Hayuning Ratri Hapsari | e. kusuma .n
Ilustrasi Upacara 17 Agustus (Suara.com)
e. kusuma .n

Upacara 17 Agustus bukan sekadar seremoni, tapi ruang untuk mengingat sejarah kemerdekaan. Namun, ironi puluhan tahun masih terjadi hingga ketimpangan kenyamanan peserta dan pejabat di tribun patut menjadi bahan refleksi.

Setiap 17 Agustus, masyarakat Indonesia memang selalu kembali menjalankan sebuah tradisi yang sudah begitu melekat: upacara bendera untuk memperingati Hari Kemerdekaan.

Seragam rapi, barisan peserta, pengibaran Sang Merah Putih, pembacaan teks Proklamasi, hingga penghormatan pada para pahlawan menjadi tradisi yang berulang setiap tahun.

Bagi sebagian orang, upacara mungkin terasa seperti rutinitas. Bahkan, ada yang mempertanyakan mengapa seremoni semacam ini masih harus dilakukan ketika kehidupan masyarakat sudah begitu jauh berubah.

Seremoni upacara tetap penting. Hanya saja, cara menjalankannya perlu terus direfleksikan. Terlebih saat peserta upacara berdiri di bawah terik matahari, sementara sebagian pejabat atau tamu undangan duduk di tribun yang lebih teduh dan nyaman.

Upacara Bukan Sekadar Berdiri di Lapangan

Upacara 17 Agustus seharusnya tidak dipandang hanya sebagai kegiatan berdiri berjam-jam di lapangan. Di balik seremoni tersebut ada usaha untuk mengingat kembali sejarah perjuangan kemerdekaan.

Ada Proklamasi yang dibacakan pada 17 Agustus 1945, ada perjuangan panjang, dan ada generasi terdahulu yang mempertaruhkan banyak hal demi Indonesia merdeka.

Ritual bersama seperti upacara juga menciptakan ruang untuk berhenti sejenak dari rutinitas dan mengingat bahwa kemerdekaan bukan sesuatu yang muncul begitu saja.

Terlebih bagi generasi muda, pengalaman sejarah tidak cukup hanya diperoleh melalui buku. Simbol dan seremoni menjadi cara untuk menghubungkan generasi sekarang dengan peristiwa yang membentuk bangsa.

Ketika Peserta Kepanasan, Pejabat Duduk Nyaman

Namun, pentingnya upacara tidak berarti semua bentuk pelaksanaannya harus diterima tanpa kritik. Salah satu persoalan yang menarik untuk dibicarakan adalah ketimpangan kenyamanan antara peserta upacara dan pejabat atau tamu undangan.

Secara teknis, mungkin ada alasan protokoler atau kebutuhan tertentu. Akan tetapi secara simbolis, pemandangan tersebut menimbulkan pertanyaan: bukankah kemerdekaan seharusnya juga mengajarkan kesetaraan dan kepedulian?

Ketika masyarakat diminta mengikuti seremoni dengan penuh disiplin, sudah semestinya penyelenggara juga memikirkan kondisi mereka. Rasanya perbedaan “fasilitas” ini malah mencederai makna kemerdekaan.

Kenyamanan Bukan Berarti Mengurangi Rasa Hormat

Mungkin sebagian orang beranggapan kalau membuat tradisi upacara yang khas menjadi lebih nyaman akan mengurangi kekhidmatan. Menurut saya, tidak harus demikian.

Menyediakan tempat berteduh, memastikan peserta memperoleh akses air minum, mengatur durasi dengan baik, atau menyesuaikan pelaksanaan dengan kondisi cuaca bukan berarti menghilangkan nilai nasionalisme.

Justru, perhatian terhadap peserta menunjukkan kalau penghormatan terhadap kemerdekaan tidak berhenti pada simbol. Nasionalisme juga terlihat dari bagaimana kita memperlakukan orang lain.

Tidak ada salahnya mempertahankan tradisi upacara sambil memperbaiki aspek-aspek yang membuatnya lebih manusiawi. Disiplinnya ada, tanpa mengesampingkan rasa keadilan dan mindset memaknai perjuangan kemerdekaan.

Jangan Sampai Seremoni Kehilangan Makna

Upacara akan kehilangan makna jika hanya menjadi kewajiban administratif: hadir, berdiri, mengikuti rangkaian acara, lalu pulang. Lebih buruk lagi saat kita kehilangan ruang untuk memahami nilai yang diperingati.

Karena itu, upacara perlu dikembalikan pada substansinya. Menghormati sejarah, mengenang perjuangan, merawat persatuan, dan mengingat kembali arti kemerdekaan.

Sementara itu, kritik terhadap pelaksanaannya seharusnya tidak dianggap sebagai anti-nasionalisme. Justru, mempertanyakan ketimpangan kenyamanan bisa menjadi bagian dari upaya membuat seremoni semakin sesuai dengan nilai yang ingin dirayakan.

Merdeka Seharusnya Juga Berarti Peduli

HUT ke-81 RI bukan hanya tentang merah putih, lomba, dan upacara. Momentum ini juga kesempatan untuk bertanya apakah semangat kemerdekaan sudah terasa dalam kehidupan sehari-hari.

Jika peserta upacara kepanasan, sementara pejabat duduk nyaman, persoalannya bukan semata-mata siapa yang mendapatkan kursi lebih baik. Tapi, apakah mereka yang berada di posisi nyaman juga memikirkan kenyamanan mereka yang berdiri di bawah matahari?

Saya masih percaya upacara 17 Agustus tetap penting. Sebab seremoni bukan sesuatu yang harus ditinggalkan hanya karena zaman berubah. Hanya saja, tradisi juga bukan sesuatu yang tidak boleh dikritik.

Mempertahankan upacara sambil memperbaiki ketimpangannya akan menjadi cara memaknai kemerdekaan secara lebih dewasa: menghormati sejarah sekaligus peduli pada manusia yang hari ini meneruskan perjuangan tersebut.