiap kesalahan langsung disambut kemarahan, kesempatan belajar itu bisa berhenti sebelum berkembang. Hal yang sama berlaku kepada suami. Ada rumah tangga yang akhirnya membuat suami enggan membantu bukan semata-mata karena tidak peduli terhadap pekerjaan domestik, melainkan karena setiap upaya yang dilakukan selalu dianggap kurang benar. Salah mencuci baju, ditegur. Salah menaruh barang, dimarahi. Memasak tidak sesuai selera, dikritik. Lama-kelamaan muncul sikap: kalau membantu juga salah, lebih baik tidak usah.
Bukan Repot, Melainkan Sedang Berlatih
Tentu tidak adil jika seluruh beban domestik kemudian dibebankan kepada ibu. Pekerjaan rumah tangga adalah tanggung jawab bersama. Suami dan anak juga perlu belajar mengambil bagian sesuai kemampuan dan usia mereka.
Orang juga perlu diberi ruang untuk belajar membantu. Anak terutama sangat membutuhkan ruang tersebut. Jika sejak kecil setiap bantuan mereka selalu dikoreksi dengan nada marah, mereka bisa mengasosiasikan pekerjaan rumah dengan pengalaman yang tidak menyenangkan. Akibatnya, bukan tidak mungkin mereka tumbuh menjadi orang dewasa yang merasa pekerjaan domestik bukan urusannya karena sejak kecil tidak pernah merasa aman ketika mencoba.
Padahal, anak yang menumpahkan air ketika belajar menuang bukan sedang merepotkan; ia sedang belajar mengendalikan tangannya. Anak yang menyapu tetapi meninggalkan debu bukan sedang malas; ia sedang belajar bahwa menyapu membutuhkan teknik. Anak yang melipat pakaian dengan bentuk tidak rapi bukan sedang gagal; ia sedang berlatih.
Rumah adalah Tempat Belajar Kesalahan pertama seharusnya menjadi kesempatan untuk mengajarkan cara yang lebih baik, bukan alasan untuk mempermalukan. Tentu kesabaran bukan berarti ibu harus selalu diam. Ibu juga manusia yang bisa lelah, kesal, dan kewalahan. Apalagi pekerjaan domestik sering kali tidak pernah benar-benar selesai. Karena itu, persoalannya bukan meminta ibu menjadi sempurna, melainkan membangun kebiasaan untuk tidak langsung menghakimi ketika melihat hasil yang belum sesuai harapan.
Rumah seharusnya menjadi tempat orang belajar menjadi keluarga, bukan tempat setiap kesalahan dihukum. Sebab orang yang hari ini mencuci piring dengan kurang bersih mungkin besok bisa melakukannya dengan lebih baik. Anak yang hari ini membuat rumah berantakan ketika membantu mungkin suatu hari menjadi orang dewasa yang terbiasa mengurus rumahnya sendiri. Semua itu membutuhkan proses.
Terkadang, yang dibutuhkan keluarga bukan tangan yang semakin cepat mengambil alih pekerjaan, melainkan kesabaran untuk membiarkan orang lain belajar melakukannya. Jangan sampai kita terlalu sibuk mengejar rumah yang sempurna, tetapi tanpa sadar membuat orang-orang di dalamnya takut untuk sekadar membantu.
Baca Juga
-
Melawan Lupa, Menepis Stigma: Membaca Luka yang Tertinggal di Prahara 1965
-
Kita Tak Bisa Menyelamatkan Satwa Sambil Menghancurkan Habitatnya
-
Kita Sibuk Menghemat Seribu Rupiah, tapi Membuang Satu Jam dengan Percuma
-
Jangan Terus Membuat Aturan Baru Jika Aturan Lama Saja Tak Dijalankan
-
Program Pemerintah Harus Punya Umur Panjang, Bukan Sekadar Anggaran Panjang
Artikel Terkait
-
Jakarta Darurat Influenza-DBD: RSUD Kewalahan, DPRD Desak RS Swasta Segera Buka Layanan BPJS!
-
Bukan Cuma Main Game: Mengapa Anak SD Sekarang Lebih Betah di Roblox?
-
Susah Cari Bed Rumah Sakit di Bekasi: Kapasitas Pasien Ditambah, Kualitas Pelayanan Ditingkatkan
-
JALA PRT Soroti Pengajuan JR UU PPRT, Minta Pemohon Pahami Proses Pembentukan UU
-
KPAI Minta Kasus Dugaan Bullying Siswa SMP di Serpong Tak Berhenti di Mediasi
Kolom
-
Kita Tak Bisa Menyelamatkan Satwa Sambil Menghancurkan Habitatnya
-
Otomatisasi Kreativitas: Apakah Seni dan Tulisan Kita Masih Berjiwa?
-
Jari ke Janji, saat Pena Menjadi Pedang dan Kata Kehilangan Makna
-
Ilusi Kerja Keras di Balik Sirkus Makan Gratis
-
Saatnya Algoritma Media Sosial Turut Bertanggung Jawab Mitigasi Bencana
Terkini
-
Melawan Lupa, Menepis Stigma: Membaca Luka yang Tertinggal di Prahara 1965
-
Pelajaran Merelakan dari Lagu Percuma Mahalini: Ketika Usaha Tak Lagi Didengar
-
Sinopsis Be with Me, Dracin Terbaru Shen Yue dan Zhang Wan Yi di WeTV
-
Ulasan Minggat: Lima Sekawan Hadapi Penyeludup Misterius di Pulau Kirrin!
-
Review Lagu 'Sederhana' Sheila On 7: Sindiran Buat si Paling Hobi Pamer