Hayuning Ratri Hapsari | e. kusuma .n
Ilustrasi mengelola keuangan (Pexels/Yan Krukau)
e. kusuma .n

Belakangan Gen Z mulai mengenal mindful spending sebagai cara mengelola keuangan dengan lebih sadar dan bijak. Di tengah tren paylater dan belanja impulsif, apakah kebiasaan finansial mulai berubah?

Tidak dimungkiri kalau kebiasaan belanja Gen Z semakin dimudahkan. Tinggal buka aplikasi, pilih barang, masukkan alamat, lalu bayar. Jika saldo belum cukup, tersedia pilihan pembayaran paylater masuk dalam ekosistem belanja digital.

Di tengah kemudahan tersebut, mulai muncul kesadaran lain di mana Gen Z mulai berpikir kalau tidak semua yang bisa dibeli harus dibeli. Konsep ini sejalan dengan tren mindful spending: membelanjakan uang secara sadar.

Bukan berarti seseorang harus berhenti menikmati uangnya, melainkan lebih mempertimbangkan apakah sebuah pengeluaran memang sesuai kebutuhan, kemampuan, dan tujuan finansial.

Bisa dibilang, perubahan ini menunjukkan kalau Gen Z mulai melihat kemampuan finansial bukan hanya soal cara mendapatkan uang, tapi juga bagaimana menggunakan uang tersebut dengan lebih sadar.

Paylater Memberi Kemudahan Meski Tetap Perlu Perhitungan

Tidak bisa dimungkiri, paylater menawarkan kemudahan. Seseorang bisa membeli barang saat belum memiliki dana penuh dan membayarnya sesuai mekanisme yang berlaku. Dalam situasi tertentu, layanan seperti ini memang terasa praktis.

Namun, kemudahan ini juga bisa membuat batas antara kebutuhan dan keinginan menjadi semakin tipis. Barang yang sebenarnya belum perlu dibeli bisa terasa lebih mudah dijangkau karena pembayaran tidak dilakukan sekaligus.

Masalahnya, transaksi tersebut tetap merupakan kewajiban finansial. Karena itu, persoalannya bukan sekadar “paylater itu buruk atau baik”, melainkan apakah seseorang memahami konsekuensi dari setiap transaksi yang dilakukan.

Mindful Spending: Mengajak Berhenti Sebelum Checkout

Di sinilah konsep mindful spending menjadi menarik. Sebelum membeli sesuatu, kita diajak berhenti sejenak dan bertanya: “Apakah saya benar-benar membutuhkan barang ini?”

Kemudian pertanyaan bisa dilanjutkan dengan, “Apakah saya mampu membayarnya?” dan “Apakah pembelian ini sesuai dengan tujuan keuangan saya?” Pertanyaan tersebut akan memberikan jarak antara dorongan dan keputusan transaksi.

Bukan berarti semua keinginan harus ditolak. Kalau memang ingin membeli sesuatu dan anggarannya tersedia, tentu boleh saja. Mindful spending bukan tentang hidup serba pelit, melainkan lebih sadar dan bijak.

Dari “Murah” Menjadi “Benar-benar Dibutuhkan”

Salah satu perubahan menarik dalam pola konsumsi adalah cara melihat harga. Dulu, diskon besar bisa menjadi alasan kuat untuk checkout. Sekarang, kita mulai berpikir lebih panjang: murah bukan berarti harus dibeli.

Barang seharga Rp50 ribu tetap menjadi pengeluaran. Bahkan, barang yang dibeli berkali-kali karena tergoda promo bisa menghasilkan total pengeluaran yang jauh lebih besar dibanding satu barang berkualitas yang memang dibutuhkan.

Media Sosial dan FOMO Mulai Dipertanyakan

Tantangan terbesar bagi kebiasaan belanja bijak mungkin justru datang dari media sosial. Setiap hari ada tren baru, rekomendasi produk, haul, unboxing, dan konten “racun” yang membuat satu barang terlihat wajib dimiliki.

Gen Z kemudian dihadapkan pada pertanyaan: apakah saya membeli karena memang suka atau karena takut ketinggalan? FOMO pun bisa membuat keputusan konsumsi menjadi kurang rasional.

Di sinilah peran mindful spending yang membuat kita berani mengatakan, “Tidak harus punya sekarang”. Tren akan berganti dan barang yang viral hari ini belum tentu masih menarik beberapa bulan kemudian.

Apakah Gen Z Benar-benar Mulai Lebih Bijak?

Memang belum semua Gen Z sudah meninggalkan kebiasaan konsumtif. Kita tidak bisa menjamin bahwa satu generasi telah sepenuhnya berubah hanya karena istilah mindful spending semakin populer.

Namun, setidaknya sudah ada perubahan. Anak muda semakin terbuka membahas anggaran, tabungan, dana darurat, investasi, hingga pentingnya membedakan kebutuhan dan keinginan. Bagi saya, kesadaran ini sudah merupakan langkah positif.

Sebab, mengelola keuangan bukan tentang langsung menjadi sempurna. Kita semua tetap bisa tergoda membeli sesuatu yang sebenarnya tidak direncanakan. Yang penting adalah belajar dari keputusan tersebut.

Bukan Berarti Berhenti Menikmati Hidup

Menurut saya, mindful spending bukan berarti kebalikan dari gaya hidup menyenangkan. Justru, konsep ini mengajarkan kita untuk menggunakan uang pada hal-hal yang memang memberikan nilai bagi kehidupan.

Kita boleh membeli barang. Boleh makan di restoran. Boleh bepergian. Bahkan boleh sesekali melakukan pembelian impulsif selama tidak mengganggu kebutuhan dan kondisi keuangan.

Yang perlu diubah adalah kesadaran di balik setiap transaksi. Dari “bisa bayar nanti” menjadi “apakah saya memang perlu membeli?” Dari “lagi diskon” menjadi “apakah barang ini memang saya butuhkan?” Dan dari “semua orang punya” menjadi “apakah ini sesuai dengan kehidupan saya?”

Mungkin, inilah bentuk kedewasaan finansial yang sedang dipelajari Gen Z sambil tetap menikmati hidup. Bukan tentang memiliki uang sebanyak-banyaknya, tapi mampu menentukan ke mana uang tersebut sebaiknya pergi.