Lintang Siltya Utami | Oktavia Ningrum
Hewan Bekantan (Unsplash/@brewbottle)
Oktavia Ningrum

Karhutla bukan hanya persoalan asap yang memenuhi udara atau hutan yang berubah menjadi lahan hitam. Bagi satwa liar, kebakaran berarti kehilangan rumah, sumber makanan, tempat berlindung, bahkan jalur untuk menyelamatkan diri. Bekantan menjadi salah satu korban yang paling mengkhawatirkan karena primata endemik Kalimantan ini sangat bergantung pada ekosistem hutan di sekitar sungai, rawa, mangrove, dan pesisir.

Bayangkan seekor bekantan yang selama bertahun-tahun hidup di tepian sungai. Pohon rambai dan jingah menjadi tempatnya berlindung, mencari makan, tidur, dan berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya. Kemudian suatu hari api datang. Pohon-pohon terbakar, makanan menghilang, udara dipenuhi asap, dan wilayah yang selama ini dikenalnya berubah menjadi lautan api.

Bekantan bukan satwa yang bisa memilih habitat baru sesuka hati. Mereka membutuhkan lingkungan tertentu untuk bertahan hidup. Ketika hutan di sepanjang sungai ditebang, ruang hidup mereka menyempit. Ketika kebakaran datang, pilihan itu semakin sedikit.

Kondisi di sepanjang Sungai Barito semestinya menjadi perhatian serius. Masyarakat yang tinggal di sekitar sungai telah melihat perubahan lingkungan dari waktu ke waktu. Pohon-pohon tinggi di kawasan pesisir dan tepian sungai semakin berkurang, sementara satwa yang dahulu lebih mudah dijumpai kini semakin jarang terlihat. Bekantan bukan satu-satunya yang terdampak. Warik atau monyet dan hirangan atau kera yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan hutan juga semakin sulit ditemui.

Ini bukan sekadar nostalgia masyarakat terhadap satwa yang dulu sering terlihat. Berkurangnya satwa merupakan tanda bahwa ekosistem sedang mengalami tekanan.

Karena itu, menjaga tepian sungai seharusnya menjadi bagian penting dari perlindungan satwa Kalimantan. Pohon rambai, jingah, dan vegetasi asli lainnya bukan sekadar tanaman yang tumbuh liar. Bagi satwa, pohon-pohon tersebut adalah rumah, tempat mencari makanan, sekaligus koridor alami untuk bergerak.

Ketika satu kawasan ditebang dan digantikan lahan terbuka, dampaknya tidak berhenti pada hilangnya satu atau dua pohon. Habitat menjadi terfragmentasi. Satwa kehilangan jalur pergerakan dan semakin dekat dengan permukiman manusia.

Tidak mengherankan jika dalam kondisi bencana, satwa yang panik kemudian muncul di tempat-tempat yang tidak biasa. Bekantan yang naik ke atap rumah warga untuk mencari perlindungan bukanlah pemandangan lucu atau tontonan semata. Itu adalah tanda bahwa habitat alaminya sedang tidak aman.

Ketika seekor satwa liar masuk ke permukiman karena kebakaran, kita perlu bertanya: siapa sebenarnya yang memasuki wilayah siapa?

Bisa jadi bukan satwanya yang datang ke rumah manusia. Manusialah yang perlahan mengambil rumah satwa.

Karhutla kemudian memperparah persoalan tersebut. Api menghancurkan vegetasi dan sumber makanan, sedangkan asap dapat mengganggu pernapasan dan memaksa satwa meninggalkan habitatnya. Satwa yang berhasil melarikan diri pun belum tentu selamat. Mereka dapat mengalami dehidrasi, kelaparan, luka bakar, stres, atau menjadi korban konflik ketika masuk ke wilayah manusia.

Karena itu, perlindungan bekantan tidak boleh berhenti pada penyelamatan satwa yang ditemukan dalam kondisi lemah. Penyelamatan individu memang penting, tetapi jauh lebih penting menyelamatkan habitatnya.

Pemerintah daerah di Kalimantan Selatan bersama masyarakat perlu memperkuat perlindungan kawasan tepian sungai, terutama wilayah yang menjadi habitat bekantan. Penebangan vegetasi alami di kawasan penting harus dikendalikan. Koridor habitat perlu dipertahankan dan dipulihkan. Pencegahan karhutla harus dilakukan sebelum api muncul, bukan baru bergerak setelah asap memenuhi permukiman.

Masyarakat juga memiliki peran besar. Jangan memburu satwa yang tersesat, jangan menangkapnya untuk dipelihara, dan jangan menjadikan kemunculannya sebagai tontonan. Jika menemukan satwa yang terdampak kebakaran, langkah paling tepat adalah melaporkannya kepada petugas atau lembaga konservasi setempat agar dapat ditangani secara aman.

Kita sering mengatakan bahwa bekantan adalah kekayaan Kalimantan. Tetapi kekayaan tidak berarti apa-apa jika hanya dibanggakan sementara habitatnya terus menghilang.

Bekantan adalah bagian dari identitas ekologis Kalimantan. Mereka telah hidup di tepian sungai jauh sebelum manusia menjadikan kawasan tersebut sebagai ruang ekonomi. Mereka tidak meminta hutan yang mewah. Mereka hanya membutuhkan pohon untuk berlindung, sungai untuk bertahan hidup, dan habitat yang aman untuk membesarkan generasi berikutnya.

Maka kepada masyarakat Kalimantan Selatan, mari beri ruang bagi mereka. Kepada pemerintah, mari lindungi ruang itu dengan kebijakan yang benar-benar berjalan di lapangan.

Sebab ketika seekor bekantan berdiri di atas atap rumah karena hutan tempatnya berlindung terbakar, itu bukan sekadar pemandangan yang membuat kita menangis.

Itu adalah peringatan bahwa rumah mereka sedang kita hilangkan. Dan kalau tepian sungai terus kehilangan pohon, hutan terus terbakar, sementara satwa terusir sedikit demi sedikit, jangan heran jika suatu hari kita hanya mengenal bekantan dari foto. Saat itu, yang hilang bukan hanya seekor primata berhidung panjang. Yang hilang adalah bagian dari Kalimantan itu sendiri.