Pernah merasa hidup sedang pas-pasan, tetapi ketika mengecek data bansos ternyata posisi ekonomi keluarga justru dianggap sejahtera? Atau sebaliknya, melihat seseorang yang tampak berkecukupan tetapi masih menerimanya? Rasa-rasanya dunia semakin tidak adil saja.
Kalau pernah bertanya-tanya soal itu, kita perlu berhenti menganggap angka desil sebagai semacam rapor kemiskinan pasti. Desil bukan label “miskin” atau “kaya”, apalagi nasib yang sudah dipatok permanen. Ia adalah cara statistik untuk menempatkan keluarga berdasarkan tingkat kesejahteraan relatifnya.
Badan Pusat Statistik (BPS), melalui rilis resminya yang diterbitkan pada 22 Agustus 2026, menjelaskan bahwa desil dibentuk dengan mempertimbangkan berbagai karakteristik sosial ekonomi secara bersama-sama. Data tersebut mencakup kondisi perumahan, kepemilikan aset, pendidikan, pekerjaan, kesehatan, hingga karakteristik keluarga.
Jadi, jangan dulu membayangkan desil sebagai kalkulator sederhana, seperti pendapatan gaji sekian, rumah sekian, lalu otomatis masuk dalam standar desil sekian. Sistem tersebut menggunakan pendekatan statistik untuk membuat pemeringkatan kesejahteraan relatif. Bahkan perubahan satu indikator saja tidak otomatis membuat posisi desil berubah karena berbagai karakteristik dihitung secara bersamaan.
Masalahnya, kehidupan manusia tidak pernah sesederhana spreadsheet. Seseorang bisa kehilangan pekerjaan dalam beberapa bulan. Anggota keluarga bisa sakit. Anak bisa masuk perguruan tinggi. Penghasilan usaha bisa jatuh. Sebaliknya, kondisi ekonomi keluarga juga bisa membaik. Persoalannya, apakah perubahan tersebut tercatat secara real time dalam data negara? Tentu saja hal ini menjadi perhatian.
Kasus Pak Timbul dari Kulon Progo menjadi contoh yang menarik. Dalam rilis resmi pada 30 Agustus 2026, BPS menjelaskan bahwa posisi desil Pak Timbul sempat tercatat berubah dari desil 1 menjadi desil 9. Setelah dilakukan pengecekan lapangan dan pemutakhiran data, posisi tersebut kemudian berubah menjadi desil 3 karena data sebelumnya belum menggambarkan kondisi terkini.
Yang menarik, BPS juga menyebut Pak Timbul sebelumnya belum pernah melakukan pemutakhiran data secara mandiri. Setelah didampingi BPS Provinsi DI Yogyakarta dan BPS Kabupaten Kulon Progo, ia melakukan pembaruan melalui kanal Cek DTSEN. Hasilnya, data yang lebih baru kemudian diproses dan posisi desilnya berubah menjadi desil 3.
Di sinilah kita menemukan persoalan sebenarnya. Data kemiskinan bukan cermin yang sekali dipasang lalu selesai. Ia lebih mirip foto yang harus terus diperbarui. Kalau orangnya berubah tetapi fotonya tetap memakai wajah lima tahun lalu, tentu ada yang janggal.
Skalanya pun tidak kecil. BPS mencatat DTSEN Versi 3 Tahun 2026 mencakup 290,13 juta individu atau 95,98 juta keluarga per 10 Juli 2026. Data sebesar itu tentu tidak mungkin hanya mengandalkan satu kali pendataan. BPS menyebut pemutakhiran dilakukan melalui data administrasi, sensus dan survei, kementerian/lembaga, pemerintah daerah, pengecekan lapangan, hingga informasi dari masyarakat.
Karena itu, persoalan bansos sebenarnya bukan hanya tentang “inclusion error”, ketika orang yang tidak seharusnya menerima bantuan justru masuk, tetapi juga “exclusion error”, ketika orang yang berhak justru tertinggal.
