Di panggung media sosial atau cerita manis rekan-rekan sebaya, kita kerap disuguhkan potret keharmonisan yang tampak sempurna antara seorang anak laki-laki dan ayahnya. Mereka digambarkan bisa tertawa lepas bersama, menghabiskan akhir pekan dengan hobi yang sama, atau berdiskusi santai mengenai masa depan tanpa sekat. Namun, bagi sebagian anak laki-laki—termasuk saya, realitas di balik pintu rumah sering kali menyodorkan lanskap yang sangat berseberangan.
Komunikasi di antara kami berjalan sangat minim dan kaku, terisolasi hanya pada batas-batas percakapan yang serba formal, sebutan singkat saat jam makan malam tiba, atau ketika ada urusan uang saku perkuliahan yang perlu diselesaikan. Bernapas di bawah atap rumah yang sama ternyata tidak otomatis mengikis rasa canggung.
Bahkan, untuk sekadar menyampaikan hal-hal krusial terkait dinamika kampus atau persoalan pribadi, saya harus menguntai dan menyaring susunan kata secara hati-hati di dalam kepala. Perasaannya hampir menyerupai ketegangan seorang mahasiswa yang bersiap melangkah masuk ke ruang sidang skripsi atau bersiap mengetuk pintu ruangan rektorat.
Jika dibedah secara sosiologis, kekakuan hubungan antara anak laki-laki dan ayah sejatinya merupakan fenomena yang sangat lumrah. Pertama, ada konstruksi budaya maskulinitas tradisional yang mengakar kuat. Banyak pria dari generasi ayah kita tumbuh di bawah doktrin bahwa menyingkapkan kerapuhan emosional adalah lambang kelemahan. Mereka mengekspresikan kasih sayang melalui cucuran keringat kerja keras dan pemenuhan kebutuhan finansial, bukan lewat pelukan hangat atau obrolan mendalam dari hati ke hati.
Kedua, tatkala sang anak laki-laki beranjak dewasa dan memasuki jenjang perguruan tinggi, terjadi pergeseran dinamika psikologis yang cukup intens, kini ada dua pria dewasa dengan egonya masing-masing yang harus berbagi ruang hidup yang sama.
Jejak Waktu, Obrolan di Mobil, dan Pergeseran Peran
Dalam konteks pengalaman personal saya, rasa canggung tersebut terpatri kian tebal akibat adanya jurang sejarah yang sempat memisahkan. Saya harus melewati masa kecil terpisah dari sosok ayah sebagai konsekuensi dari perpisahan orang tua, sebelum akhirnya kembali tinggal bersama beliau saat saya menginjak bangku sekolah menengah pertama.
Membangun kembali fondasi ikatan emosional yang sempat "terlompat" di masa kanak-kanak jelas bukanlah sebuah perkara yang mudah. Jika memutar kembali memori masa lalu, momen paling cair di antara kami justru tercipta di dalam kabin mobil saat ayah masih aktif bertugas sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Kala itu, saya kerap diajak mendampingi perjalanan dinas beliau.
Di dalam ruang bergerak itulah obrolan sanggup mengalir secara alami. Kami tidak perlu saling menatap mata secara langsung, dan masing-masing memiliki batas peran yang sangat jelas, ayah sebagai pilar pemberi wejangan, dan saya sebagai anak sekolah yang siap menyerap pendengaran.
Namun, sang waktu terus berputar dan keadaan kini telah berubah sepenuhnya. Saya hari ini adalah seorang mahasiswa yang sedang berjuang membentuk identitas dan independensi diri, sementara ayah telah resmi melangkah masuk ke masa pensiun. Hilangnya rutinitas kerja ayah serta ketiadaan momen "bicara di dalam mobil" perlahan membawa kami kembali ke titik mula: dua orang pria dewasa yang sama-sama bingung mengenai bagaimana seharusnya bersikap dan mengawali percakapan.
Memetakan Harapan dan Merawat Kemanusiaan
Dari ruang-ruang refleksi mendalam inilah, saya akhirnya membentur sebuah konklusi yang menenangkan batin, bahwa adanya jarak tidak serta-merta menandakan ketiadaan kepedulian, dan rasa canggung yang tersisa sama sekali bukan bukti bahwa kasih sayang telah menguap. Mungkin, ekspektasi dan kacamata pandang kitalah yang harus diselaraskan secara dewasa. Hubungan antara seorang ayah dan anak laki-laki tidak selalu harus mewujud sebagaimana citra ideal yang diproduksi oleh film layar lebar atau tayangan televisi.
Mengikis rasa gengsi untuk memulai langkah-langkah kecil, seperti secara perlahan menggali kisah masa lalu ayah, meminta pertimbangan beliau mengenai hal-hal praktis harian, atau sekadar mengajak beliau melangkah keluar rumah untuk agenda sederhana, dapat menjadi pemantik untuk menghangatkan kembali relasi yang membeku.
Pada akhirnya, memiliki kerendahan hati untuk memahami bahwa kasih sayang seorang ayah kerap kali hadir secara sunyi tanpa perlu diobral lewat banyak kata, adalah pelajaran pertama tentang hakikat kedewasaan yang wajib dipahami oleh seorang anak laki-laki.
Baca Juga
-
Review Film CODA: Harmoni Keheningan, Musik, dan Cinta Keluarga
-
Forrest Gump: Kebijaksanaan Emosional di Tengah Turbulensi Sejarah
-
Redefinisi Pengabdian: Dari Mahasiswa Kritis Menjadi Mahasiswa Konten
-
Koperasi Mendahului Aspal, Membedah Paradoks Desa Kelok Sunyi
-
Tragedi Seribu Perak: Saat Mahasiswa Menggugat Harga Kopi
Artikel Terkait
Kolom
-
Saat Jaket Hijau Hormat Bendera: Keringat Ojol dan Isu Kesejahteraan
-
Apa Arti Merdeka bagi Kita yang Masih Takut Memilih?
-
Ibu Baru dan Insecurity: Celah Marketing di Tengah Kecemasan Parenting
-
Merdeka Jadi Modern Tanpa Lupa Asal-Usul: Masih Bisa Bangga Punya Budaya Lokal?
-
Menggugat Pendekatan Reaktif Pemerintah Atasi Karhutla
Terkini
-
Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer: Kisah Kelam Perempuan Indonesia di Era Pendudukan Jepang
-
Denny Sumargo Tampil Emosional di Baby Udon, Kisah Nyata Fanny dan Hajime Jadi Pesan Harapan
-
Rilis September, Minho SHINee Umumkan Comeback Album Solo 'Make It Hot'
-
The Chosen in the Wild with Bear Grylls: Refleksi Kehidupan di Alam Bebas
-
The Poppy War dan Representasi Sejarah Tiongkok dalam Balutan Fantasi