Pernah buka sebuah berita karena judulnya bikin emosi, lalu setelah membaca ternyata isinya biasa saja? Lebih parah lagi, kadang kita sudah keburu komentar sebelum tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Di situlah krisis literasi hari ini terasa dekat. Krisis literasi bukan cuma soal malas membaca buku, tapi juga soal kebiasaan menerima informasi cukup dari judul, potongan video, atau caption tanpa mengecek konteksnya.
Kita Terbiasa Menelan Informasi dalam Sekali Scroll
Masalahnya, kebiasaan membaca kita sekarang sering dibentuk oleh cara media sosial bekerja. Satu kali scroll, muncul puluhan konten. Belum selesai memahami satu informasi, sudah ada video lain yang lebih heboh. Otak akhirnya terbiasa mencari sesuatu yang cepat dipahami dan cepat pula ditinggalkan.
Judul clickbait masuk ke celah itu. Kalimat seperti "Ternyata Selama Ini…, Bikin Netizen Murka, atau Anda Wajib Tahu!" dirancang untuk membuat orang berhenti scroll. Persoalannya bukan sekadar judul yang menarik, melainkan ketika judul justru menjadi satu-satunya bagian yang dibaca.
Menurut laporan Reuters Institute Digital News Report 2026, sebanyak 64 persen responden Indonesia mendapatkan berita melalui platform sosial seperti WhatsApp, YouTube, Facebook, dan TikTok. Laporan yang sama mencatat munculnya media homeless, yaitu situs atau akun yang mengambil konten dari media lain lalu memublikasikannya kembali, bahkan kadang dibuat lebih sensasional sehingga maknanya berubah.
Situasinya jadi seperti rantai makanan informasi. Judul dipotong, konteks dipangkas, lalu dibagikan. Orang berikutnya membaca versi yang sudah lebih pendek. Setelah itu, muncul komentar berdasarkan versi yang lebih pendek lagi. Informasi akhirnya berpindah tangan lebih cepat daripada kesempatan untuk memeriksa kebenarannya.
Ketika Judul Lebih Laku daripada Isi
Ada alasan ekonomi kenapa judul dibuat semakin menggoda. Di internet, perhatian adalah sesuatu yang diperebutkan. Klik, durasi menonton, komentar, dan jumlah dibagikan bisa menentukan seberapa jauh sebuah konten beredar.
Maka, judul yang membuat penasaran punya nilai. Masalah muncul ketika rasa penasaran itu sengaja dibangun lewat penghilangan konteks atau pemilihan kata yang provokatif. Pembaca merasa sudah tahu persoalannya, padahal baru membaca pintu masuknya.
Data Reuters Institute memperlihatkan perubahan kebiasaan tersebut. Dalam laporan 2025, konsumsi berita melalui media sosial dan video terus menguat, sementara hubungan audiens dengan media berita tradisional melemah di banyak negara. Untuk Indonesia, 57 persen responden pada laporan tersebut mengatakan memperoleh berita dari platform sosial, dengan TikTok mencapai 34 persen sebagai sumber berita.
Ini bukan berarti TikTok, WhatsApp, atau platform lain adalah biang masalah. Platform hanya menjadi tempat bertemunya informasi. Yang lebih penting adalah kebiasaan kita ketika berada di sana.
Bayangkan ada berita berjudul, Pemerintah Resmi Melarang X Mulai Besok. Kita mungkin langsung mengirimkannya ke grup keluarga. Padahal setelah dibaca lengkap, bisa saja larangan itu hanya berlaku pada kondisi tertentu, wilayah tertentu, atau bahkan merupakan usulan yang belum berlaku.
Kesalahan seperti ini kelihatannya kecil. Namun ketika dilakukan ribuan orang, dampaknya bisa besar. Informasi yang belum dipahami berubah menjadi opini. Opini berubah menjadi kemarahan. Kemarahan kemudian ikut menyebarkan informasi yang sama.
UNESCO juga menempatkan kemampuan mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan membuat informasi sebagai bagian dari media and information literacy. Dalam data yang mereka tampilkan, dua dari tiga kreator konten digital tidak secara sistematis memeriksa fakta sebelum membagikan informasi.
Artinya, persoalannya bukan hanya orang gampang percaya hoaks. Kita sedang berhadapan dengan budaya informasi yang membuat kecepatan terasa lebih penting daripada ketelitian.
