Di era media sosial, keluhan tentang dunia pendidikan semakin mudah ditemukan. Salah satu yang sering muncul adalah keluhan orang tua ketika anak yang sudah duduk di bangku sekolah dasar belum lancar membaca, menulis, atau berhitung. Tidak sedikit yang kemudian melayangkan kritik kepada guru, seolah kemampuan dasar anak sepenuhnya merupakan tanggung jawab sekolah.
Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu.
Ada satu kalimat yang sudah lama dikenal dalam dunia pendidikan: ibu adalah sekolah pertama bagi anak. Kalimat ini bukan sekadar ungkapan manis, melainkan prinsip yang didukung oleh banyak penelitian pendidikan. Kemampuan bahasa, kebiasaan membaca, kemampuan berkomunikasi, hingga minat belajar anak mulai terbentuk jauh sebelum mereka mengenakan seragam sekolah.
Ketika seorang anak masuk SD, guru memang bertugas mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung. Namun, guru tidak memulai dari titik nol tanpa bantuan keluarga. Fondasi belajar dibangun di rumah melalui interaksi sehari-hari: orang tua membacakan cerita, mengajak anak berbicara, mengenalkan huruf dan angka, atau sekadar menyediakan waktu untuk belajar bersama.
Sayangnya, perkembangan media sosial juga membawa tantangan baru. Banyak orang tua tanpa sadar lebih banyak menghabiskan waktu menatap layar dibandingkan berinteraksi dengan anak. Anak diberi gawai agar tenang, sementara kesempatan untuk membangun kemampuan berbahasa dan kebiasaan belajar justru berkurang. Ketika hasil belajar tidak sesuai harapan, sekolah sering menjadi pihak pertama yang disalahkan.
Padahal, jika dihitung secara sederhana, waktu anak bersama guru jauh lebih sedikit dibandingkan waktu bersama keluarga. Di sekolah, proses belajar berlangsung sekitar lima hingga tujuh jam sehari. Setelah itu, sebagian besar waktu anak dihabiskan di rumah. Artinya, keberhasilan pendidikan sangat ditentukan oleh apa yang terjadi setelah bel pulang berbunyi.
Guru dapat mengajarkan cara membaca di kelas, tetapi latihan yang konsisten harus terjadi di rumah. Guru dapat mengenalkan huruf, tetapi orang tua yang memperkuatnya melalui pengulangan setiap hari. Tanpa dukungan tersebut, perkembangan anak akan berjalan jauh lebih lambat.
Saya pernah mendengar pengalaman seorang guru yang menyisihkan waktu khusus untuk mendampingi murid yang belum bisa membaca. Dengan penuh kesabaran, ia mengeja huruf demi huruf, kata demi kata. Namun, setelah beberapa minggu, perkembangan anak hampir tidak terlihat. Bukan karena gurunya tidak mampu mengajar, melainkan karena latihan yang dilakukan di sekolah tidak pernah dilanjutkan di rumah. Apa yang dibangun selama beberapa jam di kelas hilang begitu saja ketika anak pulang.
Kondisi seperti ini tentu membuat guru menghadapi tantangan yang tidak ringan. Dalam satu kelas bisa terdapat lebih dari dua puluh bahkan tiga puluh siswa dengan kemampuan yang berbeda-beda. Guru harus memastikan seluruh materi tersampaikan, sekaligus memberikan perhatian kepada anak yang masih tertinggal. Jika di rumah tidak ada penguatan, maka beban guru menjadi berlipat ganda.
Namun, penting juga untuk tidak menjadikan tulisan ini sebagai alasan menyalahkan seluruh orang tua. Tidak sedikit ayah dan ibu yang harus bekerja dari pagi hingga malam demi memenuhi kebutuhan keluarga. Ada pula yang memiliki keterbatasan pendidikan sehingga kesulitan mendampingi anak belajar. Tantangan setiap keluarga berbeda-beda.
Yang menjadi persoalan adalah ketika orang tua memiliki waktu, memiliki akses informasi, tetapi memilih menyerahkan seluruh proses pendidikan kepada sekolah. Pendidikan bukan layanan yang bisa sepenuhnya dialihkan kepada guru. Ia adalah kerja sama yang menuntut keterlibatan kedua belah pihak.
Media sosial sering kali membuat kita mudah mencari kambing hitam. Ketika nilai anak jelek, guru disalahkan. Ketika anak belum lancar membaca, sekolah dianggap gagal. Padahal, pendidikan adalah ekosistem. Guru, orang tua, dan lingkungan memiliki peran yang saling melengkapi. Jika salah satu mata rantai ini lemah, hasilnya tentu tidak akan optimal.
Anak-anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna. Mereka membutuhkan orang tua yang hadir. Sepuluh atau lima belas menit membaca bersama setiap malam sering kali jauh lebih berharga daripada berjam-jam menggulir media sosial. Kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi fondasi besar bagi masa depan mereka.
Pada akhirnya, guru bukanlah pengganti orang tua. Mereka adalah mitra. Sekolah mengajarkan ilmu, tetapi rumah menumbuhkan kebiasaan. Ketika keduanya berjalan beriringan, anak memiliki peluang jauh lebih besar untuk berkembang. Sebaliknya, jika masing-masing saling melempar tanggung jawab, yang paling dirugikan bukan guru atau orang tua, melainkan anak itu sendiri.
Baca Juga
-
Ketika Banyak WNI Berobat ke Penang, Apa yang Perlu Kita Benahi?
-
Dianggap Mitos hingga Diakui Pahlawan Nasional: Siapakah Ratu Kalinyamat?
-
Naturalisasi Pemain Sepak Bola: Proses Kemenangan atau Kesalahan Berulang?
-
Membaca di Ruang Publik: Gerakan Senyap Membiasakan Membaca di Mana Saja
-
Kesadaran Jaminan Hari Tua: Jangan Jadikan Anak sebagai Dana Pensiun
Artikel Terkait
-
Penjelasan Menkeu Purbaya Soal Anggaran MBG Rp240 Triliun dan Alokasi Pendidikan
-
20 Twibbon HUT ke-81 RI untuk Anak-anak, Desain Lucu dan Gratis
-
Rp 240 Triliun Biaya MBG Masuk Anggaran Pendidikan 2027, Pemerintah Dinilai Kangkangi Putusan MK
-
Kesadaran Jaminan Hari Tua: Jangan Jadikan Anak sebagai Dana Pensiun
-
Bukan Sekadar Warisan: Cara Anak Muda Ini Bikin Sektor Pertanian Terlihat Keren di Mata Gen Z
Kolom
-
Loud Budgeting: Dompet Selamat, tapi Pertemanan Lenyap?
-
Ketika Banyak WNI Berobat ke Penang, Apa yang Perlu Kita Benahi?
-
Kimpul Bu Tin: Ketika Umbi Lokal Bertemu Kreativitas Zaman Now
-
Katanya Sudah Merdeka, Tapi Kenapa Ibu Rumah Tangga Sulit Berinvestasi?
-
Peserta Kepanasan, Pejabat Duduk Nyaman: Ironi Upacara 17 Agustus?
Terkini
-
Review Film PAW Patrol: The Dino Movie, Misi Penyelamatan Pulau Prasejarah
-
Review The Debt Collector: Aksi Balas Dendam Penuh Darah di Kota Bangkok!
-
Ulasan Metamorfosis Franz Kafka: Ketika Manusia Dinilai dari Kegunaannya
-
Grammy Pertimbangkan Ubah Kategori Asian Pop Usai BTS Tolak Kirim Karya
-
Melacak Jejak Warisan Meneer Belanda di Balik Budaya Panjat Pinang