Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sudah ada sejak lama dan sering kali terjadi di Indonesia setiap musim kemarau tiba. Kalimantan dan Sumatra menjadi wilayah yang rawan terdampak karena memiliki ekosistem hutan hujan tropis yang lebat.
Selain musim kemarau atau gelombang dahsyat El Nino menjadi salah satu faktor penyebab, ancaman karhutla justru sebesar 99 persen disebabkan oleh manusia serakah yang tidak berperikemanusiaan. Dari adanya pembukaan lahan, kelalaian, dan motif ekonomi, baik secara unsur sengaja maupun tidak tentu sudah jelas saat ini kita perlu mempertanyakan hati nurani sebagai manusia.
Insan yang paling mulia dan sempurna di mata Tuhan, tetapi justru meracuni keberlangsungan habitat sesama makhluk hidup. Pada dasarnya, kita memang meyakini bahwa musim kemarau menjadi salah satu ancaman yang memperparah karhutla, terlebih lagi ranting, rumput, dan gambut adalah pemicu bahan bakar bagi api.
Namun, dalam kondisi seperti ini kita tidak bisa sepenuhnya dengan serta-merta menyalahkan cuaca maupun musim. Oleh sebab itu, karhutla yang terjadi di Kalimantan, Sumatra, dan beberapa wilayah lainnya perlu menjadi catatan penting bagi pemerintah untuk dapat mengatasi secara langsung serta menindak tegas pelaku.
Selain kita perlu menyerukan penyelesaian masalah hubungan kausalitas termasuk pencegahan karhutla, pembahasan selanjutnya tentu tidak luput dari berbagai satwa yang tinggal di hutan. Satwa menjadikan lokasi tersebut sebagai tempat tinggal karena mudah mendapat makanan, merasa aman untuk melindungi diri, dan lain sebagainya.
Sayangnya, sarang yang telah dibuat bisa saja dilalap habis kapan pun dan di mana pun oleh si jago merah tanpa perlu menunggu waktu—yang hasilnya keberadaan satwa dan habitat pastinya ikut terancam—sehingga mereka pada detik itu juga harus mencari rumah baru dengan rasa dilema dan kekhawatiran.
Sebagai contoh, pernahkah Anda mendengar gajah masuk ke pemukiman warga? Apakah satwa tersebut lupa mengingat jalan pulang ke habitatnya? Tentu saja tidak. Hal ini terjadi karena habitat dan jalur jelajah yang biasa dilalui makin menyempit akibat alih fungsi lahan.
Gajah yang melewati pemukiman warga bukan berarti sedang mencari mangsa, melainkan menjadi sebuah pertanda bahwa gajah telah kehilangan tempat tinggal. Begitu pula dengan kondisi yang terjadi pada satwa lainnya, seperti harimau, orang utan, dan lain-lain. Inilah ironi terbesarnya saat manusia hanya selalu ingin mencari keuntungan tanpa berpikir panjang.
Mungkin manusia serakah itu mengira bahwa setiap satwa yang tinggal di hutan belantara tidak menguntungkan bagi manusia dari segala aspek, padahal dengan adanya satwa di sana justru sangat penting untuk menjaga keseimbangan alam dan kelangsungan hidup kita.
Peran satwa itu sendiri yaitu menyebarkan benih tanaman, mengendalikan hama, menyuburkan tanah, dan menjaga sumber air. Kontribusi itu semua dilakukan tanpa mengharap balas budi—tidak semua manusia memberi makan dan minum, apalagi membantu kehidupan satwa di dalam sana—tapi kita hanya bisa merusak alam, menghancurkan ekosistem, dan mengusir satwa dari habitatnya.
Karhutla bukanlah peristiwa asing yang terjadi di negara kita. Akan tetapi, di balik pengulangan bencana ini yang seolah menjadi rutinitas tahunan, ada kenyataan pahit yang harus segera diakhiri. Karhutla bukan sekadar musibah alam, melainkan cermin krisis moral dan kegagalan pengelolaan lingkungan kita.
Membiarkan hutan terus terbakar sama saja dengan membiarkan masa depan bangsa ini tenggelam dalam asap dan kehancuran ekologis. Hutan beserta seluruh satwa di dalamnya bukanlah objek pemuas ketamakan manusia. Mengabaikan keberadaan mereka semua demi keuntungan sesaat hanya akan memicu bencana sosial dan lingkungan yang jauh lebih besar di masa depan.
Sudah saatnya pemerintah, industri, dan elemen masyarakat bertindak nyata—bukan lagi menanti kabut asap tebal menyelimuti ruang napas kita baru bergerak meratapinya.
Baca Juga
-
Pecah! Gelar Pertunjukan HIVI! Tutup MOKAKU UPI 2026 di Bumi Siliwangi
-
Di Balik Buku Presiden Solusi: Bukti Kinerja Nyata atau Propaganda Istana?
-
Sukses Tanpa Gelar: Bahaya Romantisasi Kemiskinan di Balik Mahalnya UKT
-
Jangan Tunggu Nanti, Ini Trik Jitu Mengatur Waktu Belajar US, TKA, dan UTBK Sejak Dini
-
Epik! Kolaborasi Yura Yunita, Feby Putri, dan Idgitaf Tembus 3 Besar Tren Musik YouTube
Artikel Terkait
-
336 Karhutla Melanda Palangka Raya, Jekan Raya Jadi Wilayah Terparah
-
336 Karhutla Terjadi di Palangka Raya! 428,46 Hektare Lahan Ludes Selama 3 Bulan
-
Walhi Soroti Karhutla Papua Makin Meluas di Tengah Proyek Pangan 2,5 Juta Hektare
-
Walhi Sebut Karhutla di Papua Makin Masif, Banyak Titik Api Berada di Konsesi Food Estate
-
Polisi Tangkap 3 Orang Diduga Pelaku Karhutla di Areal PT MHP OKU Timur
Kolom
-
Gaji Naik Secepat Siput, Harga Rumah Melesat bak Roket Luar Angkasa
-
Nasib Karier Working Mom: Mengapa Dunia Kerja Belum Beri Ruang yang Setara?
-
Pasar Modern dan Pasar Tradisional, Mana yang Lebih Guyub?
-
'Nanti Ada Rezekinya Lagi': Mantra Andalan Gen Z saat Uang Telanjur Keluar
-
Kehidupan Setelah Wisuda, Mengapa Dunia Tiba-Tiba Terasa Sepi?
Terkini
-
Bingung Urutan Nonton Insidious? Ini Timeline Lengkap dari Awal hingga Out of the Further
-
White House Secrets: Membongkar Rahasia Kesehatan Para Presiden Amerika
-
Jelang MotoGP Aragon: Sederet Rider Ini Masih Berburu Kemenangan Pertama
-
Meriahnya Jakal Bookshop Fest: Rute Seru Bookshop Hopping Seharian!
-
Belajar Batas Diri dan Empati dari Petualangan Seru Truk Derek Toad