Bagaimana jika kota yang kita tinggali di samping ia menjadi tempat untuk beraktivitas, ia juga bisa menjadi ruang bagi warga untuk bertemu, berbicara, dan membayangkan kehidupan yang lebih baik?
Pertanyaan tersebut menjadi bagian dari semangat Urban Social Forum (USF) ke-12 yang untuk pertama kalinya digelar di Yogyakarta. Forum tahunan yang diinisiasi Yayasan Kota Kita sejak 2013 ini mengusung gagasan “Another City is Possible” atau “Ada Kota Lain yang Mungkin Diwujudkan”.
Urban Social Forum ke-12 berlangsung di SMA Kolese de Britto, Yogyakarta, pada Sabtu (29/8/2026). Forum tersebut menghadirkan berbagai ruang diskusi, lokakarya, aktivasi, dan pertemuan komunitas yang membicarakan persoalan perkotaan dari beragam perspektif.
Dalam siaran pers Urban Social Forum 12 yang dipublikasikan pada Sabtu (29/8/2026), forum ini disebut sebagai ruang terbuka dan inklusif bagi warga untuk bertukar gagasan, pengalaman, pengetahuan, sekaligus membangun jejaring antar-komunitas.
Tahun ini, USF melibatkan lebih dari 45 komunitas, organisasi, dan institusi dari berbagai kota di Indonesia. Rangkaian acaranya terdiri atas 17 panel diskusi, enam lokakarya, tujuh aktivasi liminal, serta 19 booth komunitas dengan lebih dari 67 narasumber dari kalangan akademisi, aktivis, mahasiswa, dan pemerintah.
Bagi Urban Social Forum, membicarakan kota berarti membicarakan kehidupan sehari-hari warga. Persoalan sampah, transportasi, ruang publik, lingkungan, hunian, hingga partisipasi masyarakat dapat saling berkaitan dan membentuk pengalaman seseorang dalam menjalani kehidupan perkotaan.
Sekretariat Urban Social Forum, Ulfia (Fia), mengatakan bahwa forum tersebut sejak awal dirancang sebagai ruang bagi warga kota untuk bertemu, berjejaring, berdiskusi, dan saling berbagi pikiran.
“Another City is Possible” kemudian menjadi semangat yang terus dibawa dari tahun ke tahun. Menurut Fia, warga diajak membayangkan kota seperti apa yang ingin mereka tinggali, baik sekarang maupun pada masa mendatang. Dari bayangan tersebut, warga dapat melihat bagian kota mana yang perlu diperbaiki serta menentukan peran yang dapat mereka ambil.
Yogyakarta dipilih sebagai lokasi USF ke-12 bukan tanpa alasan. Dalam wawancara terpisah dengan Yoursay.id pada Sabtu (29/8/2026), Fia menjelaskan bahwa Yogyakarta memiliki karakter gerakan komunitas yang kuat dan telah lama menjadi salah satu poros gerakan komunitas di Indonesia.
Sebelum penyelenggaraan, pihak USF juga berdialog dengan berbagai komunitas lokal melalui proses yang mereka sebut sebagai "belanja masalah" atau "belanja isu". Masukan tersebut kemudian digunakan untuk merumuskan agenda yang dianggap dekat dengan keresahan masyarakat Yogyakarta.
Menariknya, forum yang berbicara mengenai ruang warga tersebut justru berlangsung di lingkungan sekolah.
Fia menjelaskan, pemilihan SMA Kolese de Britto berkaitan dengan semakin terbatasnya ketersediaan ruang publik yang dianggap representatif. Karena itu, USF mulai mengeksplorasi ruang alternatif yang aman, nyaman, dan dekat dengan kehidupan warga, termasuk sekolah.
