Lintang Siltya Utami | Fairus Farizki
Seorang pria dewasa tampak stres, duduk di dalam ruangan dengan tangan menutupi wajahnya di samping laptop. (Pexels/Sami Abdullah)
Fairus Farizki

Ada masa ketika saya mengira persoalan sandwich generation hanyalah persoalan bagaimana seseorang mengatur uang. Kurangi nongkrong, jangan terlalu sering beli kopi, rajin menabung, mulai investasi, lalu suatu hari kita akan mencapai financial freedom. Selesai. Namun semakin melihat realitas anak muda seperti Gen Z di sekitar, persoalannya ternyata tidak sesederhana itu.

Bayangkan seorang anak muda yang baru mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan sekitar upah minimum. Ia ingin membayar kos, makan dengan layak, menabung, meningkatkan keterampilan, mungkin melanjutkan kuliah, dan suatu hari membeli rumah. 

Tetapi pada saat yang sama, ada orang tua yang membutuhkan bantuan, adik yang masih sekolah atau kuliah, dan kebutuhan keluarga yang tidak bisa ditunda.  Pertanyaannya kemudian bukan lagi, “Mengapa kamu tidak menabung?” Melainkan, “Berapa sebenarnya uang yang tersisa untuk dirimu sendiri?”

Persoalan ini menjadi semakin menarik ketika Indonesia sedang mengalami perubahan demografi besar. Salah satunya adalah Aging Population, istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika proporsi penduduk lanjut usia dalam suatu populasi semakin besar. 

Sederhananya, semakin banyak orang yang memasuki usia lanjut, sementara proporsi penduduk usia produktif perlahan mengecil. Perubahan ini juga menyangkut siapa yang nantinya menopang kebutuhan ekonomi dan sosial mereka.

Ketika Indonesia Memasuki Aging Population

Badan Pusat Statistik (BPS) melalui hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 mencatat bahwa penduduk berusia 60 tahun ke atas telah mencapai 11,97 persen dari total populasi Indonesia. 

Angka tersebut menandai Indonesia telah memasuki fase “Aging Population”. SUPAS 2025 sendiri mencakup 664.640 rumah tangga sehingga gambaran tersebut tidak berasal dari pengamatan terhadap kelompok kecil masyarakat.

Pada saat yang sama, BPS mencatat rasio ketergantungan Indonesia mencapai 45,05 pada 2025, meningkat dari 44,33 berdasarkan LF SP2020. Secara sederhana, setiap 100 penduduk usia produktif berhadapan dengan sekitar 45 penduduk usia nonproduktif yang secara ekonomi berada dalam posisi rentan.

Angka tersebut bukan berarti setiap orang usia produktif secara langsung harus membiayai seorang lansia. Namun, ia menunjukkan bahwa struktur penduduk Indonesia sedang berubah. Jumlah lansia semakin besar, sementara generasi usia produktif harus menjadi salah satu penyangga kehidupan masyarakat. Di sinilah persoalan sandwich generation menjadi relevan bagi Gen Z.

Survei terhadap 472 responden Gen Z yang dilakukan DataIndonesia.id pada 2023 menemukan 46,3 persen responden berada dalam posisi sandwich generation. Angka ini tentu tidak boleh dibaca sebagai 46,3 persen seluruh Gen Z Indonesia, tetapi cukup menunjukkan bahwa fenomena tersebut bukan persoalan yang sepenuhnya sporadis.

Bukan Sekadar Masalah Finansial

Menjadi generasi sandwich berarti seseorang dapat berada di antara beberapa kebutuhan generasi sekaligus. Ia membantu orang tua, memenuhi kebutuhan dirinya sendiri, dan dalam banyak keluarga juga ikut membiayai adik atau anggota keluarga lain.

Beban tersebut kemudian berpengaruh terhadap pilihan hidup. Dalam survei yang sama, 51,8 persen responden sandwich generation mengaku kesulitan memiliki tabungan pribadi atau keluarga inti, sementara 21,58 persen merasakan keterbatasan kesempatan kerja atau pengembangan karier. Sebanyak 66,19 persen juga mengkhawatirkan masa depan mereka.

Karena itu, menurut saya seperti tidak adil jika persoalan ini selalu diselesaikan dengan nasihat finansial individual belaka. Menabung dan berinvestasi memang penting. Tetapi kemampuan menabung sangat bergantung pada berapa banyak pendapatan yang tersisa setelah kebutuhan keluarga terpenuhi.

Bayangkan dua anak muda. Yang pertama mendapatkan penghasilan Rp8 juta dan hampir seluruhnya digunakan untuk dirinya sendiri. Yang kedua memperoleh Rp3 juta, tetapi harus membantu orang tua dan adiknya. Keduanya sama-sama diberi nasihat, “Sisihkan 20 persen untuk investasi.” Secara matematis sama, tetapi secara sosial keduanya hidup di dunia yang berbeda.

Apalagi kondisi pasar kerja juga tidak sederhana. BPS mencatat pada Februari 2026 bahwa pekerja penuh mencapai 66,77 persen, sementara pekerja paruh waktu 25,97 persen dan setengah pengangguran 7,27 persen. Artinya, persoalan anak muda bukan hanya apakah mereka bekerja, tetapi juga seperti apa kualitas dan kepastian pekerjaan yang mereka dapatkan.

Maka, sandwich generation sebenarnya adalah persoalan yang berada di persimpangan demografi, keluarga, pasar kerja, dan kebijakan perlindungan sosial. Orang tua bukan musuh Gen Z. Gen Z juga bukan generasi yang malas mengatur keuangan. Keduanya sama-sama berada dalam struktur ekonomi yang lebih besar daripada keputusan individual mereka.

Justru ketika Indonesia semakin menua, pertanyaannya adalah apakah keluarga akan terus menjadi jaring pengaman utama bagi lansia, sementara generasi mudanya sendiri sedang berjuang mendapatkan pekerjaan, membayar kebutuhan hidup, dan membangun masa depan?

Kalau jawabannya selalu diserahkan kepada keluarga, maka beban itu perlahan akan turun ke generasi berikutnya. Dan bagi sebagian Gen Z seperti kami mungkin tidak lagi sekadar menjadi generasi sandwich. Mereka sudah menjadi generasi yang terjepit dari banyak arah sekaligus.