Hayuning Ratri Hapsari | Sherly Azizah
Ilustrasi Gen Z (pexels/Andrea Piacquadio)
Sherly Azizah

Coba tanya dirimu sendiri: sudah berapa kali bulan ini kamu bilang "aku skip dulu ya, lagi hemat" ke ajakan teman? Kalau jawabannya sering, kamu bukan sendirian, dan ternyata, itu punya nama.

Fenomena ini disebut loud budgeting, dan menurut riset Bank of America Institute lewat laporan Better Money Habits, 42 persen Gen Z kini terang-terangan menolak ajakan sosial dan mengaku ke teman-temannya bahwa mereka memang tidak sanggup secara finansial.

Angka ini bertahan stabil dari tahun ke tahun, bahkan naik dari 38 persen pada 2024. Sekitar 75 persen Gen Z juga mengaku aktif mencari cara berhemat saat nongkrong, mulai dari memilih menu termurah, mengusulkan aktivitas gratis, sampai menyarankan kumpul di rumah saja. Di permukaan, ini terdengar seperti kemenangan kecil: generasi yang akhirnya berani jujur soal kondisi dompetnya, tanpa gengsi berpura-pura mampu.

Tapi ada sisi lain yang jarang dibahas. Survei dari Ally Bank menemukan bahwa 44 persen Gen Z dan milenial pernah melewatkan acara sosial penting karena alasan biaya, dan hanya 18 persen yang benar-benar punya anggaran khusus untuk aktivitas bersama teman.

Lebih jauh, riset CFP Board yang dikutip Fortune mengungkap bahwa dua dari tiga orang dewasa muda pernah absen dari undangan ulang tahun, reuni, bahkan pernikahan sahabat karena alasan finansial, dan kebanyakan dari mereka memilih menyembunyikan alasan sebenarnya. Loud budgeting mungkin soal keberanian bicara jujur, tapi kenyataannya, banyak juga yang diam-diam menghindar tanpa bicara sama sekali.

Nah, di titik inilah dilemanya mulai terasa. Amerika Serikat sendiri, menurut jajak pendapat Gallup 2024, mencatat bahwa 20 persen orang dewasa mengalami kesepian harian, angka tertinggi sejak puncak pandemi. Surgeon General AS bahkan sudah mengeluarkan peringatan resmi bahwa isolasi sosial berkaitan dengan risiko kesehatan serius, dari penyakit jantung sampai depresi.

Ironisnya, satu dari lima orang mengaku pertemanan mereka berakhir justru karena perbedaan kondisi finansial atau gaya hidup. Jadi ketika kita merayakan loud budgeting sebagai bentuk kedewasaan finansial, kita mungkin lupa bertanya: berapa banyak hubungan yang diam-diam merenggang karena kita terlalu sering bilang tidak?

Ini bukan berarti loud budgeting itu salah. Justru sebaliknya, generasi sebelumnya sering terjebak gengsi sosial, memaksakan diri ikut acara mahal demi tidak terlihat "kurang mampu", sampai akhirnya terlilit utang konsumtif hanya demi validasi pertemanan. Gen Z, dengan caranya sendiri, sedang mencoba memutus siklus itu.

Tapi masalahnya, kita belum benar-benar punya bahasa atau ruang sosial baru untuk menggantikan cara lama berkumpul. Menolak ajakan mahal itu mudah diucapkan, tapi menciptakan alternatif keakraban yang murah dan tetap bermakna, itu jauh lebih sulit, dan sering kali tidak benar-benar terjadi. Hasilnya, alih-alih pindah ke "kumpul murah tapi tetap dekat", banyak yang justru berhenti total di titik "tidak jadi kumpul sama sekali".

Padahal, kesehatan finansial dan kesehatan relasi sebenarnya tidak harus saling mengorbankan. Yang hilang dari narasi loud budgeting selama ini adalah langkah lanjutannya: bukan cuma berani bilang tidak, tapi juga berani menawarkan opsi lain. "Aku lagi hemat, gimana kalau masak bareng di kosanku aja?" itu kalimat yang jauh lebih berat maknanya dibanding sekadar menolak lalu menghilang dari radar circle pertemanan.

Jadi, sebelum kita terlalu bangga menyebut diri "generasi yang berani bilang tidak", mungkin ada baiknya kita juga jujur pada satu hal lagi: apakah kita sedang benar-benar menjaga keuangan, atau diam-diam sedang kehilangan orang-orang yang seharusnya menemani kita melewati masa sulit ini bersama-sama?