M. Reza Sulaiman | e. kusuma .n
ilustrasi lifestyle inflation (Pexels/Polina Tankilevitch)
e. kusuma .n

Bayangkan beberapa tahun lalu kita bisa bahagia membeli kopi sesekali. Setelah penghasilan meningkat, kopi tersebut mulai menjadi rutinitas harian. Dulu makan di luar hanya dilakukan saat akhir pekan, sekarang pesan makanan lewat aplikasi terasa biasa.

Lalu, ketika pendapatan kembali naik, standar tersebut ikut berubah. Tempat makan yang dulu dianggap mahal menjadi “biasa”. Barang yang sebelumnya cukup dilihat di etalase mulai terasa layak dibeli.

Bahkan liburan yang dulu direncanakan setahun sekali perlahan menjadi agenda beberapa bulan sekali. Tanpa sadar, penghasilan naik, tapi pengeluaran juga ikut bertambah. Fenomena inilah yang kini dikenal sebagai lifestyle inflation.

Apa Itu Lifestyle Inflation?

Secara sederhana, lifestyle inflation terjadi saat penghasilan meningkat tapi gaya hidup dan pengeluaran juga ikut naik. Di era modern ini, penting untuk mengenali penyebabnya agar kenaikan pendapatan tidak habis tanpa terasa.

Masalahnya, kenaikan pengeluaran tersebut sering tidak terasa karena terjadi secara bertahap. Gaji naik sedikit, kita meningkatkan kualitas makanan. Pendapatan bertambah lagi, mulai berlangganan lebih banyak layanan.

Saat mendapat penghasilan tambahan, kita mulai berpikir membeli barang yang sebelumnya dianggap tidak terlalu penting. Tidak ada satu keputusan yang terlihat sangat besar.

Namun, jika keputusan-keputusan kecil ini dikumpulkan, semua bisa memberikan dampak signifikan terhadap keuangan. Menurut saya, inilah yang membuat lifestyle inflation cukup sulit disadari.

Standar “Nyaman” Terus Berubah

Salah satu penyebab lifestyle inflation tidak lepas dari standar kenyamanan yang ikut bergeser. Apa yang dulu dianggap sebagai kemewahan perlahan menjadi kebutuhan.

Dulu cukup menggunakan transportasi umum, sekarang merasa harus menggunakan kendaraan pribadi. Dulu makan sederhana sudah cukup, sekarang merasa perlu memesan makanan tertentu agar hari terasa lebih menyenangkan.

Bukan berarti semua peningkatan kualitas hidup itu salah. Ketika penghasilan meningkat, tentu wajar kalau ingin menikmati hasil kerja kerasnya. Yang menjadi persoalan adalah ketika standar hidup baru tersebut membuat kita tidak lagi memiliki ruang untuk mempersiapkan masa depan.

Faktor Media Sosial Ikut Memengaruhi

Kita juga tidak bisa mengabaikan pengaruh media sosial. Setiap hari, kita melihat orang lain membeli barang baru, bepergian, atau menjalani gaya hidup tertentu hingga tanpa sadar mulai menjadikan kehidupan orang lain sebagai standar untuk menilai kehidupan sendiri.

Kemudian muncul pikiran, “Kalau penghasilanku sudah naik, seharusnya aku juga bisa seperti mereka.” Padahal, kita tidak pernah mengetahui kondisi keuangan orang lain yang sebenarnya hanya dari apa yang terlihat di media sosial.

Gaji Naik, Kok Tetap Merasa Kurang?

Ironisnya, lifestyle inflation membuat seseorang tetap merasa kekurangan meski penghasilannya meningkat. Penghasilan yang bertambah juga membuat standar pengeluaran ikut naik karena kebutuhan dan keinginan berkembang.

Akhirnya, berapa pun angka pendapatan terus bertambah, rasa “cukup” tidak pernah datang. Menurut saya, ini bukan semata-mata masalah jumlah uang, tapi juga tentang kemampuan menentukan batas antara kebutuhan, kenyamanan, dan keinginan.

Tidak Salah Menikmati Hasil Kerja, Tapi...

Melawan lifestyle inflation bukan berarti kita harus hidup terlalu hemat atau menolak menikmati hasil kerja keras. Kalau pendapatan meningkat, tentu wajar ingin makan lebih enak, membeli barang yang lebih berkualitas, atau sesekali pergi berlibur.

Yang penting adalah memiliki keseimbangan. Kenaikan penghasilan idealnya tidak hanya menaikkan kualitas gaya hidup, tapi juga meningkatkan keamanan finansial. Misalnya, dengan mengalokasikan pos tabungan, dana darurat, pendidikan, atau tujuan finansial jangka panjang.

Tidak masalah menikmati hasil kerja saat taraf hidup meningkat. Namun, kita juga mengamankan masa depan. Dengan begitu, kita tetap bisa menikmati kehidupan hari ini tanpa mengorbankan kehidupan di masa depan.

Belajar Menentukan Arti “Cukup”

Menurut saya, tantangan terbesar dari lifestyle inflation adalah menemukan arti “cukup”. Kita hidup dalam budaya yang terus mengatakan bahwa lebih banyak selalu lebih baik. Rumah lebih besar. Kendaraan lebih bagus. Barang lebih mahal. Liburan lebih jauh.

Padahal, kebutuhan setiap orang berbeda. Mungkin setelah penghasilan meningkat, kita tidak perlu mengganti seluruh gaya hidup. Bisa jadi cukup meningkatkan beberapa aspek yang memang memberikan manfaat nyata.

Naik gaji seharusnya memberikan lebih banyak pilihan, bukan lebih banyak kewajiban. Justru, semakin besar penghasilan, semakin besar pula kesempatan untuk membangun kehidupan yang diinginkan.

Namun, kita perlu memastikan bahwa kenaikan pendapatan tidak hanya mengubah apa yang bisa kita beli, tapi juga meningkatkan kemampuan kita untuk merasa aman, memiliki pilihan, dan mempersiapkan masa depan.

Sebab, menjadi lebih kaya bukan hanya tentang mampu membeli lebih banyak. Kadang, menjadi lebih kaya berarti tetap merasa cukup meskipun sebenarnya kita mampu membeli lebih banyak.