Kementerian Sosial sudah lama mengakui dua persoalan tersebut. Dalam rilis 20 Agustus 2021, Kemensos menjelaskan bahwa fitur “Usul” dan “Sanggah” pada Cek Bansos dibuat agar masyarakat dapat membantu memperbaiki data. Masyarakat yang merasa layak tetapi belum memperoleh bantuan dapat mengusulkan diri, sementara masyarakat juga dapat menyampaikan informasi apabila menemukan penerima yang dinilai tidak layak.
Mekanisme itu masih relevan dalam sistem DTSEN sekarang. BPS pada 22 Agustus 2026 menjelaskan bahwa masyarakat yang menemukan ketidaksesuaian data dapat mengajukan pembaruan melalui Cek Bansos, SIKS-NG melalui operator desa atau kelurahan, maupun Cek DTSEN. Namun, mengajukan pembaruan bukan berarti desil otomatis berubah. Data tersebut tetap harus diproses dan dihitung kembali berdasarkan metode yang berlaku.
Jadi, kalau posisi desilmu tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya, jangan langsung menyimpulkan bahwa nasibmu sudah ditentukan secara baku pada sistem tersebut selamanya. Tetapi jangan pula pasif menunggu negara mengetahuinya sendiri. Periksa datanya. Ajukan pembaruan. Sertakan informasi yang benar. Gunakan kanal resmi yang tersedia.
Sebab rahasia bansos tepat sasaran sebenarnya bukan sekadar menemukan siapa yang berada di desil 1, 2, 3, atau 4. Yang jauh lebih penting adalah memastikan bahwa angka tersebut masih punya hubungan dengan kehidupan manusia yang sedang diwakilinya. Desil adalah data. Bukan takdir.
Baca Juga
-
Dari De Britto, Urban Social Forum 12 Bayangkan Kota Ramah dan Manusiawi
-
Jogja dan Mitos Slow Living: Ketika Kota Santai Harus Tegang Mengejar Hidup
-
Dari Pracimantoro hingga Papua Membongkar Mitos Pembangunan Jawa-Sentris
-
Ulasan Buku Senjata Kaum Lemah: Ketika Melawan Tak Harus Berteriak
-
Nggak Lagi Ragu Ganti Provider, Saatnya Beralih ke XL yang Terbukti Juara
Artikel Terkait
-
BPS Jawab Pertanyaan soal Perubahan Desil: Untuk Hindari Prasangka
-
Masyarakat Bisa Protes Jika Data Desil Tak Sesuai, Begini Caranya
-
Polemik Desil Memanas, Pemerintah Siapkan Tim Khusus Agar Tak Ada Lagi Salah Data
-
Metodologi BPS Jadul, DPR Minta Data Desil Bansos Dievaluasi!
-
Karhutla Melanda, Kemensos Pastikan Kesehatan Siswa Sekolah Rakyat Terlindungi
Kolom
-
Paru-Paru Dunia dalam Kepungan Asap: Hak Bernapas di Tengah Krisis Karhutla
-
Jogja dan Mitos Slow Living: Ketika Kota Santai Harus Tegang Mengejar Hidup
-
Tren Ganti Provider Makin Ramai, XL Ikut Jadi Sorotan Warganet!
-
Setia pada Provider Lama Nyaman, tapi Mengapa XL Kembali Menarik Perhatian?
-
Kenapa Notifikasi HP Sering Bikin Gelisah? Ini Sisi Gelap FOMO yang Jarang Diungkap
Terkini
-
Jangan Sembarangan Menginjak Kecoak! Bakterinya Bisa Menyebar di Lantai
-
4 Cleansing Oil Sunflower Seed Hapus Makeup Waterproof hingga Pori Terdalam
-
Dari De Britto, Urban Social Forum 12 Bayangkan Kota Ramah dan Manusiawi
-
5 Rekomendasi Buku Klasik Anak untuk Bacaan si Kecil, Siap Eksplor!
-
'Seni Merayu Tuhan': Ketika Tobat Datang Bukan Karena Alim, Tapi Karena Hancur Kehilangan