Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Rabu (26/8/2026), seharusnya menjadi momen penting untuk menunjukkan kepedulian negara kepada masyarakat yang sedang menghadapi musibah. Di tengah situasi pascagempa, warga membutuhkan perhatian terhadap keselamatan, tempat tinggal, makanan, kesehatan, serta kepastian mengenai kehidupan mereka setelah bencana. Namun, pernyataan Presiden saat bertemu warga justru memunculkan pertanyaan mengenai prioritas pemerintah di lokasi bencana.
Dalam kunjungan tersebut, Prabowo menyampaikan bahwa dirinya memperoleh laporan dari Bupati Nagekeo, Simplisius Donatus, mengenai manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi masyarakat setempat. Setelah itu, Presiden bertanya kepada warga apakah program tersebut ingin diteruskan atau tidak. Sekilas, pertanyaan tersebut mungkin dapat dianggap sebagai upaya mendengar langsung pendapat masyarakat. Namun, bagi publik, persoalannya bukan hanya mengenai apa yang ditanyakan, melainkan mengapa pertanyaan itu muncul ketika Presiden sedang berada di tengah korban gempa.
Dear Pak Presiden, ada banyak hal yang jauh lebih mendesak untuk ditanyakan kepada masyarakat yang baru saja mengalami bencana. Apakah mereka masih memiliki rumah yang dapat ditempati? Apakah kebutuhan makanan dan air bersih tercukupi? Bagaimana kondisi anak-anak dan lansia di pengungsian? Apakah mereka mendapatkan bantuan medis yang memadai? Bagaimana pemerintah memastikan keamanan mereka jika terjadi gempa susulan? Pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang seharusnya menjadi pusat perhatian seorang pemimpin ketika mengunjungi wilayah terdampak bencana.
Bukan berarti MBG merupakan program yang tidak penting. Pemenuhan gizi masyarakat, terutama anak-anak, tentu memiliki nilai strategis. Bahkan dalam kondisi bencana, makanan bergizi dapat menjadi bagian dari bantuan yang dibutuhkan pengungsi. Namun, persoalannya adalah skala prioritas dan sensitivitas terhadap keadaan.
Ketika seseorang sedang kehilangan rumah, mengkhawatirkan keluarganya, atau tidur di tempat pengungsian karena takut kembali ke rumah, pembicaraan tentang keberlanjutan program pemerintah dapat terdengar tidak peka. Masyarakat tentu dapat memberikan jawaban mengenai MBG, tetapi bukan berarti pertanyaan tersebut merupakan hal paling penting yang ingin mereka sampaikan kepada Presiden.
Seorang pemimpin seharusnya datang ke lokasi bencana dengan telinga yang lebih banyak digunakan untuk mendengar daripada mulut yang sibuk mempromosikan kebijakan. Kehadiran Presiden semestinya memberikan rasa aman kepada korban. Mereka perlu merasakan bahwa negara datang untuk memahami kesulitan mereka, bukan sekadar memastikan bahwa program pemerintah tetap mendapatkan dukungan.
Kesan tidak adanya empati semakin kuat apabila pertemuan dengan korban bencana justru digunakan untuk menyoroti keberhasilan salah satu program unggulan pemerintah. Dalam kondisi seperti ini, publik dapat melihatnya sebagai bentuk ketidakmampuan membedakan antara agenda pemerintahan dan kebutuhan kemanusiaan. Program pemerintah dapat dievaluasi di ruang rapat, melalui survei, laporan pelaksana, atau forum khusus. Korban bencana tidak seharusnya menjadi tempat utama untuk mencari pembenaran atas sebuah program.
Jika memang warga Nagekeo merasakan manfaat MBG, tentu hal tersebut merupakan informasi yang baik. Namun, kabar itu seharusnya menjadi catatan tambahan, bukan fokus utama dalam kunjungan ke daerah yang baru mengalami bencana. Ada begitu banyak persoalan yang membutuhkan perhatian langsung Presiden.
Pada akhirnya, empati seorang pemimpin tidak hanya terlihat dari keputusan besar yang dibuatnya, tetapi juga dari kemampuannya memahami suasana ketika berada di tengah masyarakat. Di lokasi bencana, satu pertanyaan yang tepat dapat membuat warga merasa didengar. Sebaliknya, pertanyaan yang salah pada waktu yang salah dapat menciptakan kesan bahwa penderitaan mereka bukanlah prioritas.
Dear Pak Presiden, warga NTT tidak sedang menunggu seseorang untuk bertanya apakah mereka ingin MBG dilanjutkan. Mereka sedang menunggu negara memastikan bahwa mereka aman, kebutuhan mereka terpenuhi, dan kehidupan mereka dapat kembali berjalan. Di tengah bencana, yang paling dibutuhkan bukan promosi program, melainkan empati dan tindakan nyata.
Baca Juga
-
Karhutla Jadi Sorotan Dunia, Mengapa Respons Pemerintah Masih Santai?
-
Kontradiksi Gaya Komunikasi Prabowo: Singa Domestik, Kucing Imut di Panggung Internasional?
-
Habis Rp100 Ribuan, Puas Gak Ya Makan Kimchi Karubi Nikudon di Kimukatsu? Ini Pengalaman Aslinya!
-
Jatuh Cinta Seperti di Film-Film: Ketika Cinta Nyata Tak Selalu Seindah Skenario
-
Ulasan Novel Sang Pemanah: Menemukan Makna Hidup dari Sebuah Anak Panah
Artikel Terkait
-
Gibran Percaya Pilihan Prabowo, Suahasil Bisa Bikin APBN Lebih Sehat
-
Momen Suahasil Nazara Sapa Karyawan Kemenkeu Usai Jadi Menteri
-
Purbaya Dicopot Prabowo, Pramono Siap Gandeng Menkeu Baru demi Kelancaran Fiskal Jakarta
-
Korban Keracunan MBG Sudah 53 Ribu, DPR Desak Polisi Usut Tanpa Tunggu Laporan
-
Prabowo Lantik Suahasil Nazara jadi Menteri Keuangan
Kolom
-
Jalan Teknokratis Suahasil Nazara Menuju Kursi Menteri Keuangan
-
Karhutla Jadi Sorotan Dunia, Mengapa Respons Pemerintah Masih Santai?
-
Membaca, Memahami, dan Merefleksi: Seni Menjaga Fokus di Tengah Serbuan Gawai
-
BGN Siapkan Sistem Marketplace MBG: Kejar Pengadaan, Keracunan Terabaikan?
-
Karnaval Pekalongan Jadi Sorotan, Budaya berkedok Ritual di Ruang Publik?
Terkini
-
Sinopsis Mame to Mugi, Drama Jepang Dibintangi Saito Asuka dan Tomita Miu
-
Hempas Kusam dan Noda Gelap! Ini 4 Sabun Muka Korea Kandungan Brightening
-
Manga Gachiakuta Kembali Hiatus Tanpa Jadwal Kembali, Fans Harus Menunggu
-
Tinggalkan Gawai Sejenak, Nikmati Akhir Pekan yang Tenang Bersama The Write and Wonder Club
-
Menangkis Label Generasi Sial, Gen Z Impact Fest Bedah Ketahanan Finansial