Literasi Bukan Berarti Harus Membaca Semuanya
Solusinya sebenarnya tidak harus menjadi manusia yang membaca setiap artikel sampai habis. Kita juga punya aktivitas, tugas, kuliah, pekerjaan, dan kehidupan yang tidak bisa berhenti hanya karena satu berita.
Yang perlu dibangun adalah kebiasaan berhenti sebentar sebelum percaya dan membagikan.
Mulai dari hal sederhana seperti baca isi, bukan cuma judul. Periksa tanggal publikasi. Lihat siapa yang menerbitkan. Cari sumber utama jika berita menyebut pernyataan atau data tertentu. Kalau informasinya terasa terlalu mengagetkan, coba cari pemberitaan dari media lain sebelum ikut menyebarkannya.
Kebiasaan ini penting karena literasi digital bukan kemampuan untuk mengetahui semua hal. Literasi digital adalah kemampuan menyadari kapan kita belum tahu cukup banyak.
Menurut UNESCO, literasi media dan informasi dibutuhkan agar masyarakat bisa berpikir kritis ketika berhadapan dengan misinformasi, disinformasi, ujaran kebencian, hingga perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan.
Mungkin kita memang tidak bisa menghentikan clickbait. Selama perhatian manusia punya nilai ekonomi, judul yang mengundang klik akan terus bermunculan.
Namun kita bisa mengubah posisi kita sebagai pembaca. Jangan menjadi target klik yang hanya bereaksi. Jadilah pembaca yang memberi waktu beberapa detik lebih lama untuk bertanya, Ini sebenarnya ngomongin apa?
Karena di internet, membaca judul memang cuma butuh tiga detik. Memahami konteks mungkin butuh tiga menit. Tapi tiga menit itu bisa menjadi pembeda antara tahu sesuatu dan sekadar merasa tahu.
Baca Juga
-
Tren Kopi Susu dan FOMO Gen Z: Waspada Jebakan Gula di Balik Kedok Nongkrong
-
AI Untuk Bencana: Jalan Pintas Menyelamatkan Nyawa atau Sekadar Tren Tanpa Solusi?
-
Setelah Paru-Paru Dunia Dikepung Asap, Kapan Hutan Pulih?
-
Emisi Tersembunyi di Dapur: Mengapa Sampah Makanan Lebih Berbahaya dari Karbon Dioksida?
-
5 Rekomendasi HP 3 Jutaan dengan Spesifikasi Gila untuk Ngegame
Artikel Terkait
-
Tren Aplikasi Ringkasan Buku: Solusi Hemat Waktu atau Ancaman Daya Kritis?
-
Media Sosial vs Buku: Apakah Membaca Sesuatu yang Disukai Benar-benar Bikin Pintar?
-
Perkuat Literasi Kripto Nasional, Bursa Kripto CFX Gandeng Berbagai Pihak
-
Menangkis Label Generasi Sial, Gen Z Impact Fest Bedah Ketahanan Finansial
-
Membaca, Memahami, dan Merefleksi: Seni Menjaga Fokus di Tengah Serbuan Gawai
Kolom
-
Dilema Perempuan Modern: Tuntutan Harus Mandiri dan Beban untuk Selalu Terlihat 'Proper'
-
Dilema Atlet Pelajar: Saat Generasi Emas Dipaksa Memilih Antara Lapangan atau Kelas
-
Gajian Tiap Bulan, tapi Takut Kehabisan Uang: Inikah Realitas Dunia Kerja?
-
Toxic Positivity di Tempat Kerja: Siapa yang Sebenarnya Diuntungkan?
-
Tren Kopi Susu dan FOMO Gen Z: Waspada Jebakan Gula di Balik Kedok Nongkrong
Terkini
-
4 Calming Sunscreen Korea Lawan Kemerahan dan Dehidrasi pada Kulit Sensitif
-
Manga The Failure at God School Karya Natsu Hyuga Resmi Diadaptasi Anime TV
-
Urang Bunian: Mengungkap Horor Folklore Hutan Belantara Sumatra Barat!
-
Mengupas Sisi Psikologis Film Iyus Jenius, Pentingnya Memberi Ruang Anak untuk Bersedih
-
Dunning-Kruger Effect: Matinya Kepakaran Akibat Penguasa yang Anti Kritik