Kita sering mendengar bahwa anggaran negara terbatas untuk membiayai berbagai kebutuhan publik. Oleh karena itu, pemerintah harus menentukan mana yang perlu didahulukan dan mana yang masih bisa menunggu.
Namun, melihat bagaimana pemerintah mengalokasikan anggaran untuk program tertentu, saya tidak bisa begitu saja percaya bahwa masalahnya sesederhana tidak ada uang. Apalagi sejak ada Makan Bergizi Gratis (MBG), pemerintah menunjukkan bahwa anggaran ratusan triliun rupiah bisa disiapkan untuk sebuah program yang ditetapkan sebagai prioritas.
Mengutip dari laman resmi Badan Gizi Nasional, APBN memberikan kucuran dana kepada lembaga tersebut sebesar Rp268 triliun, yang 93% dari total alokasi tersebut ditujukan untuk program MBG.
Angka sebesar itu memperlihatkan bahwa ketika sebuah program sudah ditetapkan sebagai prioritas, negara ternyata punya kapasitas untuk mengerahkan sumber daya dalam skala yang sangat besar.
Lantas, kalau anggaran sebesar itu bisa dialokasikan untuk satu program, mengapa kebutuhan publik lainnya masih harus berhadapan dengan keterbatasan anggaran?
Triliunan Rupiah yang Jadi Bahan Bercanda
Ada fenomena menarik di media sosial sejak MBG menjadi program besar pemerintah. Orang-orang mulai menggunakan MBG sebagai satuan ukur baru. Bukan kilogram, bukan meter, bukan juga dolar. Angka-angka besar yang biasanya sulit dicerna mulai dikonversi menjadi: berapa hari MBG?
Kekayaan seseorang sekian triliun? Hitung saja setara berapa hari MBG. Biaya sebuah proyek sekian triliun? Tinggal dibagi dengan anggaran MBG harian. Bahkan hal-hal yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan makanan bergizi ikut ditarik ke kalkulator yang sama.
Sekilas memang terdengar seperti postingan asbun netizen yang biasa kita lihat di media sosial. Tapi menurut saya, ada sesuatu yang cukup serius di balik lelucon tersebut.
Masyarakat sedang mencari cara untuk memahami seberapa besar uang yang sedang dibelanjakan negara. Angka ratusan triliun yang muncul di APBN terlalu abstrak untuk dibayangkan. Setelah diubah menjadi “hari MBG”, mendadak angka itu terasa lebih nyata.
Guru Minta Naik Gaji, Anggaran Katanya Harus Dikaji
Di luar anggaran MBG yang setiap hari terus berputar, ada kebutuhan publik yang sudah lama dibicarakan tetapi perkembangannya tidak selalu secepat pertumbuhan program baru. Salah satunya kesejahteraan guru.
Guru diminta mendidik generasi masa depan, tetapi urusan kesejahteraan mereka cenderung diabaikan dengan segala macam istilah yang intinya meminta mereka menunggu. Guru lagi-lagi harus bersabar karena negara punya banyak kebutuhan.
Begitu pula tenaga kesehatan dan dosen. Kita bisa dengan mudah mengatakan bahwa pendidikan dan kesehatan adalah investasi jangka panjang. Tetapi begitu membahas tentang kesejahteraan orang-orang yang menjalankan sektor-sektor tersebut, tiba-tiba kalkulator negara menjadi sangat sensitif.
Negara Mau Hemat, Tapi Jangan Salah Pilih
Kalau pemerintah ingin meningkatkan kualitas SDM, makanan bergizi tentu penting. Tetapi anak yang gizinya tercukupi juga membutuhkan guru yang sejahtera untuk mendidiknya.
Ia membutuhkan sekolah yang layak, layanan kesehatan yang bisa diakses, serta lingkungan yang aman dan transportasi yang memungkinkan keluarganya beraktivitas dengan biaya masuk akal.
Begitu juga pembangunan. Kalau negara punya ambisi membangun Indonesia sampai ke pelosok daerah, rasanya agak aneh kalau transportasi publik masih menjadi kemewahan bagi banyak daerah.
Oleh karena itu, kritik terhadap MBG seharusnya diarahkan pada cara negara menentukan prioritas dan memastikan setiap rupiah benar-benar menghasilkan manfaat. Sebab setelah melihat anggaran MBG, rasanya wajar jika saya tidak percaya bahwa negara tidak punya uang. Negara punya uang. Soal prioritas, itu cerita lain.
Baca Juga
-
Move to Heaven: Setiap Barang Punya Cerita, bahkan setelah Pemiliknya Tiada
-
Salah Jurusan Bukan Dosa: Menggugat Stigma pada Pilihan di Usia Muda
-
Negara Ternyata Bisa Gercep: Rekening Sigap Diblokir, Proyek Kilat Dikebut
-
Gagasan Ubi Bombing Atasi Karhutla: Inovasi atau Salah Prioritas?
-
Ulasan Doom at Your Service: Romansa Fantasi tentang Upaya Menentang Takdir
Artikel Terkait
-
Di Hadapan Ekonom, Purbaya Pastikan Tak Ada Kenaikan Tarif Pajak Tahun Depan
-
'Merebut Kembali Indonesia!' GERAM Ikut Melebur Bersama Warga Pati Geruduk DPR Besok
-
Sebelum Siswa Makan MBG, Guru Kini Wajib Cicipi Terlebih Dahulu dan Bakal Digaji
-
Viral Miss Norwegia Keturunan Padang Jadi Guru dan Berpose Depan Ompreng MBG
-
Purbaya Umumkan APBN Jawa Barat Surplus Rp 22,02 Triliun
Kolom
-
Kawal RUU Perampasan Aset: Waspada Provokator, Semangat Warga Jaga Warga
-
Cancel Culture di Indonesia: Kita Pemaaf atau Sekadar Mudah Lupa?
-
Krisis Usia 25: Lepas dari Jebakan Timeline Media Sosial dan Temukan Rute Sendiri
-
Parenting di Era Digital: Ketika Gawai Menjadi Pengasuh Anak
-
Salah Jurusan Bukan Dosa: Menggugat Stigma pada Pilihan di Usia Muda
Terkini
-
Move to Heaven: Setiap Barang Punya Cerita, bahkan setelah Pemiliknya Tiada
-
Hot Wheels Monster Trucks: Glow-n-Fire Siap Mengguncang Jakarta November Ini
-
Millie Fleurs Poison Garden, Taman Beracun yang Berubah Menjadi Indah
-
Bubar pada Agustus 2027, 7 Lagu Ballad SCANDAL yang Wajib Masuk Playlist
-
Ulasan Agito Psychic War: Bukan Sekadar Nostalgia, Ini Pembuktian Keadilan Tanpa Kekuatan Super