Ketika melihat panda China, kita melihat bagaimana seekor satwa dapat menjadi simbol kebanggaan nasional sekaligus mendapat perlindungan luar biasa dari negaranya. Sementara itu, Indonesia memiliki kekayaan satwa endemik yang tak kalah menakjubkan. Orangutan, bekantan, kucing merah, anoa, maleo, jalak Bali, komodo, hingga berbagai spesies yang hanya hidup di kepulauan tertentu. Tetapi sebagian di antaranya justru semakin terdesak.
Mengapa hewan endemik Indonesia tidak mendapatkan perlakuan seperti panda di China?
Jawaban pertamanya bukan karena pemerintah Indonesia tidak peduli. Indonesia memiliki berbagai aturan perlindungan satwa, kawasan konservasi, lembaga penelitian, serta program penyelamatan spesies terancam. Masalahnya adalah konservasi tidak cukup hanya dengan aturan. Ia membutuhkan penegakan hukum, anggaran, pengawasan, tata ruang, penelitian, dan konsistensi kebijakan yang berjalan bersamaan.
Panda memiliki satu keuntungan besar, ia telah menjadi simbol nasional China.
Panda bukan sekadar satwa liar. Ia telah menjadi bagian dari diplomasi, identitas nasional, pariwisata, penelitian, dan citra internasional China. Pemerintah memiliki kepentingan besar untuk memastikan keberadaannya tetap terjaga. Konservasi panda juga didukung oleh perlindungan habitat, penelitian, program penangkaran, serta pengelolaan populasi yang dilakukan dalam jangka panjang.
Indonesia sebenarnya memiliki “panda” dalam jumlah yang jauh lebih banyak. Hanya saja kita belum memperlakukan mereka sebagai aset nasional yang harus dijaga dengan keseriusan yang sama.
Bayangkan jika kucing merah Kalimantan diposisikan sebagai ikon nasional. Jika bekantan menjadi simbol penting Kalimantan. Jika anoa menjadi wajah Sulawesi. Jika maleo menjadi kebanggaan masyarakat setempat. Cara masyarakat melihat satwa-satwa tersebut mungkin akan berbeda.
Masalahnya, sebagian satwa endemik Indonesia masih sering dipandang sebagai persoalan konservasi yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Padahal, hilangnya satu spesies merupakan kehilangan permanen. Jika suatu spesies endemik punah, tidak ada populasi lain di negara lain yang dapat menggantikannya.
Kondisi geografis Indonesia juga membuat persoalannya semakin rumit. Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki ekosistem yang sangat beragam dan populasi satwa yang tersebar di banyak pulau. Setiap kawasan memiliki persoalan berbeda. Perlindungan komodo tidak bisa disamakan dengan perlindungan orangutan. Penanganan habitat anoa berbeda dengan konservasi maleo. Kucing merah membutuhkan strategi yang berbeda pula.
Artinya, konservasi membutuhkan pendekatan yang spesifik, bukan kebijakan seragam.
Persoalan lain adalah tekanan ekonomi terhadap habitat. Hutan yang menjadi rumah satwa juga memiliki nilai ekonomi bagi manusia. Ketika hutan dibuka untuk berbagai kepentingan, satwa kehilangan ruang hidup. Ketika terjadi kebakaran, persoalannya semakin parah. Satwa yang berhasil lolos dari api masih harus menghadapi habitat yang terfragmentasi, berkurangnya makanan, konflik dengan manusia, dan ancaman perburuan.
Di titik ini, konservasi seharusnya tidak diposisikan sebagai lawan pembangunan.
Justru pembangunan harus dirancang agar tidak menghabiskan fondasi ekologis yang menopangnya.
Indonesia juga perlu belajar dari cara China membangun hubungan emosional antara masyarakat dan panda. Konservasi tidak cukup berbicara tentang larangan memburu atau memperdagangkan satwa. Masyarakat perlu dibuat merasa bahwa kehilangan satwa berarti kehilangan bagian dari identitas bangsa.
Kita tidak boleh hanya menangis ketika melihat video satwa terluka atau hutan terbakar. Rasa iba harus berubah menjadi sistem perlindungan yang nyata.
Pemerintah perlu memperkuat perlindungan habitat, meningkatkan kualitas kawasan konservasi, menindak perdagangan satwa ilegal, memperkuat penelitian populasi, menyediakan pendanaan jangka panjang, dan melibatkan masyarakat lokal sebagai bagian utama konservasi.
Sebab satwa endemik Indonesia tidak membutuhkan belas kasihan sesaat. Mereka membutuhkan jaminan bahwa habitatnya akan tetap ada.
Panda China menunjukkan bahwa konservasi bisa berhasil ketika sebuah negara menjadikan satwa sebagai bagian dari identitas nasional dan memberikan perlindungan secara konsisten.
Indonesia sebenarnya memiliki kekayaan yang jauh lebih luar biasa. Persoalannya, kita sering baru menyadari nilainya ketika jumlahnya sudah sangat sedikit.
Jangan sampai suatu hari nanti anak cucu kita hanya mengenal kucing merah, bekantan, lutung Jawa, atau orangutan melalui foto di buku pelajaran.
Baca Juga
-
Bekantan Terdesak Api: Hutan Kalimantan Terbakar, Mereka Kehilangan Rumah
-
Sade Terbakar, Identitasnya Jangan: Memaknai Ulang Konsep Pemulihan Wisata Budaya
-
Gue Ogah Ribet: Stop Overthinking dan Temukan Jalan Sukses Versi Sendiri!
-
Ketika Satu Pabrik Tutup, yang Runtuh Bukan Hanya Lapangan Kerja
-
Karena Cinta Itu Sempurna: Arti Kekasih di Hidup yang Tak Selalu Mudah
Artikel Terkait
-
Darurat Karhutla Kalimantan: Saat Jutaan Manusia dan Satwa Endemik Berebut Ruang Napas
-
Hati-Hati, Rusaknya Rumah Satwa Endemik Bisa Jadi Awal Runtuhnya Ekosistem Hutan
-
Nasib Satwa di Tengah Karhutla: Tanpa Hak Suara, Hidup Ditentukan Manusia
-
Viral Kuskus Waigeo di Atas Pohon Tumbang: Saat Hutan Habitat Satwa Endemik Papua Menyusut
-
Angkat Konflik Satwa Liar Madura, Moch Dzikry Nur Alam Raih Juara Nasional
Kolom
-
Unpopular Opinion: Kita Butuh Cancel Culture yang Lebih Kejam untuk Figur Publik Bermasalah
-
Asap di Udara Kita, Uangnya di Bank Mereka: Hipokrasi Kebakaran Kalimantan
-
Rekening Donasi Dibekukan: Penegakan Hukum atau Pembatasan Demokrasi?
-
Karhutla Melanda di Berbagai Wilayah, Apa yang Bisa Kita Lakukan sebagai Warga Negara?
-
Hati-Hati, Rusaknya Rumah Satwa Endemik Bisa Jadi Awal Runtuhnya Ekosistem Hutan
Terkini
-
Tradisi Menginang saat Maulid Nabi dan 5 Manfaatnya untuk Kesehatan Mulut
-
Alyssa Daguise Kena Body Shaming, Beri Respons Menohok kepada Netizen!
-
Ulasan Nice to Not Meet You: Krisis Identitas di Balik Pekerjaan Impian
-
Ulasan Buku Atomic Habits: Kebiasaan Kecil yang Diam-Diam Mengubah Hidupmu
-
Ulasan Novel False Beat, Kisah Manajer Amatir dan Vokalis Band Berwajah Dua