Hayuning Ratri Hapsari | e. kusuma .n
Ilustrasi scrolling media sosial (Pexels/cottonbro studio)
e. kusuma .n

HUT ke-81 RI menjadi momentum bagi Gen Z untuk mempertanyakan makna kebebasan di era media sosial: apakah benar lebih bebas berekspresi atau justru semakin tertekan?

Bagi Gen Z sendiri, media sosial bukan sekadar tempat mencari hiburan, tapi juga tempat untuk kita bisa berbagi pendapat, menunjukkan karya, menemukan komunitas, mencari informasi, bahkan membangun identitas.

Dengan satu unggahan, suara seseorang bisa menjangkau banyak orang. Dengan satu video, karya yang sebelumnya hanya dilihat oleh teman dekat bisa ditemukan publik. Dari sisi ini, media sosial jelas memberikan ruang kebebasan yang lebih luas.

Namun, ada pertanyaan yang menurut saya menarik untuk direnungkan: seberapa merdeka Gen Z sebenarnya ketika hidup semakin dekat dengan media sosial? Sebab, ruang yang terlihat bebas ternyata juga memiliki tekanan tersendiri.

Media Sosial Memberikan Ruang untuk Bersuara

Tidak dimungkiri kalau media sosial memiliki sisi positif dengan memberi kesempatan berekspresi. Gen Z tidak harus menunggu panggung besar untuk bisa menyampaikan pendapat agar didengar dan dilihat publik.

Siapa pun bisa membuat konten, membagikan pengalaman, memperkenalkan karya, atau berdiskusi mengenai berbagai persoalan. Bahkan media sosial juga memungkinkan terbentuknya komunitas berdasarkan minat yang sama.

Seseorang yang merasa berbeda di lingkungan sekitarnya bisa menemukan orang-orang dengan pengalaman serupa di dunia digital. Dalam konteks ini, media sosial memang bisa menjadi ruang kemerdekaan dalam menentukan apa dan pada siapa sesuatu ingin disampaikan.

Kebebasan Juga Datang Bersama Tekanan

Masalahnya, kebebasan berekspresi di media sosial tidak selalu terasa benar-benar bebas. Ada tekanan untuk mendapatkan likes, komentar, dan jumlah pengikut. Ada kekhawatiran ketika sebuah unggahan tidak mendapatkan respons sesuai harapan.

Bahkan, sebagian orang mulai memikirkan bagaimana kehidupan mereka akan terlihat di mata orang lain sebelum benar-benar menikmati kehidupan tersebut. Tekanan ini nyata, meski dibungkus dengan “ kulit” kebebasan.

Kita mungkin berkata, “Aku bebas menjadi diri sendiri.” Tetapi kemudian muncul pertanyaan lain: “Apakah orang lain akan menyukai versi diriku ini?”. Di sinilah kebebasan bisa berubah menjadi kebutuhan akan validasi.

FOMO dan Algoritma Ikut Membentuk Pilihan

Tekanan lain datang dari tren dan algoritma. Apa yang muncul di layar kita bisa memengaruhi apa yang dianggap menarik, penting, bahkan normal. Tren berubah begitu cepat hingga Gen Z bisa merasa harus selalu mengikuti perkembangan agar tidak tertinggal.

FOMO akhirnya menjadi bagian dari keseharian. Kita mengikuti tren karena memang menyukainya, tapi terkadang juga karena takut menjadi satu-satunya orang yang tidak ikut. Jika terus terjadi, pilihan pribadi perlahan d bercampur dengan dorongan lingkungan digital.

Kebebasan Tidak Harus Berarti Selalu Online

Menurut saya, salah satu bentuk kemerdekaan digital yang sering dilupakan adalah kemampuan untuk memilih kapan harus hadir dan kapan harus berhenti. Bukankah kebebasan tidak harus berarti selalu online?

Tidak semua unggahan harus mendapatkan respons. Tidak semua tren harus diikuti. Tidak semua perdebatan perlu dimenangkan. Bahkan, tidak semua momen dalam hidup harus dibagikan kepada publik.

Kita berhak memiliki kehidupan yang tidak terdokumentasi. Ada pengalaman yang cukup dinikmati sendiri. Ada pencapaian yang tidak perlu diumumkan. Ada kegagalan yang tidak harus dijelaskan kepada orang lain.

Menjaga ruang pribadi bukan berarti ketinggalan zaman. Justru, kebebasan memilih menjara ruang pribadi bisa menjadi cara mempertahankan kendali atas kehidupan sendiri.

Merdeka Bukan Berarti Bebas dari Semua Tekanan

Merdeka di era digital bukan berarti terbebas sepenuhnya dari tekanan media sosial. Itu mungkin sulit karena teknologi sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, kita masih bisa memilih bagaimana menggunakannya.

Kita bisa menggunakan media sosial untuk berkarya tanpa menjadikan jumlah likes sebagai ukuran harga diri. Bisa mengikuti tren tanpa merasa wajib mengikuti semuanya. Bisa membaca pendapat orang lain tanpa harus kehilangan pendapat sendiri.

Pada akhirnya, media sosial bisa menjadi ruang kebebasan sekaligus ruang tekanan. Perbedaannya terletak pada seberapa besar kendali yang masih kita miliki atas pilihan sendiri. Mungkin, kemerdekaan Gen Z di era digital bukan tentang meninggalkan media sosial.

Merdeka digital untuk Gen Z bisa berarti saat kita mampu menggunakan media sosial tanpa membiarkan algoritma, tren, dan penilaian orang lain sepenuhnya menentukan siapa diri kita.

Memiliki kebebasan untuk bersuara memang penting bagi generasi muda. Hanya saja, memiliki keberanian untuk tidak selalu bersuara, tidak selalu mengikuti tren, dan tidak selalu mencari validasi juga merupakan bentuk kemerdekaan.