Menurut Fia, sekolah memiliki kedekatan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat karena hampir setiap orang pernah mengalami kehidupan sebagai pelajar. Penggunaan ruang sekolah juga bukan pengalaman pertama bagi USF. Sebelumnya, mereka pernah bekerja sama dengan sekolah di Solo untuk menghadirkan ruang diskusi warga.
SMA Kolese de Britto kemudian dipilih karena pihak sekolah menyambut baik penyelenggaraan USF. Selain itu, Fia melihat adanya kesamaan nilai antara USF dan de Britto, terutama dalam pendidikan karakter serta kepedulian terhadap lingkungan dan ekologi.
“Kami juga melihat sekolah sebagai wadah penting untuk mencetak calon-calon pemimpin masa depan kota yang akan memegang peran krusial dalam pembangunan,” ujar Fia dalam wawancara tersebut.
Melalui penyelenggaraan di SMA Kolese de Britto, USF menunjukkan bahwa ruang untuk membicarakan masa depan kota tidak harus selalu berlangsung di gedung pemerintahan atau ruang publik konvensional.
Sekolah pun dapat menjadi ruang perjumpaan warga untuk bertukar gagasan, membicarakan keresahan, dan membayangkan kota yang ingin diwujudkan bersama.
Gagasan tersebut sejalan dengan tujuan Urban Social Forum yang sejak awal dibangun sebagai ruang pertemuan masyarakat sipil dari berbagai latar belakang. Dalam siaran pers USF 12, forum ini menekankan pentingnya menemukan persamaan di tengah perbedaan agar warga dapat membangun dasar bersama untuk memperjuangkan masa depan kota yang lebih inklusif, manusiawi, dan lestari.
Baca Juga
-
Mekanisme Reshuffle Kabinet: Hak Prerogatif atau Batas Konstitusi?
-
Menolak Lupa September Hitam: Membedah Rentetan Pelanggaran HAM Indonesia
-
Ulasan Novel Dompet Ayah, Sepatu Ibu: Catatan Perjuangan Karya J.S. Khairen
-
Kontroversi Uan Juicy Luicy: Mengapa Humor Misoginis Tak Boleh Dimaklumi
-
Paranoia Kolonial di Tanah Suci: Membedah Politik Haji Pada Masa Penjajahan
Artikel Terkait
-
Jalur Baru Kelok 23 Bantul Mulai Diuji Coba
-
Karnaval Pekalongan Jadi Sorotan, Budaya berkedok Ritual di Ruang Publik?
-
Vredeburg Game On, Arena Edukasi Anak Panti oleh Loka Bestari
-
Ironi Yogyakarta, Termasuk Provinsi Paling Bahagia Tapi Catat Suicide Tertinggi RI
-
Jalan Sore Pukul Panci, Suara Ibu Indonesia Protes MBG di Jogja
News
-
Bukan Sekadar Belajar Bahasa Inggris, Ini Cerita Dua Ibu Merawat Kewarasan di Tengah Kesibukan
-
Indonesias Horse Racing: 45 Kuda Raih Posisi Podium di IHR Merdeka Cup 2026
-
Kisah Juni Bangun Fun English for Ladies, Bukti Nyata Semangat Women Support Women
-
Mengenal Proyeksi Gall-Peters: Mengungkap Distorsi Geografis di Peta Mercator
-
Generasi Muda Harus Melek Tradisi: Bagaimana Topeng Blantek Tetap Eksis?
Terkini
-
Review Film I Want Your Sex: Saat Batas Antara Seni, Eksploitasi, dan Obsesi Menjadi Kabur
-
Mekanisme Reshuffle Kabinet: Hak Prerogatif atau Batas Konstitusi?
-
4 Isu Sosial dalam Novel Klasik Pride and Prejudice,Tak Hanya Kisah Cinta!
-
Sinopsis Haiwaan, Film Kriminal Dibintangi Saif Ali Khan dan Akshay Kumar
-
Capek Pantau Medsos tapi Susah Berhenti? Kenali yang Namanya Doomscrolling!