Ada satwa yang masih bisa kita lihat di kebun binatang. Ada yang mudah ditemui melalui dokumenter. Namun ada pula satwa yang keberadaannya begitu sulit disaksikan hingga sebagian besar manusia mungkin tidak pernah melihatnya secara langsung sepanjang hidup.
Kucing merah adalah salah satunya.
Satwa liar endemik Kalimantan ini dikenal dengan nama ilmiah Catopuma badia. Tubuhnya relatif kecil, gerakannya senyap, dan kehidupannya sangat bergantung pada hutan. Justru karena sifatnya yang pemalu dan jarang terlihat, keberadaannya sering luput dari perhatian publik.
Kita sering menganggap satwa yang tidak terlihat sebagai satwa yang baik-baik saja. Padahal, dalam konservasi, kelangkaan justru bisa menjadi alarm.
Populasi pastinya memang sulit dihitung karena satwa ini sangat jarang dijumpai dan hidup di habitat yang luas serta sulit dipantau. Namun kucing merah memang dikategorikan sebagai satwa yang terancam dan populasinya menghadapi tekanan serius akibat hilangnya habitat.
Artinya, kita tidak boleh menunggu sampai jumlahnya benar-benar tinggal puluhan untuk mulai bertindak.
Ancaman terbesar bagi kucing merah bukanlah karena mereka kalah dalam pertarungan dengan predator lain. Ancaman utamanya justru datang dari aktivitas manusia yang mengubah hutan menjadi ruang produksi, permukiman, jalan, perkebunan, maupun kawasan yang terfragmentasi.
Bagi manusia, pembukaan lahan mungkin terlihat sebagai perubahan bentang alam. Bagi kucing merah, itu berarti rumah yang perlahan menghilang.
Hutan adalah tempat mereka mencari makan, berlindung, berkembang biak, dan bergerak. Ketika hutan terpecah menjadi bagian-bagian kecil, satwa tidak lagi memiliki ruang yang sama seperti sebelumnya. Jalan dan kawasan terbuka juga dapat menjadi penghalang pergerakan.
Situasinya menjadi jauh lebih mengkhawatirkan ketika kebakaran hutan ikut terjadi.
Api tidak hanya membakar pohon. Ia menghancurkan vegetasi yang menjadi bagian dari rantai makanan, mengubah struktur habitat, membunuh atau mengusir satwa mangsa, serta memaksa satwa liar bergerak menuju kawasan yang mungkin lebih berbahaya.
Kucing merah yang berhasil menyelamatkan diri dari api pun belum tentu benar-benar selamat.
Ketika habitat semakin terfragmentasi, satwa dapat terdesak mendekati kawasan manusia. Di sana mereka menghadapi risiko lain: konflik dengan manusia, jerat, perburuan, kendaraan, hingga kehilangan sumber makanan.
Inilah alasan mengapa konservasi tidak boleh hanya berorientasi pada penyelamatan individu.
Menemukan seekor kucing merah yang terluka tentu penting. Tetapi jika hutan tempat ia seharusnya hidup terus menghilang, menyelamatkan satu individu tidak akan menyelesaikan persoalan.
Yang harus diselamatkan adalah ekosistemnya.
Kita membutuhkan perlindungan habitat yang nyata, pengawasan kawasan hutan, pencegahan kebakaran, pemulihan habitat yang rusak, serta penelitian yang lebih intensif untuk mengetahui persebaran dan kondisi populasi kucing merah. Kamera jebak dan pemantauan berbasis teknologi dapat membantu karena satwa ini sangat sulit diamati secara langsung.
Namun konservasi juga membutuhkan sesuatu yang lebih sederhana: kesadaran bahwa hutan memiliki pemilik ekologis selain manusia.
Kucing merah tidak bisa datang ke kantor pemerintah untuk meminta perlindungan. Ia tidak bisa membuat petisi. Ia tidak bisa memberi tahu kita bahwa wilayah jelajahnya semakin sempit.
Ketika akhirnya kita melihatnya, mungkin justru karena kondisinya sudah sangat genting.
Karena itu, jangan menunggu kabar bahwa “kucing merah tinggal beberapa puluh ekor” untuk merasa panik. Dalam konservasi, kehilangan habitat hari ini dapat menjadi kepunahan beberapa dekade kemudian.
Kalimantan bukan hanya rumah bagi manusia. Di dalam rimbunnya hutan, ada kehidupan yang berjalan tanpa kamera, tanpa sorotan, dan tanpa suara.
Kucing merah adalah salah satunya.
Mungkin pertanyaan terpenting bukanlah apakah kucing merah akan punah.
Apakah kita akan membiarkan kepunahan itu terjadi diam-diam, lalu baru merasa kehilangan ketika tidak ada lagi yang bisa diselamatkan?
Baca Juga
-
Uang Jadi Tolak Ukur Memperlakukan Manusia di Buku Crazy Rich Asians
-
Meneladani Spirit Pemimpi di Negeri Orang dalam Buku Lost in the USA
-
Indonesia Tak Cukup Mencetak Insinyur, Kita Harus Membangun Industrinya
-
Ancaman Krisis Pangan 2027, tapi MBG Berisiko Membuang Jutaan Ton Makanan?
-
PPN Pembalut Bukan Aturan Baru, Lantas Mengapa Baru Ramai Dipersoalkan?
Artikel Terkait
-
Daftar 4 Negara Tetangga Ikut Kena Getah Asap Karhutla Kalimantan
-
Rumah Satwa Endemik Tergerus Saat Perlindungan Konservasi Hanya di Kertas
-
Paru-Paru Dunia dalam Kepungan Asap: Hak Bernapas di Tengah Krisis Karhutla
-
Udaranya Sudah di Tingkat Berbahaya, Korban ISPA di Kalimantan Tembus Ratusan Ribu Jiwa
-
Andai Satwa bisa Bicara: Rumah Kami Berapi Bukan karena Takdir Tuhan
Kolom
-
Di Balik Pahitnya Matcha, Ada Ancaman Gula Berlebih yang Bikin Tubuh Menjerit!
-
Wacana Blokir Medsos Anak: Solusi Aman atau Bikin Anak Makin Penasaran?
-
Saya Kira Saya Malas, Ternyata Otak Saya Disetel Ulang untuk Gagal Fokus
-
Sering Dianggap Remeh, Segini Mahalnya Biaya Menjadi Perempuan Setiap Bulan
-
Beras Bebas Pajak, Pembalut Kena PPN: Potret Hukum Kita Buta Gender
Terkini
-
Jangan Lewatkan! ENHYPEN Rilis Jadwal Teaser Single The Sin: Parallel World
-
5 Body Lotion dengan Kandungan Aloe Vera, Memberi Sensasi Sejuk di Kulit!
-
Uang Jadi Tolak Ukur Memperlakukan Manusia di Buku Crazy Rich Asians
-
5 Film Baru Sambut Akhir Pekan Ini, Ada Laut Bercerita hingga The Intern
-
Jay Idzes Cedera Parah, Terancam Absen di Ajang FIFA Matchday November?